KOMPAS.com - Bencana iklim sepanjang tahun 2025 telah merugikan dunia lebih dari 120 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 2.012,8 triliun).
Kerugian sebenarnya mungkin bisa jauh lebih besar karena bencana di negara-negara berkembang sebagian besar tidak diasuransikan dan tak tercatat.
Baca juga:
"Sementara negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa yang hilang, rumah yang hancur, dan masa depan yang sirna," kata Direktur Power Shift Africa yang berbasis di Nairobi, Mohamed Adow, dikutip dari Independent.co.uk, Senin (29/12/2025).
Tinjauan terhadap peristiwa cuaca ekstrem tahun ini menunjukkan bahwa Asia menyumbang empat dari enam bencana iklim termahal sepanjang tahun 2025.
Banyak bencana paling mematikan di tempat lain tidak termasuk dalam daftar peristiwa dengan biaya tertinggi karena kerugian finansialnya tidak diasuransikan.
Analisis yang dilakukan oleh lembaga amal Christian Aid mengidentifikasi 10 bencana terkait iklim yang masing-masing menyebabkan kerusakan lebih dari 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,7 triliun), dengan total kerugian gabungan melebihi 122 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.047,2 triliun).
Sebagian besar angka tersebut didasarkan pada kerugian yang diasuransikan yang cenderung paling tinggi di negara-negara kaya, dengan nilai properti yang tinggi dan cakupan asuransi yang lebih luas.
Kebakaran hutan di California, AS, menyebabkan kerugian lebih dari 60 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.006,8 triliun) dan menyebabkan lebih dari 400 kematian. Bencana ini menjadikannya bencana tunggal termahal tahun ini.
Namun, Asia mendominasi daftar secara keseluruhan.
Baca juga:
Foto udara kondisi sekitar jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025). Warga masih melintasi jembatan darurat dari batang kayu akibat jalan dan jembatan penghubung antara Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah-Sibolga serta Medan putus diterjang banjir bandang pada Selasa (29/11). Siklon dan banjir di Asia bagian selatan dan tenggara pada November 2025 lalu menyebabkan kerugian sekitar 25 miliar dollar AS (sekitar Rp 419,4 triliun) dan menewaskan lebih dari 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia.
Banjir di China menyebabkan kerugian 11,7 miliar dollar AS (sekitar Rp 196,3 triliun) dan menewaskan sedikitnya 30 orang, sedangkan banjir dan tanah longsor di India dan Pakistan menewaskan lebih dari 1.860 orang dan memengaruhi jutaan orang.
Topan di Filipina menyebabkan kerugian lebih dari lima miliar dollar AS (sekitar Rp 83,8 triliun) dan berdampak pada lebih dari 1,4 juta orang.
Di banyak negara berkembang, bencana dengan dampak kemanusiaan yang parah dinilai sama sekali tidak muncul dalam peringkat biaya global.
Banjir di Nigeria dan Republik Demokratik Kongo menewaskan ratusan orang, sedangkan kekeringan berkepanjangan di Iran dan Asia Barat telah menyebabkan hingga 10 juta orang di Teheran menghadapi prospek evakuasi karena kekurangan air.
Pembangunan jembatan Bailey dilakukan di daerah terdampak bencana banjir dan tanah longsor, Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada Sabtu (27/12/2025). Joanna Haigh, profesor emeritus fisika atmosfer di Imperial College London mengungkapkan bencana tersebut bukanlah "bencana alam".
Hal tersebut merupakan akibat yang tak terhindarkan dari penggunaan bahan bakar fosil secara masif dan penundaan kebijakan.
Badan iklim dan antariksa Uni Eropa, Copernicus mengungkapkan tahun 2025 menjadi tahun terpanas kedua di dunia yang pernah tercatat.
Senada dengan hal itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut, 10 tahun terakhir merupakan 10 tahun terpanas sejak pencatatan dimulai.
Pada saat yang sama, emisi global terus meningkat, sebagian besar didorong oleh pembakaran batu bara, minyak dan gas, bahkan ketika kapasitas energi terbarukan telah berkembang pesat.
Baca juga: Riset: Mayoritas Perusahaan Bangun Proyek Baru di Lokasi yang Rentan Bencana Iklim
Panas tambahan tersebut memperparah cuaca ekstrem. Termasuk sebagian besar bencana tahun ini ditemukan telah diperparah oleh krisis iklim.
Atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air, meningkatkan risiko curah hujan yang lebih deras dan banjir, sedangkan kondisi yang lebih panas dan kering memperburuk gelombang panas, kekeringan, dan musim kebakaran hutan.
Lautan juga menghangat, berkontribusi pada badai yang lebih kuat dan pemutihan karang yang meluas.
“Badai dahsyat, banjir yang menghancurkan, dan kekeringan berkepanjangan membalikkan kehidupan dan mata pencaharian. Komunitas termiskin adalah yang pertama dan paling parah terkena dampaknya," tutur Kepala Eksekutif Christian Aid, Patrick Watt.
Baca juga: Walhi Sebut Banjir Sumatera Bencana yang Direncanakan, Soroti Izin Tambang dan Sawit
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya