KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya, dunia memiliki data yang terverifikasi dan komprehensif tentang seberapa banyak CO2 yang sebenarnya berhasil disimpan secara permanen di bawah tanah melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
Laporan ini dibuat oleh konsorsium internasional baru yang terdiri dari ilmuwan dan mitra industri, termasuk Norwegian University of Science and Technology (NTNU).
Laporan tahunan pertama dari kolaborasi baru ini mengungkapkan bahwa lebih dari 383 juta ton karbon dioksida telah tersimpan sejak tahun 1996. Jumlah ini setara dengan 81.044.946 mobil bertenaga bensin yang dikendarai selama satu tahun.
Penyimpanan massal ini sebagian besar merupakan hasil dari proyek-proyek di Amerika Serikat, China, Brasil, Australia, dan Timur Tengah, dengan proyeksi pertumbuhan berkelanjutan pada tahun 2024–2025.
Baca juga: 19 Proyek CCS Bakal Dibangun di RI, Disebut Jadi Kunci Dekarbonisasi Paling Ampuh
"Pesan utama dari laporan kami adalah bahwa CCS berhasil, menunjukkan kemampuan yang telah terbukti dan mempercepat momentum penyimpanan geologis CO2," kata Profesor Samuel Krevor, Direktur Register dan Profesor Penyimpanan Karbon Bawah Permukaan di Departemen Ilmu dan Teknik Kebumian (ESE) di Imperial.
"Kami telah menemukan bahwa manajemen karbon skala industri sudah menjadi kenyataan dan dapat dengan aman menyerap CO2 jauh di bawah tanah, yang akan menjadi strategi kunci mengurangi total CO2 di atmosfer," katanya lagi, dikutip dari Phys, Senin (17/11/2025).
Laporan ini memberikan bukti yang jelas bahwa teknologi CCS merupakan alat penting untuk menghindari dan menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer, pada skala yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim.
Laporan juga menyoroti bahwa CCS bukanlah sebuah konsep untuk masa depan, melainkan sebuah teknologi yang terbukti dan terukur yang beroperasi secara efektif saat ini.
"Banyak spekulasi tentang CCS selama beberapa dekade terakhir tetapi di sini kami mendokumentasikan kemajuan aktualnya," kata Philip Ringrose, Profesor Geosains Transisi Energi di NTNU.
Menurut Ringrose, penyimpanan karbon global telah mengalami tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 17 persen sejak tahun 1996 dan pada tahun 2023 tingkat penyimpanannya mencapai 45 juta ton per tahun.
Baca juga: Pemanfaatan Teknologi CCS Justru Berisiko Tingkatkan Emisi Karbon
CCS mencegah CO2 yang dilepaskan dari proses industri dan pembangkit listrik memasuki atmosfer dengan memisahkannya dari gas lain dan menginjeksikannya ke bawah tanah, biasanya pada kedalaman satu kilometer atau lebih.
Tempat CO2 tersebut terperangkap secara permanen dalam formasi geologi seperti reservoir minyak dan gas yang telah habis.
CCS penting untuk dekarbonisasi sektor industri yang tidak dapat beroperasi hanya dengan listrik terbarukan, seperti produksi besi dan baja, dan saat ini merupakan satu-satunya teknologi yang tersedia untuk secara langsung mengatasi emisi dari proses ini.
Badan-badan internasional seperti Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC) mengakui CCS sebagai teknologi krusial untuk mencapai emisi nol bersih.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya