Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air di Jakarta Tercemar Bakteri Koli Tinja, Ini Penyebabnya

Kompas.com, 11 Desember 2025, 09:22 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin mengatakan air sungai, situ, dan waduk di Jakarta tercemar berbagai bakteri, antara lain bakteri koli dan bakteri koli tinja.

Hal itu diketahui berdasarkan penelitian DLH DKI Jakarta, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB University, Lemtek Universitas Indonesia, serta Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung.

Baca juga: 

“Kondisi ini disebabkan oleh utamanya grey water atau air buangan domestik yang tidak mengandung tinja atau urin dari bak mandi, pancuran, wastafel kamar mandi, dan mesin cuci yang belum terkelola dengan baik,” kata Dudi dalam keteranyannya, Kamis (11/12/2025).

Air di Jakarta tercemar bakteri, apa sebabnya?

Riset DLH DKI Jakarta bersama IPB dan UI menemukan air sungai, situ, dan waduk tercemar bakteri koli dan koli tinja.Dok. Unsplash/dapiki moto Riset DLH DKI Jakarta bersama IPB dan UI menemukan air sungai, situ, dan waduk tercemar bakteri koli dan koli tinja.

Menurut Dudi, masyarakat cenderung membuang limbah sembarangan dengan sistem pengelolaan limbah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dan permukiman yang belum terkelola dengan baik.

Selain itu, kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) ditemukan dalam pemantauan kualitas air situ atau waduk di Jakarta.

Para peneliti juga menemukan air tidak memenuhi parameter fenol, total fosfat, total nitrogen, kebutuhan oksigen secara proses biologis dalam air.

Di Waduk Rawa Kepa, misalnya, banyak saluran limbah yang langsung masuk ke dalam badan air situ atau waduk melalui saluran perpipaan rumah tangga.

Dampaknya adalah meningkatnya risiko penyebaran bakteri koli dan bakteri koli tinja dalam badan air yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Upaya penyediaan septic tank komunal dan sistem pengelolaan limbah harus dibuat secara luas untuk memenuhi kualitas lingkungan yang lebih baik,” papar peneliti IPB University, Zaenal Abidin.

Baca juga:

Metode riset

Pengerukan Kali Cideng di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan pada Senin (21/4/2025).Hanifah Salsabila Pengerukan Kali Cideng di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan pada Senin (21/4/2025).

Sekretaris Eksekutif PPLH IPB University, Liyantono mengatakan, risetnya dilakukan dengan membagi sungai-sungai di DKI Jakarta menjadi enam klaster untuk memudahkan menentukan prioritas pengelolaan.

Pembagian ini dilakukan berdasarkan karakteristik dan level pencemaran dari ruas sungai.

Karakteristik sungai dicirikan dari lebar, kedalaman, kelokan, dan kecepatan arus dari ruas sungai yang diamati. Peneliti kemudian mengaitkannya dengan nilai indeks pencemaran dari ruas sungai yang diukur pada titik tertentu.

“Sebagai contoh, korelasi yang ditemukan di ruas Kali Cideng dominan ditemukan cemar berat. Hal ini sesuai dengan kondisi air yang memiliki aliran lambat dan input air hanya mengandalkan dari saluran grey water dari warga,” kata Liyantono.

Temuan lainnya, perilaku masyarakat terhadap pengelolaan limbah domestik dan sanitasi relatif sama. Dia berpandangan, pencemaran air disebabkan perilaku serta kesadaran masyarakat.

Di samping itu, keberadaan septic tank yang tidak memenuhi standar membuat terjadinya potensi rembesan limbah menuju resapan air tanah. Alhasil, ditemukan bakteri koli tinja dalam air tanah warga.

“Seharusnya keberadaan bakteri koli ini tidak boleh ada sama sekali dalam air tanah sesuai aturan dari Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Hal yang unik, berdasarkan temuan dari tim, saluran grey water terkadang bercampur dengan saluran buang air kecil," tutur Liyantono.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau