Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
RENCANA pemerintah membangun Giant Sea Wall (GSW) sepanjang 700 km yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada pidato penutupan International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, di hadapan para pemimpin industri, investor global, dan mitra pembangunan, Kamis (12/6/2025), mengundang banyak pertanyaan bagi para pengamat lingkungan di Indonesia.
Meski dalih pembangunan GSW sebagai komitmen nyata pemerintah menghadapi ancaman krisis iklim dan perlindungan wilayah pesisir, namun dampak lingkungan (ekologis) terhadap ekosistem dan biota laut yang hidup sepanjang pantai utara Jawa tentu tidak kecil di kemudian hari.
Presiden menyebut nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai 80 miliar dollar AS, dengan tahapan awal pembangunan di Teluk Jakarta yang diperkirakan menelan biaya 8-10 miliar dollar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap, pembangunan GSW dimulai dari utara Semarang. Panjang dari megaproyek itu akan mencapai 700 kilometer (km).
Baca juga: Butuh Rp 1.300 Triliun, Giant Sea Wall Ditawarkan Prabowo Ke Swasta
Pembangunan ini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mengantisipasi banjir rob dan perubahan iklim ekstrem.
Airlangga mengatakan, Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Apalagi, mayoritas masyarakat tinggal di pesisir yang rawan bencana.
Khusus di utara Pulau Jawa terjadi land subsidence 5-10 cm dan kenaikan permukaan air sampai 10 cm per tahun. Jadi, sekitar 40 juta penduduk di sepanjang utara Jawa terancam perubahan iklim.
Proyek GSW mengingatkan saya beberapa dam atau bendungan yang dibangun di pesisir pantai di negeri Belanda.
Pembangunan bendungan di Amsterdam, Belanda, terutama ditujukan mengendalikan banjir dan melindungi wilayah dari laut.
Salah satu bendungan terkenal adalah Dam, yang menjadi dasar nama kota Amsterdam dan terletak di Lapangan Dam.
Selain itu, ada juga Delta Works, sistem bendungan dan pintu air yang dirancang untuk melindungi wilayah delta Rhine-Meuse-Scheldt dari laut.
BANJIR ROB: Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak salah satu wilayah terparah terdampak banjir rob. Perlindungan alami seperti habitat ekosistem mangrove di sepanjang pesisir pantai tidak dipunyai oleh negara Belanda.
Sementara, di pantura Jawa (kecuali Jakarta dan Semarang yang sering terjadi banjir rob), daratannya lebih tinggi dari permukaan air laut.
Di samping itu, perlindungan alami seperti habitat ekosistem mangrove masih dapat ditemukan di pantura Jawa, meskipun di sebagian lokasi mengalami degradasi dan kerusakan akibat tekanan alih fungsi lahan di pesisir pantai.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya