Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia

Kompas.com, 29 Agustus 2025, 16:31 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi baru mengungkapkan hiu paus di wilayah pariwisata populer sebagian besar mengalami cedera akibat aktivitas manusia.

Studi mencatat, 80 persen cedera hiu paus di perairan Indonesia merupakan bekas luka akibat tabrakan dengan perahu atau anjungan penangkapan ikan.

Dalam studinya, peneliti melacak 268 hiu paus selama 13 tahun di perairan Bird’s Head Seascape, Papua Barat, yang merupakan kawasan keanekaragaman hayati global dan destinasi wisata hiu paus yang populer.

Mereka menemukan bahwa tiga perempat dari hiu paus tersebut memiliki bekas luka atau luka terbuka, yang biasanya disebabkan oleh gesekan dengan anjungan penangkapan ikan yang dikenal sebagai bagan atau dari perahu-perahu wisata.

Sebagian besar hiu paus memiliki luka lecet ringan, tetapi hampir satu dari lima hiu paus mengalami luka serius, seperti amputasi atau luka sayatan dalam akibat baling-baling kapal.

Baca juga: Dubes Turki Ungkap Bagaimana Indonesia Bisa Tiru Negaranya dalam Pariwisata Berkelanjutan

"Luka dan cedera sebagian besar berasal dari penyebab antropogenik (ulah manusia), seperti tabrakan dengan anjungan penangkapan ikan dan perahu wisata pengamat hiu paus," kata Dr. Edy Setyawan, ilmuwan konservasi utama di Elasmobranch Institute Indonesia.

"Luka lecet minor yang relatif tidak berbahaya adalah jenis luka yang paling umum. Sementara itu, luka serius akibat penyebab alami, seperti serangan predator, atau akibat baling-baling perahu, jauh lebih jarang terjadi," katanya lagi, seperti dikutip dari Independent, Kamis (28/8/2025).

Hiu paus terdaftar sebagai spesies yang terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Populasi mereka telah menurun lebih dari 50 persen secara global selama 75 tahun terakhir, dan bahkan mencapai 63 persen di wilayah Indo-Pasifik.

Butuh waktu hingga 30 tahun bagi mereka untuk mencapai kematangan seksual, sehingga populasi hiu paus pulih dengan sangat lambat dari ancaman-ancaman seperti perburuan, terjerat jaring, dan hilangnya habitat.

Sebagian besar hiu paus di Papua adalah jantan remaja dengan panjang empat hingga lima meter.

Mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dekat permukaan air dan di sekitar anjungan penangkapan ikan (bagan). Hiu paus juga sering berkumpul di dekat bagan untuk langsung menyedot ikan teri dan ikan umpan lainnya dari jaring.

"Studi-studi sebelumnya dari seluruh dunia telah menunjukkan bahwa hiu paus dewasa, terutama yang betina, lebih menyukai laut dalam di mana mereka memangsa krill dan ikan yang berkoloni. Sementara itu, hiu paus jantan yang lebih muda tetap berada di dekat pantai di perairan dangkal yang kaya akan plankton, yang membantu mereka tumbuh dengan cepat," kata Mochamad Iqbal Herwata Putra dari Konservasi Indonesia, salah satu penulis studi.

Lebih lanjut, hampir separuh hiu telah terlihat kembali setidaknya sekali. Satu individu tercatat 34 kali selama tiga tahun.

Para peneliti mengatakan bahwa tingginya tingkat residensi (menetap) ini menunjukkan bahwa hiu paus harus dianggap sebagai aset pariwisata yang berharga bagi masyarakat lokal.

Baca juga: Pariwisata Jadi Kontributor Pertumbuhan Ekonomi tapi Rentah Perubahan Iklim

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau