Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Daur Ulang Kapal Usai Tak Terpakai?

Kompas.com, 22 Februari 2025, 18:36 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ada lebih dari 109.000 kapal yang mengarungi perairan di dunia. Tetapi armada yang ada tersebut menua dan rusak dengan cepat. Diperkirakan sekitar 1.800 kapal menjadi usang setiap tahun.

Jumlah itu bahkan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan

Namun pernahkah terpikir apa yang terjadi saat kapal-kapal itu rusak dan mencapai akhir masa pakainya?

Baca juga: Tak Semua Plastik Jadi Sampah, Format dan Sistem Daur Ulang Penentunya

Mengutip Eco Business, Sabtu (22/2/2025) ketika sebuah kapal menjadi tua dan terlalu rapuh untuk diperbaiki, pemiliknya menjual bangkai kapal tersebut ke perantara internasional atau 'pembeli tunai' di tempat-tempat seperti Dubai, Singapura, atau Hong Kong.

Perantara internasional itu yang kemudian menjual kapal ke pembongkar kapal.

Pembongkaran kapal seperti, galangan kapal di Asia Selatan membongkar sekitar 85 persen hingga 90 persen kapal yang dinonaktifkan.

Dalam beberapa dekade terakhir, galangan di Asia Selatan juga telah menggunakan tenaga kerja tidak terampil yang melimpah dan aturan longgar untuk membongkar kapal-kapal tua.

Tempat daur ulang kapal di Bangladesh, India, dan Pakistan misalnya, secara langsung mempekerjakan puluhan ribu pekerja yang sebagian besar bersifat sementara.

Kapal-kapal tua yang rusak kemudian didorong ke daerah pasang surut di pantai. Proses itu disebut sebagai beaching, di mana para pekerja memotong kapal dengan tangan, sepotong demi sepotong.

Namun, pembongkaran yang lebih aman dilakukan dengan mengangkut kapal ke tempat peluncuran kapal beton atau dok kering, kemudian alat-alat mekanis seperti derek digunakan untuk membongkar kapal.

Baca juga: Kedatangan Kapal Tepat Waktu Dapat Kurangi Emisi Pelayaran

Galangan kapal di Eropa atau di zona Alia?a di Turki menggunakan metode yang lebih aman itu, tetapi mereka hanya menangani sebagian kecil kapal bekas.

Selanjutnya, beberapa bagian seperti batang baja, pipa, atau pelat, digunakan kembali secara langsung.

Sedangkan sebagian besar baja digulung ulang atau dilebur menjadi baja yang dapat digunakan dalam pembangunan atau produksi.

Dengan memasok barang bekas untuk pembuatan baja, itu dapat mengurangi sejumlah besar emisi pemanasan planet.

Pembuatan baja dari satu ton barang bekas menghemat 1,5 ton CO2 dibandingkan dengan yang dibuat dari biji besi dalam jumlah yang sama.

Baca juga: Wujudkan Ekonomi Sirkular, Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik Diperlukan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau