Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vatikan Berambisi Jadi Negara Netral Karbon Pertama lewat Ladang Surya

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 19:01 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Italia menyetujui rencana Vatikan untuk mengubah Santa Maria Galeria, lahan seluas 430 hektar di utara Roma, menjadi ladang panel surya yang luas.

Lahan ini dulunya pernah menjadi sumber perselisihan antara kedua pihak.

Dengan proyek ini, Vatikan berharap dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menjadikan Kota Vatikan sebagai negara netral karbon pertama di dunia.

Berdasarkan pernyataan dari Vatikan, kesepakatan itu menetapkan bahwa pengembangan situs Santa Maria Galeria akan tetap mempertahankan fungsi lahan sebagai area pertanian dan meminimalkan dampak lingkungan terhadap wilayah tersebut.

Rincian lebih lanjut tidak dirilis, tetapi Vatikan akan dikecualikan dari pembayaran pajak Italia untuk impor panel surya. Namun, Vatikan juga tidak akan mendapatkan keuntungan dari insentif finansial yang dinikmati oleh warga Italia saat mereka beralih ke energi surya.

Baca juga: China Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya Lepas Pantai Terbesar di Dunia

Italia, di sisi lain, dapat menggunakan ladang surya ini dalam perhitungan mereka untuk mencapai target energi bersih yang ditetapkan oleh Uni Eropa.

Sementara kelebihan listrik yang dihasilkan oleh ladang surya tersebut, di luar kebutuhan Vatikan, akan diberikan kepada masyarakat setempat.

Melansir Euro News, Jumat (5/8/2025), pihak Vatikan memperkirakan bahwa biaya pengembangan ladang surya tersebut akan di bawah 100 juta euro.

Setelah disetujui oleh parlemen Italia, kontrak-kontrak untuk pengerjaan proyek tersebut dapat mulai ditawarkan melalui proses lelang.

Menteri Luar Negeri Vatikan, Uskup Agung Paul Gallagher, menandatangani perjanjian tersebut dengan Duta Besar Italia untuk Takhta Suci, Francesco Di Nitto.

Lokasi Santa Maria Galeria telah lama menjadi sumber kontroversi karena gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh menara Radio Vatikan sejak tahun 1950-an.

Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik

Situs yang dulunya pedesaan dan terletak sekitar 35 kilometer di utara Roma ini didominasi oleh dua lusin antena radio gelombang pendek dan menengah. Antena-antena ini menyiarkan berita dari Gereja Katolik ke seluruh dunia dalam puluhan bahasa.

Selama bertahun-tahun, seiring dengan semakin berkembangnya wilayah tersebut, penduduk mulai mengeluhkan masalah kesehatan, termasuk kasus leukemia pada anak-anak. Mereka menyalahkan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh menara-menara sebagai penyebabnya.

Vatikan membantah adanya hubungan sebab-akibat, tetapi mengurangi transmisi siarannya.

Pada tahun 1990an, di puncak kontroversi terkait menara radio, penduduk menggugat para pejabat Radio Vatikan. Mereka mengklaim bahwa emisi yang dihasilkan melebihi batas hukum Italia, tetapi pengadilan membebaskan pemancar tersebut.

Pada tahun 2012, Vatikan mengumumkan bahwa mereka akan memangkas setengah jam siaran dari lokasi tersebut. Alasan yang diberikan bukan karena kekhawatiran kesehatan, melainkan karena adanya kemajuan teknologi hemat biaya dalam penyiaran melalui internet.

Sebelumnya, Paus Fransiskus tahun lalu meminta Vatikan untuk mempelajari pengembangan lahan tersebut menjadi ladang surya yang luas.

Tujuannya adalah untuk mempraktikkan ajarannya tentang perlunya transisi dari bahan bakar fosil dan mencari sumber energi bersih yang netral karbon.

Baca juga: Kemampuan Survival Orang Indonesia Berkurang akibat Politik Bansos dan Krisis Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perang, Emisi, dan Masa Depan Bumi
Perang, Emisi, dan Masa Depan Bumi
Pemerintah
Hari Perempuan Internasional 2026: Tema dan Sejarahnya
Hari Perempuan Internasional 2026: Tema dan Sejarahnya
Pemerintah
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Pemerintah
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Pemerintah
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau