Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tantangan Industri Sawit di Indonesia 2026, Produktif Tanpa Ekspansi Lahan

Kompas.com, 5 Januari 2026, 15:02 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Program Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) disebut bertujuan meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Saat ini, perkebunan kelapa sawt rakyat berkontribusi sekitar 42 persen dari total luas secara nasional.

Meski luas, produktivitas crude palm oil (CPO) perkebunan kelapa sawit rakyat masih rendah atau 3,1-3,5 ton per hektar. Dengan demikian, kontribusi produksi kelapa sawit rakyat sekitar 34-35 persen dari total produksi nasional.

Minimnya kontribusi dari produksi kelapa sawit rakyat tersebut perlu diperlakukan sebagai permasalahan struktural yang diselesaikan pemerintah secara sistematis dan bertahap.

Apalagi, penyelesaian masalah PSR dapat meningkatkan produksi CPO nasional dan kesejahteraan petani.

Legalitas lahan dan good agricultural practice, peremajaan tanaman kelapa sawit yang sudah tua dan tidak produktif dinilai penting untuk mendongkrak produktivitas perkebunan rakyat.

Kendala biaya peremajaan disebut bisa diatasi dengan insentif PSR Rp 60 juta per hektar melalui program PSR, yang serapannya masih rendah.

Realisasi PSR periode Januari hingga Oktober 2025 sebesar 22 persen dari 120.000 hektar yang ditargetkan.

Hal ini disebabkan hambatan legalitas lahan, koordinasi lintas K/L dengan pemerintah daerah, akses pembiayaan, dan kapasitas pekebun.

Capaian program PSR hanya 30-50 ribu hektar setiap tahun sehingga tidak terlalu berdampak terhadap peningkatan produksi CPO. Sebab, peningkatan tanaman tua dan tak produktif lebih cepat ketimbang yang dapat diremajakan.

Baca juga: 

Sertifikasi Berkelanjutan ISPO

Industri kelapa sawit Indonesia pada 2026 dituntut tumbuh tanpa perluasan lahan. Simak penjelasan IPOSS berikut.SHUTTERSTOCK/litalalla Industri kelapa sawit Indonesia pada 2026 dituntut tumbuh tanpa perluasan lahan. Simak penjelasan IPOSS berikut.

Untuk memenuhi standar keberlanjutan internasional, terutama European Union Deforestation (EUDR) pada 2026, perlu penguatan sertifikasi keberlanjutan perkebunan kelapa sawit, Indonesian Sustainable Palm Oil.

Hingga Juli 2025, sekitar 6,6 juta hektar atau 40 persen perkebunan kelapa sawit telah tersertifikasi ISPO. Perkebunan kelapa sawit yang terverifikasi ISPO masih didominasi perusahaan berskala besar.

Untuk memperkuat ISPO, melalui Perpres No. 16/2025, pemerintah memperluas cakupan audit dari hulu ke hilir dan mengadopsi geo-traceability sebagai dasar ketertelusuran yang lebih transparan.

Sistem informasi ISPO (SI-ISPO) juga terhubung dengan data perizinan, tata ruang, dan informasi kawasan hutan sehingga setiap bagian dari rantai pasok kelapa sawit Indonesia bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan standar keberlanjutan internasional.

Indonesia bisa memenuhi persyaratan EUDR sebagai produsen kelapa sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di pasar global dengan berbagai penyesuaian ISPO itu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau