Pada saat yang sama, populasi lansia di dunia terus bertambah. Jumlah penduduk berusia di atas 65 tahun secara global akan meningkat dari 10 persen pada tahun 2024 menjadi 16 persenpada tahun 2050.
Sebagian besar dari mereka akan tinggal di kota, di mana mereka akan terpapar panas ekstrem dan polusi udara, serta mengalami bencana yang lebih sering.
Karena orang lanjut usia sudah memiliki risiko lebih tinggi, diperlukan strategi adaptasi yang efektif untuk melindungi populasi ini.
Banjir telah melumpuhkan masyarakat di berbagai wilayah dunia seiring dengan meningkatnya jumlah peristiwa cuaca ekstrem. Di antara bahaya yang tersembunyi adalah polutan warisan atau zat pencemar yang telah tersimpan di dalam tanah sejak lama.
Polutan ini dilepaskan ketika hujan ekstrem dan banjir menyapu sedimen dan puing-puing, membawa zat berbahaya tersebut ke permukaan.
Peristiwa seperti banjir di Pakistan (2010), Delta Niger (2012), dan Badai Harvey di Texas (2017) menunjukkan bagaimana air banjir dapat mengaduk sedimen dan melepaskan logam berat serta polutan organik yang tahan lama.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Kerugian Rp 550 T, Transisi Energi Mutlak untuk Pertumbuhan Ekonomi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya