Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ratusan Ilmuwan Tandatangani Deklarasi Dartington, Desak Pemimpin Dunia Atasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 2 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Ratusan ilmuwan menandatangani Deklarasi Dartington untuk mendesak para pemimpin dunia dan pembuat kebijakan agar bertindak cepat dalam mengatasi perubahan iklim.

Deklarasi ini berpendapat bahwa umat manusia akan terdorong ke zona bahaya jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi setengahnya pada tahun 2030.

Baca juga: 

“Jika kita menunggu, semuanya akan terlambat. Kebijakan dan masyarakat sipil harus bekerja sama untuk mencegah titik kritis yang lebih merusak dan memanfaatkan peluang titik kritis yang positif," tulis deklarasi tersebut, dilansir Selasa (2/12/2025).

“Masa depan planet ini berada di ujung tanduk. Ke mana arahnya bergantung bergantung pada tindakan kita sekarang dan di tahun-tahun mendatang,” tambah deklarasi tersebut, dilansir dari Euronews, Selasa (2/12/2025).

Adapun sejauh ini, Deklarasi Dartington didukung oleh 583 ilmuwan dan 579 pendukung lainnya yang semuanya bergelar PhD atau lebih tinggi.

Baca juga:

Deklarasi Dartington serukan pengurangan emisi gas rumah kaca

Ratusan ilmuwan menandatangani Deklarasi Dartington untuk mendesak para pemimpin dunia agar bertindak cepat dalam mengatasi perubahan iklim.Dok. Shutterstock/Matic Stojs Lomovsek Ratusan ilmuwan menandatangani Deklarasi Dartington untuk mendesak para pemimpin dunia agar bertindak cepat dalam mengatasi perubahan iklim.

Deklarasi Dartington menyerukan pengurangan emisi gas rumah kaca global yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebuah langkah yang mustahil dilakukan tanpa transisi cepat dari bahan bakar fosil.

Menurut Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), bahan bakar fosil sejauh ini merupakan penyumbang terbesar perubahan iklim global, tepatnya sekitar 68 persen emisi gas rumah kaca dunia dan hampir 90 persen dari seluruh emisi karbon dioksida.

Lebih lanjut, deklarasi ini juga menyerukan peningkatan cepat penghapusan karbon berkelanjutan dari atmosfer dengan melindungi dan memulihkan penyerap karbon alami, seperti hutan.

Jika sumber karbon terdegradasi atau terdeforestasi, sumber tersebut justru dapat melepaskan karbon yang tersimpan kembali ke atmosfer.

Hal ini telah terjadi di beberapa bagian hutan hujan Amazon, yang dulu disebut sebagai paru-paru Bumi, serta di banyak hutan di Afrika dan Asia Tenggara.

Tanah merupakan penyerap karbon lain yang saat ini menyimpan lebih dari 2.800 gigaton karbon di lapisan satu meter teratas.

Namun, laju degradasi saat ini berisiko melepaskan cadangan karbon besar di dalam tanah ke atmosfer, mencapai 4,81 miliar ton karbon dioksida setiap tahun.

Deklarasi ini mendesak pula para pemimpin dunia untuk fokus pada strategi yang dapat memicu perubahan sistemik yang cepat dan positif untuk menjamin tercapainya tujuan iklim Perjanjian Paris dan menghindari bencana iklim.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
LSM/Figur
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?
LSM/Figur
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
Saat Petani Nilam di Aceh mulai “Bankable”, Ini Peran Data dalam Inklusi Keuangan
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
Emisi Gas Rumah Kaca dari Air Limbah Ternyata Jauh Lebih Besar
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Harga Minyak Global Naik, Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
LSM/Figur
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Pemerintah
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
Swasta
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
LSM/Figur
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia 'Happy' karena Rekan dan Budaya Perusahaan
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan
LSM/Figur
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
LSM/Figur
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
LSM/Figur
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau