Dari sekitar 23.000 pohon Aomori todomatsu di Prefektur Yamagata, seperlima tegakannya telah mati, dengan lebih sedikit cabang dan daun. Hal itu mengakibatkan terbatasnya permukaan tempat salju dan es menempel.
Studi lain tahun 2019 mengungkapkan, suhu rata-rata dari Desember-Maret di Kota Yamagata telah meningkat dua derajat celsius selama 120 tahun terakhir.
Imbasnya, batas terendah pembentukan juhyo bergeser ke atas seiring dengan pemanasan ini.
"Bentang alam yang unik sudah mulai hilang akibat krisis iklim," ujar ahli ekologi dari Universitas Tokyo, Akihiko Ito.
Cuaca ekstrem akibat krisis iklim telah merusak banya hutan pegunungan di Jepang. Perubahan pada musim semi dan gugur bisa merusak dedaunan dan wabah serangga menjadi semakin luas.
"Tekanan ini dapat mengurangi pertumbuhan dan kepadatan hutan," ucap Ito.
Baca juga:
Suhu di seluruh pegunungan Jepang telah meningkat lebih cepat daripada rata-rata global sejak tahun 1980-an.
Dalam skenario krisis iklim yang terus belanjut secara signifian hingga akhir abad ke-21, ada kemungkinan musim dingin akan menjadi lebih hangat dari biasanya dan juhyo kemungkinan tidak akan terbentuk sama sekali.
Prefektur Yamagata meluncurkan Konferensi Revitalisasi Juhyo, yang mengkoordinasi peneliti, pejabat, bisnis lokal, serta penduduk untuk memulihkan hutan cemara dan melestarikan "monster salju" Gunung Zao.
Bukan sekadar keindahan alam, Juhyo telah menjadi pilar ekonomi lokal di wilayah tersebut dan kehilangannya akan menjadi pukulan telak.
Adapun pohon Aomori todomatsu membutuhkan waktu 50-70 tahun untuk tumbuh dewasa. Maka dari itu, pelestarian pohon Aomori todomatsu memerlukan kesabaran dan keberlanjutan melalui upaya konservasi antar generasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya