Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inovasi Baru, Ilmuwan Bikin Alat untuk Perkirakan Dampak Sosial Kekeringan

Kompas.com, 25 Agustus 2025, 17:13 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kekeringan makin diakui sebagai krisis lingkungan dengan dampak yang luas, mulai dari ketersediaan air, pertanian, ekonomi, kesehatan publik dan juga masyarakat.

Meski beberapa wilayah memiliki sistem pemantauan kekeringan, akan tetapi sebagian besar hanya fokus pada penilaian tingkat keparahan kekeringan menggunakan pengukuran kuantitatif seperti data meteorologi, hidrologi atau kerugian ekonomi.

Sementara itu, sistem pemantauan kekeringan seringkali mengabaikan hal yang paling penting yaitu bagaimana masyarakat dan komunitas terpengaruh.

Kini studi baru yang dipimpin oleh Dong Wang, seorang profesor ilmu informasi di University of Illinois Urbana-Champaign menemukan SIDE (Socially Informed Drought Estimation).

Melansir Phys, Sabtu (23/8/2025) SIDE adalah kerangka estimasi kekeringan berbasis AI yang baru dan memiliki informasi sosial.

Baca juga: Dampak Kekeringan pada Pohon Minim, tapi Perubahan Iklim Tingkatkan Angka Kematiannya

Alat ini memperkirakan tingkat keparahan kekeringan dan dampaknya terhadap masyarakat menggunakan data dari media sosial dan media berita.

"Kurangnya perspektif yang berpusat pada manusia dalam penilaian tingkat keparahan kekeringan dapat menyebabkan pemahaman yang tidak lengkap tentang dampak sosialnya. Hal ini juga menghambat pengembangan strategi mitigasi yang efektif untuk mengatasi berbagai kebutuhan dan kekhawatiran dari populasi yang terdampak," kata Wang.

SIDE merupakan alat pertama yang menangkap "keterkaitan sosial-fisik dari kekeringan," yaitu bagaimana perilaku manusia dan kondisi lingkungan saling memengaruhi.

Misalnya, saat air menipis, masyarakat bisa saja meningkatkan penggunaan karena takut kehabisan, yang malah memperparah keadaan.

Pola perilaku seperti ini, yang sering terekam di laporan berita atau media sosial, dapat memberikan pemahaman berharga tentang dampak nyata krisis lingkungan.

Lebih lanjut, studi menguji SIDE menggunakan dataset SocialDrought yang tersedia untuk umum, dengan fokus pada California dan Texas.

Kedua wilayah ini dipilih karena kerentanan yang tinggi terhadap kekeringan, keanekaragaman populasi, dan peran pentingnya di sektor pertanian.

Penelitian ini menganalisis data selama periode Januari 2017 hingga April 2023, yaitu saat kedua negara bagian tersebut menghadapi peristiwa kekeringan yang signifikan.

Baca juga: Kisah Beverly dan Jeff Morris, Rumahnya Kekeringan Setelah Proyek AI Meta

SIDE secara signifikan mengungguli lima model peramalan deret waktu terdepan dalam hal akurasi perkiraan tingkat keparahan kekeringan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Secara khusus, SIDE mengidentifikasi perbedaan pola antara California dan Texas. Di California, perhatian publik lebih banyak tertuju pada pertanian dan pengelolaan kebakaran hutan, sedangkan di Texas, topik ekosistem dan kesehatan publik lebih dominan.

Dengan menawarkan pemahaman yang berpusat pada manusia dan tepat waktu, SIDE dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan lebih cerdas bagi berbagai pihak, mulai dari lembaga pemerintah, pengelola sumber daya air, organisasi pertanian, hingga pemimpin dan anggota masyarakat.

Alat ini juga berpotensi diadaptasi untuk krisis lingkungan lain, seperti banjir, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau