Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 20 Juni 2025, 13:19 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Menggunakan bor manual, Fifi dan timnya mengambil inti kayu untuk dianalisis. Ia juga membawa palu dan pencungkil kayu untuk mengambil sampel batang serta ketapel guna menjangkau daun.

Fifi tak menampik, profesi yang digelutinya begitu menantang. Untuk mengambil sampel, Fifi harus menuju habitat asli yang kerap berada di hutan pedalaman.

“Medan berlumpur, alat berat, dan lokasi yang begitu pelosok telah menjadi risiko pekerjaan. Beruntung, rekan-rekan tim begitu mendukung sehingga perjalanan aman dan lancar. Bonusnya, saya bisa melihat banyak flora dan fauna langsung di habitat aslinya, termasuk yang endemik,” ucap dia.

Saling melengkapi

Fifi menekankan, pendekatan DNA sangat berguna dalam konteks penegakan hukum, seperti halnya pendekatan anatomi kayu. Ketika aparat menemukan balok kayu tanpa dokumen sah atau kayu dalam kontainer ekspor tidak sesuai dengan spesies yang tertera di dokumen, misalnya, analisis DNA dapat digunakan sebagai bukti ilmiah untuk pengadilan.

Baca juga: Lawan Pembalakan, IPB-WRI Indonesia Kembangkan Database Genetika Ramin

Metode tersebut juga penting dalam mendukung implementasi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) serta dalam kerja sama internasional untuk menghentikan perdagangan kayu ilegal lintas batas.

“Ini bukan hanya soal kayu. Ini soal keadilan ekologis dan perlindungan terhadap hutan tropis yang makin terancam,” tutur Fifi.

Baik pendekatan anatomi seperti yang dikembangkan oleh Ratih Damayanti ataupun pendekatan genetik yang digeluti Fifi Gus Dwiyanti saling melengkapi dalam praktik bioforensik kayu di Indonesia.

Dalam konteks penegakan hukum, identifikasi awal bisa dilakukan secara makroskopis atau dengan bantuan AIKO. Jika diperlukan verifikasi lebih dalam, terutama untuk spesies yang mirip secara anatomi atau untuk sampel yang telah mengalami pelapukan atau proses kimiawi, maka analisis DNA dapat dilakukan.

Keduanya pun menjadi investigator dalam proyek Wood Identification (Wood ID) yang diinisiasi WRI Indonesia. Proyek ini bertujuan mengurangi pembalakan liar dengan mempercepat penerapan teknologi identifikasi kayu untuk memverifikasi klaim terkait spesies serta asal-usul kayu dan produk hutan, sekaligus memperkuat penegakan hukum di Indonesia melalui pemberian bukti ilmiah terkait identifikasi kayu.

Sebagai teknologi identifikasi, Wood ID memfasilitasi pengembangan database yang menjadi sumber referensi identifikasi kayu, memungkinkan identifikasi spesies dan asal kayu secara akurat. Selain itu, Wood ID aktif berkontribusi dalam mengembangkan pedoman yang dapat menjadi panduan penanganan forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.

dalam membentuk kerangka hukum yang mengatur standar forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.

Di tengah urgensi pelestarian hutan dan meningkatnya tekanan terhadap keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim serta praktik pembalakan liar, kiprah Ratih Damayanti dan Fifi Gus Dwiyanti menjadi fondasi penting dalam membangun sistem identifikasi kayu yang kuat di Indonesia.

Ratih melalui pendekatan anatomi kayu dan inovasi berbasis teknologi seperti AIKO memastikan bahwa ilmu pengetahuan mampu menjangkau hingga ke lini kebijakan dan penegakan hukum.

Sementara itu, Fifi melengkapi upaya tersebut dengan pendekatan genetika melalui forensik DNA yang membuka kemungkinan pelacakan asal-usul kayu meski struktur fisiknya telah rusak.

Keduanya tak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu kehutanan modern, tetapi juga membuktikan bahwa sains memiliki peran strategis dalam menjaga keadilan ekologis.

Di tangan para srikandi peneliti, seperti Ratih dan Fifi, pohon tak sekadar dilihat sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai penopang kehidupan yang harus dikenali, dijaga, dilindungi, dan dipertanggungjawabkan hingga ke akarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
Pemerintah
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Pemerintah
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Pemerintah
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Swasta
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Pemerintah
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
LSM/Figur
UNDP Kucurkan Rp 250 Miliar untuk Lindungi Satwa Liar di Indonesia
UNDP Kucurkan Rp 250 Miliar untuk Lindungi Satwa Liar di Indonesia
Pemerintah
Mandatori B50 Mulai 1 Juli, RI Perlu Tingkatkan Kapasitas Pengolahan
Mandatori B50 Mulai 1 Juli, RI Perlu Tingkatkan Kapasitas Pengolahan
LSM/Figur
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
LSM/Figur
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Pemerintah
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau