Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BELAKANGAN, varian baru Covid-19 banyak ditemukan di negara-negara kawasan: Thailand, Singapura, Malaysia hingga Hong Kong yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 pada akhir Mei 2025.
Varian Covid-19 yang dominan menyebar di Thailand adalah XEC dan JN.1, di Singapura LF.7 dan NB.1.8 (turunan JN.1), di Hong Kong JN.1, dan di Malaysia adalah XEC, tak lain turunan JN.1(Tempo.co, 3 Juni 2025).
Kementerian Kesehatan lekas merespons alarm atau sirine peringatan tadi dengan menerbitkan Surat Edaran SR.03.01/C/1422/2025.
Isinya mengimbau seluruh dinas kesehatan daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Walau tingkat keparahan varian baru itu lebih rendah, sebaiknya seluruh lini, dari pemerintah pusat, daerah hingga masyarakat selalu waspada.
Baca juga: Kemenkes Ungkap Gejala Pasien Covid-19 yang Merebak di Indonesia, Apa Saja?
Kasus Covid-19 di negeri kita, sangat terkendali. Pada minggu ke-20, kasusnya turun menjadi tiga. Sebelumnya di minggu atau pekan ke-19 tercatat 28 kasus. Positivity rate 0,59 persen.
Namun, berjaga-jaga selalu lebih baik ketimbang kecolongan dan teledor. Ini berlaku untuk Indonesia dan negara-negara di dunia.
Soal ini saya teringat Yuval Noah Harari. Buat saya sangat muskil untuk menolak, menepis atau membantah Yuval Noah Harari tatkala menulis “The Word After Coronavirus” di awal Pandemi Covid-19 (Financial Times, 19 Maret 2020).
Harari menyoroti pilihan antara menggunakan jurus “isolasi nasionalis atau solidaritas global” dalam apa yang disebutnya “perang kemanusian melawan virus corona.”
Menurut Harari, bangsa manusia harus berbagi informasi secara global, kerja sama, saling percaya, memiliki kepemimpinan efektif, serta mengubah kesepakatan masa normal secara drastis dan tak umum agar efektif menanggulangi pandemi.
Kita tahu di masa-masa awal pandemi Covid-19, situasinya “chaos” lantaran tak ada satu pun negara di muka bumi ini yang benar-benar siap menghadapi pandemi tak terduga itu.
Pada akhir 2019, homo sapiens kecolongan di salah satu pojok bumi: Wuhan, China. Saat itu globalisasi sungguh-sungguh telah bekerja: Menyebarkan virus corona ke lebih dari 200 negara.
Bukan globalisasi begini yang dibayangkan Joseph E. Stiglitz dalam “Making Globalization Work” (2006). Inilah efek mencekam dari pergerakan manusia yang difasilitasi oleh globalisme.
Untuk urusan merespons keadaan darurat global saat itu, tahun 2020, Harari benar dan tepat. Bayangkan jika ilmuwan dan negara-negara di dunia ini tidak “mengubah kesapakatan sains” menyangkut pengembangan vaksin Covid-19.
Pada kondisi normal, pengembangan vaksin yang aman dan efektif itu butuh waktu lama, hingga lima tahun. Namun, pandemi telah mengubahnya. Ilmuwan dan laboratorium berlomba, bahkan adu cepat, agar selekas mungkin menghasilkan vaksin Covid-19.
Bila prosedur normal digunakan, warga bumi masih bakal dikungkung cemas, takut dan nestapa setidaknya hingga 2025.
Baca juga: Moratorium Tambang Nikel di Raja Ampat
Syukurlah, ilmuwan lentur dan sains memang tidak harus berada dalam ruang hampa. Sebaliknya sains dan ilmuwan bertegur sapa dengan realitas, masalah aktual manusia.
Berkat kampanye vaksin terbesar dalam sejarah selama lebih dari setahun, hingga Juni 2022, lebih dari 11,9 miliar dosis vaksin Covid-19 disuntikkan kepada penduduk bumi di 184 negara (Bloomberg, 2 Juni 2022).
Setahun kemudian, angka itu meningkat menjadi lebih dari 13 miliar dosis (data WHO).
Vaksin identik dengan dollar, kemampuan membeli, dan itulah yang menyebabkan ketimpangan dalam mengaksesnya.
Saat negara-negara di dunia berlomba menjalankan vaksinasi, 2021-2022, Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan sebanyak 80 persen populasi di benua Afrika belum disuntik vaksin untuk mencegah Covid-19.
Kerja sama global lagi-lagi berjalan. COVAX AMC sukses menghimpun dana 10,8 miliar dollar AS pada 2021 lalu.
Ini tak lain inisiatif global yang punya misi membagikan vaksin kepada negara anggota, yaitu 92 negara berpendapatan menengah ke bawah dan negara berpendapatan rendah.
Sampai 31 Desember 2023, inisiatif COVAX telah memasok hampir dua miliar dosis vaksin Covid-19 dan alat suntik yang aman ke 146 negara (WHO).
Kita warga bumi berada di planet yang sama. Bumi ini adalah rumah kita bersama. Pintunya banyak dan terbuka. Bila sebagian pojok bumi berurusan dengan virus, maka virus itu tetap harus dianggap sebagai ancaman.
Tepat di sini mentalitas yang dibagi oleh Jared Diamond relevan, yaitu memeluk “paronoia konstruktif”.
Diamond menyadari bahwa memelihara kekhawatiran, kecemasan dan keragu-raguan itu kadang berguna agar manusia selamat, terhindar dari bahaya.
Iya paranoia, tapi agar tidak dikurung energi negatif, Diamond menambahkan kata konstruktif di belakangnya.
Baca juga: Aksi Iklim Tak Boleh Gulung Tikar
Profesor geografi di UCLA, Amerika Serikat itu menyadarinya tatkala dia selamat dari kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya di perairan Papua.
Waktu itu, dia nekat naik perahu kayu sepanjang 9 meteran yang digerakkan motor tempel. Diamond naik perahu kayu agar lekas tiba ke pulau utama Papua (wilayah Indonesia).
Saat kejadian, jarak tempat penulis “The World Until Yesterday” itu berdiri dengan pulau utama sekitar 20 kilometer. Namun, ombak di perairan Papua sungguh tidak bersahabat, menggulungnya bersama empat penumpang dan tiga awak perahu.
Sempat terlunta-lunta di atas perahu yang terbalik sekitar dua jam, Diamond serta penumpang dan awak perahu diselamatkan oleh perahu yang datang menolong. Alhasil dia kembali ke tempat dia bertolak.
Setelah kejadian itu, Diamond tobat. Sejak saat itu, dia menghidupkan radar paranoidnya dalam kesempatan-kesempatan yang sering menggodanya untuk teledor, kendor, dan kurang hati-hati.
Paranoia semacam itu, sadar atau tidak, telah kita adaptasi saat pandemi Covid-19 menerjang bumi. Kita tidak hidup seperti masa normal. Cemas, khawatir, waswas, bahkan takut mengurung kita semua.
Kita pun menggunakan masker—dan tidak bisa tawar menawar, serta protokol kesehatan lainnya.
Paranoia itu merupakan sikap kehati-hatian, karena kita ingin keluar dari pandemi dengan selamat. Bagaimanapun nyawa adalah harta paling berharga yang harus diperjuangkan oleh manusia.
Demi melestarikan keturunan anak Adam dan Hawa. Menyelamatkan spesies manusia, Homo sapiens.
Sekarang, masa-masa muram itu sudah lewat. Pada awal Mei 2023, WHO mencabut status darurat kesehatan global. Covid-19 bukan lagi berstatus pandemi.
Lewat Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2023, Presiden saat itu, Joko Widodo menetapkan berakhirnya status pandemi Corona Virus Disease 2019 yang berlaku pada 21 Juni 2023.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengklaim telah menyebarkan 400 juta dosis vaksin yang menyasar lebih dari 200 juta penduduk Indonesia.
Ingat vaksin diberikan dalam dua hingga tiga kali untuk membentuk kekebalan individu dan kekebalan kelompok.
BGS juga menyebut negeri kita termasuk salah satu negara yang tercepat dalam mengendalikan pandemi (Kompas.id, 10 Oktober 2024).
Namun begitu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan banyak hal. Satu yang terpenting: Waspada selalu terhadap apa yang terjadi di pojok-pojok bumi.
Ada baiknya negara-negara di dunia terus mencamkan peringatan dari Tedros Ghebreyesus, beberapa bulan sebelum dilantik menjadi Direktur Jenderal WHO periode kedua.
“Ancaman pandemi seperti Covid-19 bukan akan menjadi yang terakhir kalinya” menerjang bumi. Di masa depan, ujar pria Ethiopia ini, virus dengan potensi yang lebih dapat ditularkan dan lebih mematikan mungkin saja muncul. Ini kepastian evolusioner, sebutnya.
“Together for a healthier world,” kata Tedros lagi. Apakah itu cukup?
Saya kira, itu perlu ditambah dengan pesan Harari. Dalam hidup yang diselimuti misteri bangsa manusia harus selalu berbagi informasi secara global, bekerja sama, saling percaya, memiliki kepemimpinan efektif, serta mengubah kesepakatan masa normal secara drastis dan tak umum agar efektif menanggulangi pandemi.
WHO, yang coba dikerdilkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menarik keluar negerinya dari organisasi kesehatan dunia itu, tetap layak diberi kepercayaan.
Organisasi ini harus memimpin dan memandu dunia dalam memitigasi serta menghadapi ancaman penyakit, baik yang telah terdeteksi atau yang datang tiba-tiba seperti Covid-19.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya