Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Pramono Dwi Susetyo
Pensiunan

Pemerhati masalah kehutanan; penulis buku

Giant Sea Wall 700 Km Vs Perlindungan Mangrove

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 15:53 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

RENCANA pemerintah membangun Giant Sea Wall (GSW) sepanjang 700 km yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada pidato penutupan International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, di hadapan para pemimpin industri, investor global, dan mitra pembangunan, Kamis (12/6/2025), mengundang banyak pertanyaan bagi para pengamat lingkungan di Indonesia.

Meski dalih pembangunan GSW sebagai komitmen nyata pemerintah menghadapi ancaman krisis iklim dan perlindungan wilayah pesisir, namun dampak lingkungan (ekologis) terhadap ekosistem dan biota laut yang hidup sepanjang pantai utara Jawa tentu tidak kecil di kemudian hari.

Presiden menyebut nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai 80 miliar dollar AS, dengan tahapan awal pembangunan di Teluk Jakarta yang diperkirakan menelan biaya 8-10 miliar dollar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap, pembangunan GSW dimulai dari utara Semarang. Panjang dari megaproyek itu akan mencapai 700 kilometer (km).

Baca juga: Butuh Rp 1.300 Triliun, Giant Sea Wall Ditawarkan Prabowo Ke Swasta

Pembangunan ini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mengantisipasi banjir rob dan perubahan iklim ekstrem.

Airlangga mengatakan, Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Apalagi, mayoritas masyarakat tinggal di pesisir yang rawan bencana.

Khusus di utara Pulau Jawa terjadi land subsidence 5-10 cm dan kenaikan permukaan air sampai 10 cm per tahun. Jadi, sekitar 40 juta penduduk di sepanjang utara Jawa terancam perubahan iklim.

Proyek GSW mengingatkan saya beberapa dam atau bendungan yang dibangun di pesisir pantai di negeri Belanda.

Pembangunan bendungan di Amsterdam, Belanda, terutama ditujukan mengendalikan banjir dan melindungi wilayah dari laut.

Salah satu bendungan terkenal adalah Dam, yang menjadi dasar nama kota Amsterdam dan terletak di Lapangan Dam.

Selain itu, ada juga Delta Works, sistem bendungan dan pintu air yang dirancang untuk melindungi wilayah delta Rhine-Meuse-Scheldt dari laut.

BANJIR ROB: Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak salah satu wilayah terparah terdampak banjir rob. Dok. Pemkab Demak BANJIR ROB: Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak salah satu wilayah terparah terdampak banjir rob.
Kasus kota Amsterdam dan pesisir di sekitarnya sangat berbeda dengan pesisir pantura Jawa. Dam atau bendungan di Amsterdam yang dibangun pada abad 13 dan seterusnya adalah untuk melindungi kota Amsterdam dan sebagian besar wilayah Belanda yang daratannya lebih rendah dari tinggi permukaan air laut.

Perlindungan alami seperti habitat ekosistem mangrove di sepanjang pesisir pantai tidak dipunyai oleh negara Belanda.

Sementara, di pantura Jawa (kecuali Jakarta dan Semarang yang sering terjadi banjir rob), daratannya lebih tinggi dari permukaan air laut.

Di samping itu, perlindungan alami seperti habitat ekosistem mangrove masih dapat ditemukan di pantura Jawa, meskipun di sebagian lokasi mengalami degradasi dan kerusakan akibat tekanan alih fungsi lahan di pesisir pantai.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Alarm Transisi Energi di Indonesia, Mengapa?
LSM/Figur
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau