KOMPAS.com - Aluminium merupakan logam kedua terbanyak diproduksi setelah baja dan digunakan untuk segala hal mulai dari pesawat canggih hingga peralatan dapur.
Sayangnya, proses pembuatan aluminium tidak sepenuhnya ramah lingkungan.
Ini karena pembuatan aluminium menghasilkan banyak produk sampingan limbah, termasuk ion aluminium itu sendiri.
Pabrik aluminium tradisional diperkirakan menghasilkan 2800 ton limbah setiap tahun.
Para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat berharap dapat mengurangi limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses peleburan aluminium tersebut.
Baca juga: Unhas dan UICI Kerja Sama Budidaya Padi Ramah Lingkungan
Untuk itu, dikutip dari Popular Mechanics, Rabu (26/2/2025), mereka mengembangkan teknik nanofiltrasi baru yang menggunakan membran canggih untuk menangkap hingga 99 persen ion aluminum dalam aliran limbah.
Teknik tersebut sebelumnya telah digunakan untuk desalinasi air laut dan aliran air limbah lainnya, tetapi peneliti menemukan bahwa nanofiltrasi ternyata dapat memberikan manfaat besar bagi industri aluminium.
Cara Kerja
Produksi aluminium dimulai dengan bijih bauksit yang kaya logam. Setelah serangkaian reaksi kimia, zat bubuk yang dikenal sebagai alumina dikirim ke kilang.
Setelah dituangkan ke dalam tong elektrolisis yang berisi kriolit cair (natrium aluminium fluorida), arus listrik memecah alumina menjadi atom aluminium dan oksigen.
Namun dalam proses produksi aluminium, pelarut kriolit menjadi kotor dan menghasilkan limbah berupa lumpur yang mengandung aluminium. Dan sinilah sistem nanofiltrasi mulai bekerja.
Membran ini secara selektif menangkap ion aluminium berkat muatan positif elemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan elemen lain seperti natrium. Membran pun dapat menangkap 99,5 persen dari ion aluminium.
Baca juga: Plana Gunakan Mesin Ramah Lingkungan untuk Produksi Material Pengganti Kayu
Terobosan ini muncul pada saat yang penting ketika produksi aluminium diperkirakan akan meningkat 40 persen di seluruh dunia pada akhir dekade ini karena transisi energi hijau, industri luar angkasa, dan meningkatnya permintaan akan produk teknologi.
“Teknologi membran ini tidak hanya mengurangi limbah berbahaya tetapi juga memungkinkan ekonomi sirkular untuk aluminium dengan mengurangi kebutuhan akan penambangan baru,” kata John Lienhard, ketua peneliti studi ini.
“Ini menawarkan solusi yang menjanjikan untuk mengatasi masalah lingkungan sekaligus memenuhi permintaan aluminium yang terus meningkat,” tambahnya.
Terobosan ini dipublikasikan dalam jurnal ACS Sustainable Chemistry and Engineering.
Baca juga: Garudafood Luncurkan Program Biokonversi Maggot untuk Pengolahan Sampah Berkelanjutan di Depok
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya