Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

COP30: Target Iklim 1,5 Derajat C yang Tak Tercapai adalah Kegagalan Moral

Kompas.com, 7 November 2025, 15:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Kegagalan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat C merupakan kegagalan moral dan kelalaian fatal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada sesi pembukaan KTT iklim Cop30 di kota Belém, Brasil.

Dalam pernyataannya, Guterres mengungkapkan bahkan melampaui batas sementara pemanasan akan memiliki konsekuensi dramatis.

Hal tersebut dapat mendorong ekosistem melewati titik kritis, membuat miliaran orang terpapar kondisi yang tak layak huni, dan mengancam perdamaian seta keamanan.

Di depan kepala negara lebih dari 30 negara, ia pun mendesak untuk mengubah paradigma agar dampak dari melampaui batas 1,5 derajat C dapat diminimalkan.

Baca juga: Pakar Peringatkan, Kredit Karbon Justru Hambat Target Iklim Global

"Setiap sepersekian derajat berarti lebih banyak kelaparan, pengungsian, dan kerugian, terutama bagi mereka yang paling tidak bertanggung jawab. Ini adalah kegagalan moral dan kelalaian yang mematikan," katanya, dikutip dari Guardian, Kamis (6/11/2025).

Organisasi Meteorologi Dunia sebelumnya telah mengonfirmasi emisi gas rumah kaca yang memanaskan planet ini telah mencapai rekor tertinggi.

Tahun 2025 juga berada di jalur untuk menjadi tahun terhangat kedua atau ketiga yang pernah tercatat.

Dalam kesempatan yang sama Guterres menyampaikan pula telah ada beberapa kemajuan dalam membatasi emisi, namun belum cukup cepat.

Banyak negara telah mengajukan rencana yang lebih ambisius untuk mengurangi emisi. Jika rencana tersebut diterapkan sepenuhnya, katanya, dunia akan berada di jalur menuju pemanasan global sekitar 2,3 derajat C.

Prakiraan ini menempatkan planet ini dalam kondisi berbahaya, tetapi jauh lebih baik daripada yang diperkirakan 20 tahun lalu.

Baca juga: Eropa Sepakat Target Iklim 2040, tapi Ambisinya Melemah, Minta Kelonggaran

Hal ini sebagian besar berkat dukungan internasional untuk perjanjian Paris 2015 dan revolusi energi bersih yang semakin cepat. Namun, beberapa negara kuat mulai menjauh dari aksi iklim, terutama AS.

Industri minyak, gas dan batu bara menghambat perubahan ini. Perusahaan-perusahaan di sektor tersebut justru mendapatkan subsidi dan dukungan politik yang sangat besar dan menggunakannya untuk merugikan semua orang.

Sementara di sisi lain, banyak negara telah dilanda bencana iklim.

Negara-negara di belahan bumi selatan menginginkan negara-negara maju di belahan bumi utara untuk memberikan dukungan dalam beradaptasi dengan cuaca yang semakin ekstrem dan membantu mereka dalam transisi energi, tetapi komitmen keuangan sejauh ini jauh di bawah 1,3 triliun dolar AS per tahun yang disepakati pada Cop29 di Baku.

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva menambahkan bahwa tidak mungkin ada solusi untuk krisis iklim tanpa mengatasi ketimpangan di dalam dan antarnegara, dan mengatakan mereka harus terinspirasi oleh masyarakat adat yang hidup lebih berkelanjutan dengan alam.

Baca juga: Bisa Suplai Listrik Stabil, Panas Bumi Lebih Tahan Krisis Iklim Ketimbang EBT Lain

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
Pemerintah
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Pemerintah
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau