Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gabriel Abdi Susanto
Jurnalis, Konten Kreator, SEO Spesialis,

Gabriel Abdi Susanto adalah seorang jurnalis, penulis, dan pemikir publik asal Indonesia yang aktif dalam bidang komunikasi, filsafat, dan spiritualitas. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, lulus pada tahun 2001 .

Siklon Tropis di Indonesia: Fenomena Langka dan Ancaman Nyata Akhir Tahun

Kompas.com, 27 Desember 2025, 11:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Akibatnya, hujan deras yang disertai angin kencang terjadi secara berkepanjangan di Aceh, Sumatera Utara, dan sekitarnya. (Kompas.com, 2025)

Baca juga: Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana

Tidak hanya itu. Dalam bulan Desember 2025, BMKG memantau beberapa sistem tekanan rendah atau bibit siklon seperti 96S dan 93S, yang berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dan memengaruhi wilayah Indonesia melalui peningkatan curah hujan, gelombang tinggi, hingga angin kencang di perairan selatan dan pesisir barat Nusantara. (BMKG, 2025)

Laporan BMKG bahkan menyebut bahwa “Indonesia dikelilingi tiga sistem siklon tropis” menjelang pertengahan Desember, termasuk Kepulauan Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

Meskipun pusatnya tidak selalu bergerak langsung menuju daratan Indonesia, efek tidak langsung dari sistem ini menjadi pemicu utama hujan ekstrem di wilayah barat dan selatan kawasan kita. (Indonesian National Police, 2025)

Apa yang selama ini dipandang sekadar fenomena meteorologi kini berubah menjadi bencana nyata yang merenggut nyawa dan menghancurkan kehidupan jutaan orang.

Akhir November hingga awal Desember 2025, Indonesia mengalami salah satu bencana banjir terburuk dalam sejarah baru-baru ini.

Curah hujan yang luar biasa deras, yang dipicu oleh kombinasi musim monsun dan pengaruh Siklon Tropis Senyar, mengakibatkan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (TDMRC, 2025).

Menurut beberapa laporan internasional, ratusan hingga lebih dari enam ratus orang tewas, ribuan lainnya hilang, dan jutaan orang terdampak akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara dan Aceh.

Infrastruktur penting runtuh, permukiman terendam, dan ratusan ribu orang terpaksa dievakuasi akibat banjir yang tidak kunjung surut. (LeMonde, 2025)

Selain korban jiwa, kerusakan ekonomi dan sosial juga sangat besar. Jutaan rumah rusak atau terendam, lahan pertanian musnah, jaringan transportasi utama putus, dan harga kebutuhan pokok meningkat tajam di wilayah yang paling terdampak.

Ketika bencana meteorologi semacam ini terjadi, menjadi jelas bahwa persoalan cuaca ekstrem bukan sekadar masalah “alam”, tetapi risiko besar bagi ketahanan sosial, ekonomi, dan keselamatan rakyat.

Siklon di akhir tahun dan potensi Tahun Baru

Memasuki akhir tahun, pola cuaca tropis Indonesia biasanya berada di fase puncak musim hujan. Ini berarti zonasi konvergensi intertropis (zona pertemuan angin pasat) menempati wilayah Indonesia bagian selatan, yang memperkuat potensi pembentukan awan konvektif intens.

Jika disertai dengan keberadaan bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan, efeknya bisa menjadi sangat serius melalui peningkatan curah hujan, gelombang tinggi, dan angin kencang. (BMKG, 2025)

BMKG secara berkala memperingatkan bahwa akhir Desember hingga awal Tahun Baru 2026 berpeluang menghadirkan cuaca ekstrem akibat kombinasi faktor lokal dan global — termasuk monsun Asia, penguatan zona konvergensi, dan bibit siklon tropis yang terbentuk di perairan Samudra Hindia.

Secara historis, periode ini juga memicu banjir di daerah hilir sungai besar seperti Sumatra dan Jawa. (BMKG, 2025)

Baca juga: Bencana Sumatera dan Batas Klaim “Kita Mampu”

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau