Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasi Kebutuhan Green Skill, SBTi Buka Akademi untuk Upskilling Profesional Keberlanjutan

Kompas.com, 1 Oktober 2025, 18:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Science Based Targets initiative (SBTi) telah meluncurkan akademi pelatihan baru untuk meningkatkan keterampilan para praktisi dalam hal penetapan target berbasis sains (science-based targets).

Peluncuran ini dilakukan bersamaan dengan peluncuran daftar atau registri publik baru yang menampilkan para ahli yang dapat membantu perusahaan.

Para ahli yang terdaftar dalam daftar harus melewati tujuh tahap asesmen guna membuktikan kompetensi mereka dalam bidang-bidang seperti penilaian inventaris gas rumah kaca dan perancangan model target.

SBTi yakin bahwa daftar ahli yang baru diluncurkan ini akan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas keahlian yang diperlukan untuk memandu perusahaan dalam mengatasi kerumitan teknis saat menetapkan target pengurangan emisi yang berdasarkan ilmu pengetahuan.

Baca juga: Ilmuwan Surati SBTi: Solusi Iklim Berbasis Alam Lebih Murah dan Cepat

Sementara itu, melansir Edie, Selasa (30/9/2025) SBTi kini memiliki platform belajar online (e-learning) bernama SBTi Academy yang menyajikan berbagai kursus untuk mengasah kemampuan para profesional di bidang keberlanjutan.

Materi pembelajarannya berjenjang, dari tingkat dasar hingga keahlian yang dibutuhkan untuk proses sertifikasi.

"Meskipun tuntutan terhadap target berbasis sains terus bertambah, ketersediaan SDM yang terampil menjadi kendala umum dalam proses penetapannya," kata Tracy Wyman, Chief Impact Officer SBTi.

"SBTi Academy hadir untuk menutup kesenjangan kompetensi ini. Caranya adalah dengan menawarkan dasar pengetahuan bagi para pemula dan sertifikasi bagi para pakar yang sudah berpengalaman, sehingga perusahaan memiliki dukungan yang memadai untuk berhasil dalam upaya dekarbonisasi mereka," jelasnya.

SBTi Academy membagi pelatihannya menjadi tiga tingkatan agar para profesional keberlanjutan dari beragam level pengalaman bisa mendapatkan pelatihan dan upskilling yang sesuai.

Tersedia program pelatihan dasar untuk pemula guna membekali mereka dengan pemahaman awal tentang prinsip-prinsip utama penetapan target berbasis sains.

Tersedia pula "Practitioners’ Hub" yang berisi materi pelatihan berbayar mengenai target jangka pendek, target net-zero, dan Protokol Gas Rumah Kaca.

Di samping itu, didirikan juga "Certification Hub" yang berfungsi sebagai tempat para ahli mendapatkan sertifikasi setelah membuktikan bahwa mereka memiliki pemahaman menyeluruh tentang kriteria penetapan target berbasis sains.

Upaya tersebut menjadi salah satu cara SBTi untuk mengatasi kekurangan profesional di bidang keberlanjutan.

Baca juga: Demi Target Iklim Global, SBTi Luncurkan Standar Net Zero untuk Sektor Energi Listrik

Data dari LinkedIn menunjukkan bahwa permintaan akan keahlian hijau diprediksi naik dua kali lipat pada tahun 2050, tetapi penawaran talenta saat ini tidak mampu mengimbangi, sehingga terjadi defisit keterampilan yang cukup besar.

Permintaan dunia terhadap profesional di bidang keberlanjutan sendiri melonjak 11.6 persen antara tahun 2023 dan 2024, namun penawaran tenaga kerjanya hanya bertambah 5.6 persen.

Jika kondisi ini tidak berubah, kesenjangan antara permintaan dan penawaran tersebut diprediksi akan membesar hingga 101.5 persen pada tahun 2050.

Di sisi lain perusahaan terus mencari cara untuk mengatasi kekurangan talenta hijau.

Sebanyak 68 persen perusahaan saat ini memilih untuk mengisi posisi hijau dari internal, dan 60 persen melaporkan bahwa karyawan yang mengisi posisi ini sebelumnya tidak memiliki latar belakang atau keahlian di bidang keberlanjutan.

Baca juga: Pemprov Jabar Konsisten Dukung Keberlanjutan Citarum Harum

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau