Menggunakan bor manual, Fifi dan timnya mengambil inti kayu untuk dianalisis. Ia juga membawa palu dan pencungkil kayu untuk mengambil sampel batang serta ketapel guna menjangkau daun.
Fifi tak menampik, profesi yang digelutinya begitu menantang. Untuk mengambil sampel, Fifi harus menuju habitat asli yang kerap berada di hutan pedalaman.
“Medan berlumpur, alat berat, dan lokasi yang begitu pelosok telah menjadi risiko pekerjaan. Beruntung, rekan-rekan tim begitu mendukung sehingga perjalanan aman dan lancar. Bonusnya, saya bisa melihat banyak flora dan fauna langsung di habitat aslinya, termasuk yang endemik,” ucap dia.
Fifi menekankan, pendekatan DNA sangat berguna dalam konteks penegakan hukum, seperti halnya pendekatan anatomi kayu. Ketika aparat menemukan balok kayu tanpa dokumen sah atau kayu dalam kontainer ekspor tidak sesuai dengan spesies yang tertera di dokumen, misalnya, analisis DNA dapat digunakan sebagai bukti ilmiah untuk pengadilan.
Baca juga: Lawan Pembalakan, IPB-WRI Indonesia Kembangkan Database Genetika Ramin
Metode tersebut juga penting dalam mendukung implementasi sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) serta dalam kerja sama internasional untuk menghentikan perdagangan kayu ilegal lintas batas.
“Ini bukan hanya soal kayu. Ini soal keadilan ekologis dan perlindungan terhadap hutan tropis yang makin terancam,” tutur Fifi.
Baik pendekatan anatomi seperti yang dikembangkan oleh Ratih Damayanti ataupun pendekatan genetik yang digeluti Fifi Gus Dwiyanti saling melengkapi dalam praktik bioforensik kayu di Indonesia.
Dalam konteks penegakan hukum, identifikasi awal bisa dilakukan secara makroskopis atau dengan bantuan AIKO. Jika diperlukan verifikasi lebih dalam, terutama untuk spesies yang mirip secara anatomi atau untuk sampel yang telah mengalami pelapukan atau proses kimiawi, maka analisis DNA dapat dilakukan.
Keduanya pun menjadi investigator dalam proyek Wood Identification (Wood ID) yang diinisiasi WRI Indonesia. Proyek ini bertujuan mengurangi pembalakan liar dengan mempercepat penerapan teknologi identifikasi kayu untuk memverifikasi klaim terkait spesies serta asal-usul kayu dan produk hutan, sekaligus memperkuat penegakan hukum di Indonesia melalui pemberian bukti ilmiah terkait identifikasi kayu.
Sebagai teknologi identifikasi, Wood ID memfasilitasi pengembangan database yang menjadi sumber referensi identifikasi kayu, memungkinkan identifikasi spesies dan asal kayu secara akurat. Selain itu, Wood ID aktif berkontribusi dalam mengembangkan pedoman yang dapat menjadi panduan penanganan forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.
dalam membentuk kerangka hukum yang mengatur standar forensik kayu bagi lembaga penegak hukum.
Di tengah urgensi pelestarian hutan dan meningkatnya tekanan terhadap keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim serta praktik pembalakan liar, kiprah Ratih Damayanti dan Fifi Gus Dwiyanti menjadi fondasi penting dalam membangun sistem identifikasi kayu yang kuat di Indonesia.
Ratih melalui pendekatan anatomi kayu dan inovasi berbasis teknologi seperti AIKO memastikan bahwa ilmu pengetahuan mampu menjangkau hingga ke lini kebijakan dan penegakan hukum.
Sementara itu, Fifi melengkapi upaya tersebut dengan pendekatan genetika melalui forensik DNA yang membuka kemungkinan pelacakan asal-usul kayu meski struktur fisiknya telah rusak.
Keduanya tak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu kehutanan modern, tetapi juga membuktikan bahwa sains memiliki peran strategis dalam menjaga keadilan ekologis.
Di tangan para srikandi peneliti, seperti Ratih dan Fifi, pohon tak sekadar dilihat sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai penopang kehidupan yang harus dikenali, dijaga, dilindungi, dan dipertanggungjawabkan hingga ke akarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya