Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terobosan Data Iklim, Studi Rilis Rekam Jejak Penyimpanan CO2 Bawah Tanah Dunia

Kompas.com, 20 November 2025, 08:21 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya, dunia memiliki data yang terverifikasi dan komprehensif tentang seberapa banyak CO2 yang sebenarnya berhasil disimpan secara permanen di bawah tanah melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).

Laporan ini dibuat oleh konsorsium internasional baru yang terdiri dari ilmuwan dan mitra industri, termasuk Norwegian University of Science and Technology (NTNU).

Laporan tahunan pertama dari kolaborasi baru ini mengungkapkan bahwa lebih dari 383 juta ton karbon dioksida telah tersimpan sejak tahun 1996. Jumlah ini setara dengan 81.044.946 mobil bertenaga bensin yang dikendarai selama satu tahun.

Penyimpanan massal ini sebagian besar merupakan hasil dari proyek-proyek di Amerika Serikat, China, Brasil, Australia, dan Timur Tengah, dengan proyeksi pertumbuhan berkelanjutan pada tahun 2024–2025.

Baca juga: 19 Proyek CCS Bakal Dibangun di RI, Disebut Jadi Kunci Dekarbonisasi Paling Ampuh

"Pesan utama dari laporan kami adalah bahwa CCS berhasil, menunjukkan kemampuan yang telah terbukti dan mempercepat momentum penyimpanan geologis CO2," kata Profesor Samuel Krevor, Direktur Register dan Profesor Penyimpanan Karbon Bawah Permukaan di Departemen Ilmu dan Teknik Kebumian (ESE) di Imperial.

"Kami telah menemukan bahwa manajemen karbon skala industri sudah menjadi kenyataan dan dapat dengan aman menyerap CO2 jauh di bawah tanah, yang akan menjadi strategi kunci mengurangi total CO2 di atmosfer," katanya lagi, dikutip dari Phys, Senin (17/11/2025).

Laporan ini memberikan bukti yang jelas bahwa teknologi CCS merupakan alat penting untuk menghindari dan menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer, pada skala yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim.

Laporan juga menyoroti bahwa CCS bukanlah sebuah konsep untuk masa depan, melainkan sebuah teknologi yang terbukti dan terukur yang beroperasi secara efektif saat ini.

"Banyak spekulasi tentang CCS selama beberapa dekade terakhir tetapi di sini kami mendokumentasikan kemajuan aktualnya," kata Philip Ringrose, Profesor Geosains Transisi Energi di NTNU.

Menurut Ringrose, penyimpanan karbon global telah mengalami tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 17 persen sejak tahun 1996 dan pada tahun 2023 tingkat penyimpanannya mencapai 45 juta ton per tahun.

Baca juga: Pemanfaatan Teknologi CCS Justru Berisiko Tingkatkan Emisi Karbon

CCS mencegah CO2 yang dilepaskan dari proses industri dan pembangkit listrik memasuki atmosfer dengan memisahkannya dari gas lain dan menginjeksikannya ke bawah tanah, biasanya pada kedalaman satu kilometer atau lebih.

Tempat CO2 tersebut terperangkap secara permanen dalam formasi geologi seperti reservoir minyak dan gas yang telah habis.

CCS penting untuk dekarbonisasi sektor industri yang tidak dapat beroperasi hanya dengan listrik terbarukan, seperti produksi besi dan baja, dan saat ini merupakan satu-satunya teknologi yang tersedia untuk secara langsung mengatasi emisi dari proses ini.

Badan-badan internasional seperti Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB (IPCC) mengakui CCS sebagai teknologi krusial untuk mencapai emisi nol bersih.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Siswa SMAN 2 Balikpapan Ciptakan VisionRun Smart Glasses, Bantu Tunanetra Joging Lebih Aman
Siswa SMAN 2 Balikpapan Ciptakan VisionRun Smart Glasses, Bantu Tunanetra Joging Lebih Aman
LSM/Figur
Optimasi Penataan Rak di Toko Ritel Bisa Turut Kurangi Sampah Makanan
Optimasi Penataan Rak di Toko Ritel Bisa Turut Kurangi Sampah Makanan
LSM/Figur
Laut yang Memanas Bisa Bikin Populasi Ikan Menghilang
Laut yang Memanas Bisa Bikin Populasi Ikan Menghilang
LSM/Figur
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Swasta
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
LSM/Figur
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
Pemerintah
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
LSM/Figur
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
LSM/Figur
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
LSM/Figur
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
Swasta
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Swasta
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Pemerintah
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
LSM/Figur
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
Pemerintah
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau