KOMPAS.com - Ancaman seperti pemutihan karang, naiknya air laut, dan kepunahan keanekaragaman hayati tidak lagi sekadar wacana.
Semua itu sedang berlangsung, membawa konsekuensi serius bagi ekosistem laut dan komunitas yang hidup dari sana.
Sebagai respons, para ilmuwan, pemerintah, dan industri berlomba-lomba mengembangkan dan menerapkan serangkaian intervensi untuk membantu lautan merespons perubahan iklim.
Akan tetapi studi baru dari University of Melbourne mengungkap, meski intervensi iklim di laut makin cepat namun tanpa tata kelola yang bertanggung jawab intervensi itu bisa justru bisa menimbulkan lebih banyak kerugian daripada manfaat.
Temuan tersebut disimpulkan setelah peneliti meninjau berbagai intervensi inovatif yang diterapkan sebagai respons mendesak terhadap besarnya dan intensitas krisis iklim serta perubahan signifikan di lautan.
Baca juga: 90.000 Tumpahan Minyak di Laut, Cuma 474 yang Dilaporkan, Tanggung Jawab Siapa?
Berbagai upaya ini mencakup: mengurangi keasaman laut agar dapat menyerap lebih banyak karbon dioksida, mengembangbiakkan karang yang tahan iklim agar bisa bertahan di air yang lebih hangat.
Selain itu juga membudidayakan rumput laut untuk menangkap karbon, dan merestorasi hutan bakau untuk melindungi garis pantai serta menyimpan karbon secara alami.
Penulis utama, Profesor Tiffany Morrison dari University of Melbourne, berpendapat bahwa meskipun intervensi ini menjanjikan harapan, tetapi juga membawa risiko-risiko yang besar.
"Tanpa tata kelola yang kuat, kita berisiko mengulangi kesalahan masa lalu—menerapkan solusi yang tidak efektif, tidak adil, atau bahkan berbahaya," kata Profesor Morrison, dikutip dari Phys, Kamis (31/7/2025).
"Laju inovasi melampaui kemampuan kita untuk mengatur, memantau, dan mengevaluasi intervensi ini secara bertanggung jawab," katanya lagi.
Para peneliti berpendapat bahwa untuk menghadapi tantangan ini, kita harus menerapkan transformasi laut yang bertanggung jawab. Ini adalah pendekatan tata kelola yang memprioritaskan keberlanjutan, keadilan, dan kemampuan adaptasi.
Baca juga: Mikroba Jadi Solusi Alami untuk Laut Tercemar Tumpahan Minyak
"Ini berarti menimbang risiko dengan manfaatnya, menyelesaikan tanggung jawab etis, meningkatkan manfaat sosial, dan menyelaraskan intervensi adaptasi dengan tujuan mitigasi iklim yang lebih luas," terang Profesor Morrison.
Sehingga sangat penting pula untuk melakukan studi komparatif yang ketat untuk menilai manfaat dan risiko iklim dari intervensi, termasuk skalabilitas dan kelangsungan hidup jangka panjang.
Ini juga mengharuskan kita untuk berkolaborasi dengan masyarakat adat dan pihak-pihak terkait di tingkat lokal dari awal, sehingga pengetahuan, nilai-nilai, dan hak-hak mereka memengaruhi desain dan pelaksanaan intervensi.
"Jika intervensi terbukti layak, kita juga harus mengembangkan dan menerapkan protokol bioetika. Protokol ini tidak hanya mengatasi kesejahteraan hewan, tetapi juga implikasi ekologis dan sosial yang lebih luas dari penerapan skala besar," tambah Profesor Neil Adger dari University of Exeter, penulis pendamping studi.
Studi ini diterbitkan di jurnal Science.
Baca juga: Pelajaran dari Riset di India: Jaga Harimau Juga Selamatkan Hutan dan Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya