Joanna Haigh, profesor emeritus fisika atmosfer di Imperial College London mengungkapkan bencana tersebut bukanlah "bencana alam".
Hal tersebut merupakan akibat yang tak terhindarkan dari penggunaan bahan bakar fosil secara masif dan penundaan kebijakan.
Badan iklim dan antariksa Uni Eropa, Copernicus mengungkapkan tahun 2025 menjadi tahun terpanas kedua di dunia yang pernah tercatat.
Senada dengan hal itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut, 10 tahun terakhir merupakan 10 tahun terpanas sejak pencatatan dimulai.
Pada saat yang sama, emisi global terus meningkat, sebagian besar didorong oleh pembakaran batu bara, minyak dan gas, bahkan ketika kapasitas energi terbarukan telah berkembang pesat.
Baca juga: Riset: Mayoritas Perusahaan Bangun Proyek Baru di Lokasi yang Rentan Bencana Iklim
Panas tambahan tersebut memperparah cuaca ekstrem. Termasuk sebagian besar bencana tahun ini ditemukan telah diperparah oleh krisis iklim.
Atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air, meningkatkan risiko curah hujan yang lebih deras dan banjir, sedangkan kondisi yang lebih panas dan kering memperburuk gelombang panas, kekeringan, dan musim kebakaran hutan.
Lautan juga menghangat, berkontribusi pada badai yang lebih kuat dan pemutihan karang yang meluas.
“Badai dahsyat, banjir yang menghancurkan, dan kekeringan berkepanjangan membalikkan kehidupan dan mata pencaharian. Komunitas termiskin adalah yang pertama dan paling parah terkena dampaknya," tutur Kepala Eksekutif Christian Aid, Patrick Watt.
Baca juga: Walhi Sebut Banjir Sumatera Bencana yang Direncanakan, Soroti Izin Tambang dan Sawit
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya