KOMPAS.com - Italia menyetujui rencana Vatikan untuk mengubah Santa Maria Galeria, lahan seluas 430 hektar di utara Roma, menjadi ladang panel surya yang luas.
Lahan ini dulunya pernah menjadi sumber perselisihan antara kedua pihak.
Dengan proyek ini, Vatikan berharap dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menjadikan Kota Vatikan sebagai negara netral karbon pertama di dunia.
Berdasarkan pernyataan dari Vatikan, kesepakatan itu menetapkan bahwa pengembangan situs Santa Maria Galeria akan tetap mempertahankan fungsi lahan sebagai area pertanian dan meminimalkan dampak lingkungan terhadap wilayah tersebut.
Rincian lebih lanjut tidak dirilis, tetapi Vatikan akan dikecualikan dari pembayaran pajak Italia untuk impor panel surya. Namun, Vatikan juga tidak akan mendapatkan keuntungan dari insentif finansial yang dinikmati oleh warga Italia saat mereka beralih ke energi surya.
Baca juga: China Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya Lepas Pantai Terbesar di Dunia
Italia, di sisi lain, dapat menggunakan ladang surya ini dalam perhitungan mereka untuk mencapai target energi bersih yang ditetapkan oleh Uni Eropa.
Sementara kelebihan listrik yang dihasilkan oleh ladang surya tersebut, di luar kebutuhan Vatikan, akan diberikan kepada masyarakat setempat.
Melansir Euro News, Jumat (5/8/2025), pihak Vatikan memperkirakan bahwa biaya pengembangan ladang surya tersebut akan di bawah 100 juta euro.
Setelah disetujui oleh parlemen Italia, kontrak-kontrak untuk pengerjaan proyek tersebut dapat mulai ditawarkan melalui proses lelang.
Menteri Luar Negeri Vatikan, Uskup Agung Paul Gallagher, menandatangani perjanjian tersebut dengan Duta Besar Italia untuk Takhta Suci, Francesco Di Nitto.
Lokasi Santa Maria Galeria telah lama menjadi sumber kontroversi karena gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh menara Radio Vatikan sejak tahun 1950-an.
Baca juga: IRENA: Energi Terbarukan Jadi Pilihan Termurah untuk Produksi Listrik
Situs yang dulunya pedesaan dan terletak sekitar 35 kilometer di utara Roma ini didominasi oleh dua lusin antena radio gelombang pendek dan menengah. Antena-antena ini menyiarkan berita dari Gereja Katolik ke seluruh dunia dalam puluhan bahasa.
Selama bertahun-tahun, seiring dengan semakin berkembangnya wilayah tersebut, penduduk mulai mengeluhkan masalah kesehatan, termasuk kasus leukemia pada anak-anak. Mereka menyalahkan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh menara-menara sebagai penyebabnya.
Vatikan membantah adanya hubungan sebab-akibat, tetapi mengurangi transmisi siarannya.
Pada tahun 1990an, di puncak kontroversi terkait menara radio, penduduk menggugat para pejabat Radio Vatikan. Mereka mengklaim bahwa emisi yang dihasilkan melebihi batas hukum Italia, tetapi pengadilan membebaskan pemancar tersebut.
Pada tahun 2012, Vatikan mengumumkan bahwa mereka akan memangkas setengah jam siaran dari lokasi tersebut. Alasan yang diberikan bukan karena kekhawatiran kesehatan, melainkan karena adanya kemajuan teknologi hemat biaya dalam penyiaran melalui internet.
Sebelumnya, Paus Fransiskus tahun lalu meminta Vatikan untuk mempelajari pengembangan lahan tersebut menjadi ladang surya yang luas.
Tujuannya adalah untuk mempraktikkan ajarannya tentang perlunya transisi dari bahan bakar fosil dan mencari sumber energi bersih yang netral karbon.
Baca juga: Kemampuan Survival Orang Indonesia Berkurang akibat Politik Bansos dan Krisis Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya