Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PR Besar Temukan Cara Aman Buang Limbah Nuklir, Iodin-129 Bisa Bertahan 15 Juta Tahun

Kompas.com, 11 November 2025, 19:33 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Saat pembangkit listrik tenaga nuklir selesai mengekstrak energi dari bahan bakarnya, pembangkit tersebut ternyata masih menyisakan limbah yang tetap radioaktif selama jutaan tahun.

Salah satu sumber masalah terbesar dalam limbah ini adalah iodium-129, atau I-129. Ini adalah isotop keras kepala yang tidak mudah terurai, dan jika masuk ke dalam tubuh manusia, terutama tiroid dapat meningkatkan risiko kanker.

Itu membuat I-129 akhirnya menjadi satu bagian yang paling diperhatikan dalam pengelolaan limbah nuklir.

Saat ini, berbagai negara mengambil pendekatan beragam untuk mengelolanya. Beberapa mengubur limbah tersebut jauh di bawah tanah. Yang lain menyaring dan melepaskan sebagian ke lingkungan. 

Baca juga: IAEA: Dekarbonisasi dengan Manfaatkan Nuklir Tak Boleh Abaikan Keamanan dan Keselamatan

Prancis merupakan negara yang membiarkan sebagian limbah itu mengalir langsung ke laut.

Melansir Earth, Minggu (9/11/2025) sebuah studi baru dari MIT dan beberapa laboratorium nasional kemudian membandingkan strategi-strategi tersebut.

Para peneliti menemukan perbedaan besar dalam jumlah I-129 yang dilepaskan oleh masing-masing metode ke lingkungan, dan bagaimana pelepasan tersebut dapat memengaruhi manusia seiring waktu.

Prancis, yang mendaur ulang bahan bakar nuklir bekasnya, membuang sekitar 153 kilogram I-129 ke laut setiap tahun.

Jumlah itu masih dalam batas regulasi mereka, tetapi para peneliti menemukan bahwa pendekatan ini melepaskan sekitar 90 persen dari total I-129 yang berasal dari bahan bakar bekas ke lingkungan.

Di sisi lain, pendekatan AS melibatkan penyegelan limbah nuklir dalam wadah dan menguburnya jauh di bawah tanah.

Metode pengelolaan limbah ini terbukti lebih efektif dalam menahan isotop berbahaya I-129. Tingkat pelepasan radioaktifnya jauh lebih rendah dan lebih aman dibandingkan dengan metode lain.

Sementara itu, metode ketiga, yang menggunakan filter selama pemrosesan ulang, mengurangi pelepasan menjadi sekitar 0,05 kilogram per gigawatt-tahun. Sebagian besar I-129 yang ditangkap kemudian disimpan di lokasi bawah tanah yang dangkal.

Namun, metode ini membawa risiko terhadap orang-orang yang mungkin secara tak sengaja menggali lokasi-lokasi ini berabad-abad kemudian.

Baca juga: Indonesia Jajaki Penggunaan Reaktor Nuklir Modular untuk Pasok Listrik di Wilayah Timur

Peneliti pun mengungkapkan tidak ada metode pembuangan limbah nuklir yang bebas risiko. Metode Prancis saat ini membuang sebagian besar I-129 ke laut, tetapi dalam konsentrasi rendah.

Metode AS mengunci limbah dalam jangka panjang, tetapi kegagalan di masa mendatang dapat melepaskannya dengan cara yang lebih terkonsentrasi.

Penulis utama studi, Haruko Wainwright mengatakan komunitas nuklir telah mencoba untuk mencari berbagai strategi dan teknologi isolasi limbah sejak tahun 1950-an.

"Upaya-upaya ini harus ditingkatkan dan dipercepat lebih lanjut," katanya

Ia menambahkan pula, jika pada saat yang sama, satu pihak memilih untuk tidak menggunakan energi nuklir karena masalah limbah, hal itu akan mendorong industri untuk beralih kembali ke bahan bakar fosil yang memiliki dampak lingkungan dan kesehatan yang jauh lebih parah dan langsung.

I-129 sendiri bukanlah sesuatu yang dapat kita lihat, cium, atau rasakan. Tetapi itu merupakan masalah besar dalam limbah nuklir karena bertahan sangat lama.

Waktu paruhnya sekitar 15,7 juta tahun. Waktu Paruh adalah waktu yang dibutuhkan agar separuh dari atom radioaktif suatu zat meluruh.

Iodin-129 juga mudah berpindah melalui tanah dan air, yang berarti pada akhirnya dapat mencapai manusia jika tidak ditampung.

Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau