KOMPAS.com - Penerbitan obligasi berkelanjutan global menurun tajam pada paruh pertama tahun 2025, mencerminkan pasar yang melambat di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan sentimen investor.
Menurut data dari Bank Dunia dan Environmental Finance, total penerbitan obligasi hijau, sosial, berkelanjutan, terkait keberlanjutan, dan transisi—yang secara kolektif dikenal sebagai obligasi berkelanjutan—mencapai 480 miliar dolar AS.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 18,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal kedua saja, penerbitan anjlok 19,9 persen dari tahun ke tahun menjadi 215 miliar dolar AS.
Melansir Know ESG, Senin (4/8/2025) setiap kategori obligasi mengalami penurunan.
Baca juga: Penanganan Krisis Iklim Butuh Obligasi Hijau, Apa Itu?
Data menunjukkan obligasi hijau turun 14,6 persen, obligasi sosial anjlok 27 persen, obligasi berkelanjutan merosot 32,8 persen, obligasi terkait keberlanjutan turun tipis 0,2 persen, dan obligasi transisi mengalami penurunan paling tajam, yaitu 78,8 persen.
Walaupun terjadi perlambatan, obligasi hijau tetap menjadi pemimpin pasar dengan porsi 68,3 persen dari total penerbitan pada Q2 2025.
Lebih lanjut, para pemain dari sektor publik tetap aktif, berkontribusi sebesar 36 persen dari penerbitan obligasi di kuartal tersebut, atau senilai 79 miliar dolar AS.
Entitas pemerintah menyumbang porsi yang signifikan, dengan mengumpulkan 41,2 miliar dolar AS.
Dua negara Asia, juga memasuki pasar obligasi berkelanjutan pemerintah untuk pertama kalinya.
China menerbitkan obligasi hijau senilai 6 miliar yuan (824 juta dolar AS) pada bulan April, sementara Pakistan meluncurkan sukuk hijau senilai 32 miliar rupee (113 juta dolar AS) pada bulan Mei, menandakan meningkatnya minat terhadap keuangan berkelanjutan di pasar negara berkembang.
Laporan terpisah dari Moody's menyoroti bahwa penurunan penerbitan obligasi berkelanjutan bersifat global, tetapi kawasan Asia-Pasifik dan Eropa mengalami kontraksi lebih lambat dibandingkan kawasan lain.
Baca juga: China Luncurkan Obligasi Hijau Internasional, Dunia Sambut Meriah
Hal tersebut memungkinkan pangsa penerbitan global mereka meningkat pada Triwulan II 2025, menawarkan ketahanan di tengah pasar yang lesu.
Kuartal ini juga mencatat sedikit peningkatan dalam penerbitan obligasi korporasi non-keuangan, yang menunjukkan bahwa partisipasi sektor swasta dapat stabil dalam beberapa bulan mendatang.
Moody's juga merevisi proyeksi total penerbitan obligasi berkelanjutan global untuk tahun 2025 menjadi 900 miliar dolar AS, lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 1 triliun dolar AS.
Sementara itu para analis mengaitkan kinerja yang melambat ini dengan tantangan makroekonomi, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan ketidakpastian kebijakan, yang semuanya telah meredam minat investor terhadap instrumen utang berkelanjutan.
Namun meskipun paruh pertama tahun 2025 telah menyoroti tantangan yang dihadapi pasar keuangan berkelanjutan, para ahli mencatat bahwa meningkatnya minat dari negara-negara berkembang dan dominasi obligasi hijau dapat mendukung pemulihan bertahap setelah kondisi ekonomi stabil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya