Penulis utama studi, Haruko Wainwright mengatakan komunitas nuklir telah mencoba untuk mencari berbagai strategi dan teknologi isolasi limbah sejak tahun 1950-an.
"Upaya-upaya ini harus ditingkatkan dan dipercepat lebih lanjut," katanya
Ia menambahkan pula, jika pada saat yang sama, satu pihak memilih untuk tidak menggunakan energi nuklir karena masalah limbah, hal itu akan mendorong industri untuk beralih kembali ke bahan bakar fosil yang memiliki dampak lingkungan dan kesehatan yang jauh lebih parah dan langsung.
I-129 sendiri bukanlah sesuatu yang dapat kita lihat, cium, atau rasakan. Tetapi itu merupakan masalah besar dalam limbah nuklir karena bertahan sangat lama.
Waktu paruhnya sekitar 15,7 juta tahun. Waktu Paruh adalah waktu yang dibutuhkan agar separuh dari atom radioaktif suatu zat meluruh.
Iodin-129 juga mudah berpindah melalui tanah dan air, yang berarti pada akhirnya dapat mencapai manusia jika tidak ditampung.
Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya