Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tiga Komoditas Ini Bisa Menjadi Solusi untuk Pemanfaatan Lahan Suboptimal

Kompas.com, 27 Juni 2025, 17:16 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah perubahan iklim dan semakin terbatasnya lahan pertanian subur, pemanfaatan lahan suboptimal mulai dilihat sebagai peluang.

Mengembangkan komoditas seperti kakao, kopi, dan pinang di lahan sub-optimal ini dinilai dapat menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi pedesaan secara berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Baca juga: Wamentan Sudaryono Bongkar Strategi Bulog Ubah Sejarah Ketahanan Pangan RI

Menurut Puji, tiga komoditas itu merupakan komoditas penting untuk mendukung terbukanya lapangan kerja, menghidupkan industri hilir, serta menyumbang devisa negara melalui ekspor.

Saat pendapatan petani meningkat, akses mereka terhadap pangan, pendidikan, dan kesehatan juga membaik.

“Hal ini secara tidak langsung memperkuat pilar aksesibilitas dalam ketahanan pangan nasional,” kata Puji, dikutip dari keterangan tertulis di laman BRIN, Jumat (27/6/2025).

Lahan suboptimal sendiri merupakan lahan yang karena faktor fisik dan iklimnya tidak mampu menghasilkan produksi maksimal. Jenisnya mencakup lahan kering masam, lahan kering beriklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa, dan lahan gambut—semuanya tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Meski begitu, Puji menekankan bahwa produktivitas lahan-lahan tersebut masih bisa ditingkatkan melalui inovasi teknologi agronomi seperti ameliorasi tanah, penggunaan varietas adaptif, sistem agroforestri, serta pengelolaan air berbasis konservasi.

Baca juga: IPB Rilis Inovasi Berbasis AI untuk Tingkatkan Ketahanan Pangan

Selain teknologi, sejumlah program pemerintah juga turut bisa memperkuat kapasitas petani. Di antaranya adalah peremajaan tanaman perkebunan rakyat, sertifikasi indikasi geografis, insentif usaha tani, penyediaan bibit unggul, hingga pelatihan teknis.

“Dengan demikian, pengembangan kakao, kopi, dan pinang di lahan suboptimal tidak hanya menjawab keterbatasan lahan produktif, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi perdesaan yang resilien dan berperan dalam ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan,” lanjut Puji.

D isisi lain, peneliti BRIN, Busyra B. Saidi, menambahkan bahwa lahan suboptimal banyak ditemukan di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan daerah pesisir.

Indonesia sendiri merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia, dengan produksi lebih dari 650.000 ton per tahun. Sentra produksinya tersebar di Sulawesi, Papua, dan Sumatera.

Selain itu, salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan kopi di lahan suboptimal adalah sistem agroforestri, menanam kopi bersama pohon lainnya.

Menurutnya pendekatan ini tidak hanya menyuburkan tanah dan menjaga ketersediaan air, tetapi juga menyerap karbon, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memberikan hasil panen yang beragam.

Baca juga: Tambah Usia, Tambah Hijau: Jakarta Bisa Adopsi Hutan Vertikal dan Pajak Karbon Warga

“Lahan suboptimal yang selama ini dipandang sebagai keterbatasan, sebenarnya menyimpan potensi strategis sebagai tumpuan baru bagi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi pedesaan,” ujar Busyra.

Terakhir, Busyra mengatakan bahwa kakao, kopi, dan pinang telah terbukti mampu tumbuh baik di lahan-lahan tersebut dan memiliki nilai ekonomi tinggi, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Sumatera Dongkrak Harga Kopi Robusta di Pasar Global
Banjir Sumatera Dongkrak Harga Kopi Robusta di Pasar Global
LSM/Figur
KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera
KLH Bakal Gugat Perdata Enam Perusahaan yang Diduga Picu Banjir Sumatera
Pemerintah
Anggaran Karbon 1 Persen Orang Terkaya Habis dalam 10 Hari
Anggaran Karbon 1 Persen Orang Terkaya Habis dalam 10 Hari
LSM/Figur
Makanan Anjing Sumbang 1 Persen Emisi GRK di Inggris, Studi Jelaskan
Makanan Anjing Sumbang 1 Persen Emisi GRK di Inggris, Studi Jelaskan
LSM/Figur
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau