JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) cenderung menurun pada 2025.
Dalam siklus empat tahunan, karhutla terparah terjadi pada 2015 dengan total 1,8 juta hektare. Lalu di 2019 turun menjadi 1 juta hektare, dan 2023 sekitar 600.000 hektare.
"Menurut kami sangat baik sekali di mana ada tren penurunan jumlah karhutla, kenapa bisa turun karena kami belajar dari kesalahan masa lalu sehingga dirumuskan strategi yang baik," ungkap Raja Juli dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (12/8/2025).
"Kami punya radar, satelit yang dapat membaca cuaca dan tingkat kemudahan terbakar," imbuh dia.
Baca juga: NTT Tak Masuk Prioritas Penanganan Karhutla, OMC Tetap Jalan
Pihaknya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan potensi karhutla terutama di wilayah rentan. Data ini kemudian digunakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menentukan upaya pemadaman berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), water bombing, patroli udara, hingga petugas di darat.
"Sehingga dengan modifikasi udara, operasi udara dan darat ini angka karhutla terus dapat turun termasuk pada tahun ini," jelas Raja Juli.
Kendati demikian, dia tetap mewanti-wanti masyarakat maupun pemerintah daerah untuk waspada lantaran cuaca masih tidak menentu.
"Riau, Kalimantan Selatan, Kalimann Tengah dan Kalimantan Barat tetap harus hati-hati mudah-mudahan selesai September nanti sudah masuk musim hujan dan aman," ucap dia.
Raja Juli mengaku, Kemenhut, BNPB, dan BMKG diminta Presiden Prabowo Subianto untuk meminimalkan kasus karhutla. Menurutnya, Prabowo menargetkan nol kasus kebakaran hutan ataupun lahan.
Baca juga: Karhutla 2025 Perparah Krisis Iklim dan Membuat Cuaca Makin Panas
"Diminta beliau pertama tekan angka karhutla sampai nol, tidak boleh ada asap yang lintas batas dan penegakan hukum. Nah tiga-tiga ini dikerjakan dengan baik," ujar dia.
Pihaknya berupaya mengontrol asap kebakaran agar tidak sampah ke negara tetangga seperti Malaysia ataupun Singapura. Selain itu, menegakan hukum dengan menangkap pelaku pembakaran. Setidaknya, saat ini ada 55 tersangka yang terlibat dalam kasus karhutla di Riau.
"Kombinasi (pemadaman) udara, darat, dan penegakan hukum plus partisipasi masyarakat peduli api menjadi modal sosial kita untuk bersama-sama menekan terus angka karhutla ini," sebut Raja Juli.
Mengutip laman Sipongi, Senin (11/8/2025), karhutla paling banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan luasan 1.424 ha periode Januari-Juli 2025.
Disusul Kalimantan Barat 1.149 ha, Riau 751 ha, Nusa Tenggara Barat 662 ha. Lalu Sumatera Barat seluas 511 ha, Sulawesi Selatan 474 ha, Maluku 421 ha, Aceh 354 ha, Kalimantan Timur 331 ha, Sumatera Utara 309 ha, serta Sulawesi Tengah 302 ha.
Baca juga: Menteri LH: Teknologi Kunci Atasi Karhutla, Deteksi Dini hingga Modifikasi Cuaca
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya