KOMPAS.com - Penulis Jepang, Kyuya Fukada pernah mendokumentasikan juhyo atau "monster salju" di Pegunungan Kitami, Hokkaido, pada Desember 1941.
"Suatu kali saya terkejut melihat juhyo terbentang sejauh mata memandang di sebuah lapangan luas di sisi timur puncak gunung," tulis Fukada dalam bukunya "100 Gunung Jepang", dilansir dari The Asahi Shimbun, Jumat (9/1/2026).
Baca juga:
Bahkan, profesor emeritus geokimia di Universitas Yamagata, Fumitaka Yanagisawa, punya foto tertua tentang juhyo, yang diambil oleh seorang anggota klub pendaki gunung Universitas Keio di pegunungan Zao, pada tahun 1921.
Lantas, apa itu juhyo dan bagaimana kondisinya saat ini?
Juhyo atau “monster salju” di Gunung Zao, Jepang, terancam punah akibat krisis iklim dan serangan wabah.Juhyo merupakan pohon-pohon cemara yang diselimuti embun beku dan salju tebal sehingga seolah "membengkak". Sepintas memang terlihat seperti "monster salju".
Juhyo hanya terbentuk dalam kondisi atmosfer sangat langka. Juhyo muncul saat spesies cemara Jepang, Aomori todomatsu, diterpa secara terus-menerus oleh angin musim dingin yang membawa tetesan air.
Juhyo di Gunung Zao terbentuk saat angin barat bertiup kencang hingg 25 meter per detik, dengan suhu permukaan antara -6,3 derajat celsius hingga -0,1 derajat celsius.
Embun beku menebal di sisi pohon yang menghadap angin dan punggungannya saling tumpang tindih, membentuk juhyo yang khas dengan formasi berkelompok yang menjulang tinggi.
"Karena kondisi meteorologi dan ekologi yang sangat tepat seperti itu hanya terjadi di sedikit tempat, 'monster salju' (Gunung) Zao adalah fenomena yang hampir unik di Jepang utara," ujar Yanagisawa, dilansir dari BBC.
Juhyo menjadi daya tarik musim dingin terbesar di Gunung Zao yang terletak di antara Prefektur Yamagata dan Miyagi. Keunikannya mampu menarik puluhan ribu pengunjung ke gunung tersebut setiap tahunnya.
Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa ukuran juhyo semakin rampung, yang mengidentifikasi keajaiban alam unik tersebut berada dalam ambang kepunahan.
Baca juga:
Dengan menganalisis foto-foto puncak Gunung Zao dari sudut yang sama yang diambil sejak tahun 1933, studi itu mengukur ketebalan formasi juhyo pada skala enam poin.
Temuan yang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tersebut menunjukkan meluasnya penyusutan juhyo.
"Pada tahun 1930-an, kita melihat juhyo dengan lebar lima hingga enam meter (16-20 kaki). Pada dekade pasca-perang, lebarnya sering kali dua hingga tiga meter (7-10 kaki). Sejak 2019, banyak yang lebarnya setengah meter (1,6 kaki) atau kurang. Beberapa bahkan hampir tidak menyerupai tiang," jelas Yanagisawa, yang memimpin tim peneliti.
Menurut Yanagisawa, penyusutan juhyo disebabkan menghangatkan bumi dipicu krisis iklim.
Tidak hanya itu, pohon Aomori todomatsu diserang wabah ngengat pada tahun 2013, yang melucuti jarum daunnya.
Kemudian, pada 2015, kumbang kulit kayu menyerang pohon Aomori todomatsu, melubangi batangnya yang melemah.
Juhyo atau “monster salju” di Gunung Zao, Jepang, terancam punah akibat krisis iklim dan serangan wabah.Dari sekitar 23.000 pohon Aomori todomatsu di Prefektur Yamagata, seperlima tegakannya telah mati, dengan lebih sedikit cabang dan daun. Hal itu mengakibatkan terbatasnya permukaan tempat salju dan es menempel.
Studi lain tahun 2019 mengungkapkan, suhu rata-rata dari Desember-Maret di Kota Yamagata telah meningkat dua derajat celsius selama 120 tahun terakhir.
Imbasnya, batas terendah pembentukan juhyo bergeser ke atas seiring dengan pemanasan ini.
"Bentang alam yang unik sudah mulai hilang akibat krisis iklim," ujar ahli ekologi dari Universitas Tokyo, Akihiko Ito.
Cuaca ekstrem akibat krisis iklim telah merusak banya hutan pegunungan di Jepang. Perubahan pada musim semi dan gugur bisa merusak dedaunan dan wabah serangga menjadi semakin luas.
"Tekanan ini dapat mengurangi pertumbuhan dan kepadatan hutan," ucap Ito.
Baca juga:
Suhu di seluruh pegunungan Jepang telah meningkat lebih cepat daripada rata-rata global sejak tahun 1980-an.
Dalam skenario krisis iklim yang terus belanjut secara signifian hingga akhir abad ke-21, ada kemungkinan musim dingin akan menjadi lebih hangat dari biasanya dan juhyo kemungkinan tidak akan terbentuk sama sekali.
Prefektur Yamagata meluncurkan Konferensi Revitalisasi Juhyo, yang mengkoordinasi peneliti, pejabat, bisnis lokal, serta penduduk untuk memulihkan hutan cemara dan melestarikan "monster salju" Gunung Zao.
Bukan sekadar keindahan alam, Juhyo telah menjadi pilar ekonomi lokal di wilayah tersebut dan kehilangannya akan menjadi pukulan telak.
Adapun pohon Aomori todomatsu membutuhkan waktu 50-70 tahun untuk tumbuh dewasa. Maka dari itu, pelestarian pohon Aomori todomatsu memerlukan kesabaran dan keberlanjutan melalui upaya konservasi antar generasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya