KOMPAS.com - Saat pembangkit listrik tenaga nuklir selesai mengekstrak energi dari bahan bakarnya, pembangkit tersebut ternyata masih menyisakan limbah yang tetap radioaktif selama jutaan tahun.
Salah satu sumber masalah terbesar dalam limbah ini adalah iodium-129, atau I-129. Ini adalah isotop keras kepala yang tidak mudah terurai, dan jika masuk ke dalam tubuh manusia, terutama tiroid dapat meningkatkan risiko kanker.
Itu membuat I-129 akhirnya menjadi satu bagian yang paling diperhatikan dalam pengelolaan limbah nuklir.
Saat ini, berbagai negara mengambil pendekatan beragam untuk mengelolanya. Beberapa mengubur limbah tersebut jauh di bawah tanah. Yang lain menyaring dan melepaskan sebagian ke lingkungan.
Baca juga: IAEA: Dekarbonisasi dengan Manfaatkan Nuklir Tak Boleh Abaikan Keamanan dan Keselamatan
Prancis merupakan negara yang membiarkan sebagian limbah itu mengalir langsung ke laut.
Melansir Earth, Minggu (9/11/2025) sebuah studi baru dari MIT dan beberapa laboratorium nasional kemudian membandingkan strategi-strategi tersebut.
Para peneliti menemukan perbedaan besar dalam jumlah I-129 yang dilepaskan oleh masing-masing metode ke lingkungan, dan bagaimana pelepasan tersebut dapat memengaruhi manusia seiring waktu.
Prancis, yang mendaur ulang bahan bakar nuklir bekasnya, membuang sekitar 153 kilogram I-129 ke laut setiap tahun.
Jumlah itu masih dalam batas regulasi mereka, tetapi para peneliti menemukan bahwa pendekatan ini melepaskan sekitar 90 persen dari total I-129 yang berasal dari bahan bakar bekas ke lingkungan.
Di sisi lain, pendekatan AS melibatkan penyegelan limbah nuklir dalam wadah dan menguburnya jauh di bawah tanah.
Metode pengelolaan limbah ini terbukti lebih efektif dalam menahan isotop berbahaya I-129. Tingkat pelepasan radioaktifnya jauh lebih rendah dan lebih aman dibandingkan dengan metode lain.
Sementara itu, metode ketiga, yang menggunakan filter selama pemrosesan ulang, mengurangi pelepasan menjadi sekitar 0,05 kilogram per gigawatt-tahun. Sebagian besar I-129 yang ditangkap kemudian disimpan di lokasi bawah tanah yang dangkal.
Namun, metode ini membawa risiko terhadap orang-orang yang mungkin secara tak sengaja menggali lokasi-lokasi ini berabad-abad kemudian.
Baca juga: Indonesia Jajaki Penggunaan Reaktor Nuklir Modular untuk Pasok Listrik di Wilayah Timur
Peneliti pun mengungkapkan tidak ada metode pembuangan limbah nuklir yang bebas risiko. Metode Prancis saat ini membuang sebagian besar I-129 ke laut, tetapi dalam konsentrasi rendah.
Metode AS mengunci limbah dalam jangka panjang, tetapi kegagalan di masa mendatang dapat melepaskannya dengan cara yang lebih terkonsentrasi.
Penulis utama studi, Haruko Wainwright mengatakan komunitas nuklir telah mencoba untuk mencari berbagai strategi dan teknologi isolasi limbah sejak tahun 1950-an.
"Upaya-upaya ini harus ditingkatkan dan dipercepat lebih lanjut," katanya
Ia menambahkan pula, jika pada saat yang sama, satu pihak memilih untuk tidak menggunakan energi nuklir karena masalah limbah, hal itu akan mendorong industri untuk beralih kembali ke bahan bakar fosil yang memiliki dampak lingkungan dan kesehatan yang jauh lebih parah dan langsung.
I-129 sendiri bukanlah sesuatu yang dapat kita lihat, cium, atau rasakan. Tetapi itu merupakan masalah besar dalam limbah nuklir karena bertahan sangat lama.
Waktu paruhnya sekitar 15,7 juta tahun. Waktu Paruh adalah waktu yang dibutuhkan agar separuh dari atom radioaktif suatu zat meluruh.
Iodin-129 juga mudah berpindah melalui tanah dan air, yang berarti pada akhirnya dapat mencapai manusia jika tidak ditampung.
Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya