Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim, Jumlah Satelit yang Mengorbit Berkurang

Kompas.com, 12 Maret 2025, 18:50 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology AS menemukan emisi gas rumah kaca bisa mengubah lingkungan luar angkasa di orbit Bumi rendah.

Perubahan itu, menurut penelitian yang dimuat di Nature Sustainability seiring waktu berpotensi mengurangi jumlah satelit yang dapat beroperasi di sana.

Para peneliti melaporkan bahwa karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya dapat menyebabkan atmosfer bagian atas menyusut.

Baca juga: Perubahan Iklim Berpeluang Jadi Cuan untuk PLN, Kok Bisa?

Dan lapisan atmosfer yang menjadi perhatian khusus itu adalah termosfer, tempat Stasiun Luar Angkasa Internasional dan sebagian besar satelit mengorbit saat ini.

Dikutip dari Phys, Rabu (12/3/2025) dalam studi ini tim melakukan simulasi tentang bagaimana emisi karbon memengaruhi atmosfer bagian atas dan dinamika orbit untuk memperkirakan kapasitas daya dukung satelit di orbit Bumi rendah.

Tim kemudian membandingkan beberapa skenario. Pertama, konsentrasi gas rumah kaca tetap pada levelnya sejak tahun 2000 dan yang lain emisi berubah menurut Jalur Sosial Ekonomi Bersama (SSP) Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Mereka menemukan bahwa skenario dengan peningkatan emisi yang berkelanjutan akan menyebabkan berkurangnya daya dukung secara signifikan di seluruh orbit rendah Bumi.

Simulasi memperkirakan bahwa pada tahun 2100, jumlah satelit yang dapat ditampung dengan aman di ketinggian 200 dan 1000 kilometer dapat berkurang hingga 50-66 persen karena efek gas rumah kaca.

Jika kapasitas satelit terlampaui, bahkan di wilayah lokal, para peneliti memperkirakan bahwa wilayah tersebut akan mengalami "ketidakstabilan yang tak terkendali," atau serangkaian tabrakan yang akan menciptakan begitu banyak puing sehingga satelit tidak dapat lagi beroperasi dengan aman di sana.

"Perilaku kita terhadap gas rumah kaca di Bumi selama 100 tahun terakhir berdampak pada cara kita mengoperasikan satelit selama 100 tahun ke depan," kata penulis studi Richard Linares, profesor madya di Departemen Aeronautika dan Astronautika MIT (AeroAstro).

Pada saat yang sama, terjadi peningkatan besar dalam jumlah satelit yang diluncurkan. Jika kita tidak mengelola aktivitas ini dengan hati-hati dan berupaya mengurangi emisi, luar angkasa dapat menjadi terlalu padat, yang menyebabkan lebih banyak tabrakan dan serpihan

Baca juga: Green Property Jadi Solusi Atasi Perubahan Iklim di Perkotaan

"Kami mengandalkan atmosfer untuk membersihkan puing-puing kami. Dan jika atmosfer berubah, maka lingkungan puing-puing juga akan berubah," ungkap penulis utama William Parker, mahasiswa pascasarjana di AeroAstro.

"Kami menunjukkan prospek jangka panjang pada puing-puing orbital sangat bergantung pada pengurangan emisi gas rumah kaca kami." tambah Parker.

Saat ini ada lebih dari 10.000 satelit yang melayang di orbit Bumi rendah. Satelit-satelit itu memberikan layanan penting, termasuk internet, komunikasi, navigasi, prakiraan cuaca dan perbankan.

Populasi satelit telah membengkak dalam beberapa tahun terakhir, yang mengharuskan operator untuk melakukan manuver penghindaran tabrakan secara teratur agar tetap aman.

Setiap tabrakan yang terjadi dapat menghasilkan puing-puing yang tetap berada di orbit selama beberapa dekade atau abad, meningkatkan kemungkinan tabrakan susulan dengan satelit, baik yang lama maupun yang baru.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau