Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar Katakan, Intervensi Iklim di Laut Sia-sia jika Tata Kelolanya Masih Sama Buruknya

Kompas.com, 1 Agustus 2025, 18:07 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Ancaman seperti pemutihan karang, naiknya air laut, dan kepunahan keanekaragaman hayati tidak lagi sekadar wacana.

Semua itu sedang berlangsung, membawa konsekuensi serius bagi ekosistem laut dan komunitas yang hidup dari sana.

Sebagai respons, para ilmuwan, pemerintah, dan industri berlomba-lomba mengembangkan dan menerapkan serangkaian intervensi untuk membantu lautan merespons perubahan iklim.

Akan tetapi studi baru dari University of Melbourne mengungkap, meski intervensi iklim di laut makin cepat namun tanpa tata kelola yang bertanggung jawab intervensi itu bisa justru bisa menimbulkan lebih banyak kerugian daripada manfaat.

Temuan tersebut disimpulkan setelah peneliti meninjau berbagai intervensi inovatif yang diterapkan sebagai respons mendesak terhadap besarnya dan intensitas krisis iklim serta perubahan signifikan di lautan.

Baca juga: 90.000 Tumpahan Minyak di Laut, Cuma 474 yang Dilaporkan, Tanggung Jawab Siapa?

Berbagai upaya ini mencakup: mengurangi keasaman laut agar dapat menyerap lebih banyak karbon dioksida, mengembangbiakkan karang yang tahan iklim agar bisa bertahan di air yang lebih hangat.

Selain itu juga membudidayakan rumput laut untuk menangkap karbon, dan merestorasi hutan bakau untuk melindungi garis pantai serta menyimpan karbon secara alami.

Penulis utama, Profesor Tiffany Morrison dari University of Melbourne, berpendapat bahwa meskipun intervensi ini menjanjikan harapan, tetapi juga membawa risiko-risiko yang besar.

"Tanpa tata kelola yang kuat, kita berisiko mengulangi kesalahan masa lalu—menerapkan solusi yang tidak efektif, tidak adil, atau bahkan berbahaya," kata Profesor Morrison, dikutip dari Phys, Kamis (31/7/2025).

"Laju inovasi melampaui kemampuan kita untuk mengatur, memantau, dan mengevaluasi intervensi ini secara bertanggung jawab," katanya lagi.

Para peneliti berpendapat bahwa untuk menghadapi tantangan ini, kita harus menerapkan transformasi laut yang bertanggung jawab. Ini adalah pendekatan tata kelola yang memprioritaskan keberlanjutan, keadilan, dan kemampuan adaptasi.

Baca juga: Mikroba Jadi Solusi Alami untuk Laut Tercemar Tumpahan Minyak

"Ini berarti menimbang risiko dengan manfaatnya, menyelesaikan tanggung jawab etis, meningkatkan manfaat sosial, dan menyelaraskan intervensi adaptasi dengan tujuan mitigasi iklim yang lebih luas," terang Profesor Morrison.

Sehingga sangat penting pula untuk melakukan studi komparatif yang ketat untuk menilai manfaat dan risiko iklim dari intervensi, termasuk skalabilitas dan kelangsungan hidup jangka panjang.

Ini juga mengharuskan kita untuk berkolaborasi dengan masyarakat adat dan pihak-pihak terkait di tingkat lokal dari awal, sehingga pengetahuan, nilai-nilai, dan hak-hak mereka memengaruhi desain dan pelaksanaan intervensi.

"Jika intervensi terbukti layak, kita juga harus mengembangkan dan menerapkan protokol bioetika. Protokol ini tidak hanya mengatasi kesejahteraan hewan, tetapi juga implikasi ekologis dan sosial yang lebih luas dari penerapan skala besar," tambah Profesor Neil Adger dari University of Exeter, penulis pendamping studi.

Studi ini diterbitkan di jurnal Science.

Baca juga: Pelajaran dari Riset di India: Jaga Harimau Juga Selamatkan Hutan dan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau