Selain energi fosil dan bioenergi, Inten menilai pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan potensi yang dimiliki. Salah satu yang perlu didorong adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), seiring dengan peningkatan efisiensi teknologi panel surya.
Isu intermitensi atau ketidakstabilan pasokan listrik dari PLTS dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) selama ini kerap menjadi sorotan. Namun, Inten menilai perkembangan teknologi baterai dan sistem penyimpanan energi dapat menjadi solusi utama.
“Ke depan, baterai bisa seperti baterai telepon seluler, semakin kecil, semakin tipis, kapasitasnya semakin besar, dan life cycle-nya semakin baik. Jadi, ini seharusnya tidak lagi menjadi alasan. Tinggal kemauan saja,” ujarnya.
Baca juga: Inggris Catat Rekor Tertinggi Produksi Listrik Energi Terbarukan pada 2025
Selain tenaga surya dan air, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam pengembangan energi hidrogen, tenaga angin, hingga energi gelombang laut. Dengan sekitar dua pertiga wilayah Indonesia berupa lautan, potensi energi laut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
“Indonesia ini negara kepulauan, negara maritim. Harusnya energi laut itu dimanfaatkan. Minimal satu pilot project dulu,” kata Inten.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya