KOMPAS.com - Kerugian akibat bencana alam di seluruh dunia pada tahun 2025 turun tajam menjadi 224 miliar dollar Amerika Serikat (AS) (sekitar Rp 3.776 triliun). Angka tersebut turun hampir 40 persen dari tahun sebelumnya.
"(Penurunan) sebagian karena tidak ada badai yang menghantam daratan Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun," demikian keterangan dari perusahaan reasuransi, Munich Re, dilansir dari AFP, Rabu (14/1/2026).
Baca juga:
Penyedia asuransi yang berbasis di Jerman ini memperingatkan bahwa gambaran tersebut menyisakan sesuatu yang masih "mengkhawatirkan". Utamanya, risiko semakin banyaknya bencana akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.
"Meskipun demikian, gambaran besarnya mengkhawatirkan terkait banjir, badai hebat, dan kebakaran hutan pada tahun 2025," bunyi keterangan Munich Re.
Berdasarkan dalam laporan bencana tahunan dari perusahaan tersebut, bencana termahal pada 2025 terjadi dalam bentuk kebakaran hutan Los Angeles, Amerika Serikat, pada bulan Januari.
Baca juga:
Total kerugian kebakaran hutan di Los Angeles mencapai 53 miliar dollar AS (sekitar Rp 893,8 triliun). Sementara itu, kerugian kebakaran hutan di Los Angeles yang telah diasuransikan sekitar 40 miliar dollar AS (sekitar Rp 674,5 triliun).
Menurut kepala ilmuwan iklim Munich Re, Tobias Grimm, sangat mengejutkan betapa banyaknya bencana akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim pada tahun 2025.
"Kebetulan saja dunia terhindar dari potensi kerugian yang lebih tinggi. Planet ini sedang 'demam', dan akibatnya kita melihat serangkaian peristiwa cuaca ekstrem dan intens," ujar Grimm.
Petugas pemadam kebakaran menyaksikan api Hughes Fire di kebakaran Los Angeles membakar perbukitan di Castaic, Negara Bagian California, Amerika Serikat, Rabu (22/1/2025).Bulan lalu, pemain utama lain di industri reasuransi, Swiss Re juga melaporkan penurunan besar untuk tahun 2025, dengan total kerugian mencapai 220 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.710 triliun).
Berdasarkan laporan Munich Re, kerugian yang diasuransikan untuk tahun 2025 juga menurun tajam dibandingkan tahun lalu atau mencapai 108 miliar dollar AS (Rp 1.821 triliun).
"Sekitar 17.200 jiwa tewas dalam bencana alam di seluruh dunia, jauh lebih tinggi daripada sekitar 11.000 pada tahun 2024, tetapi di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 17.800," tutur Grimm.
Ia menambahkan, tahun 2025 adalah tahun dengan "dua sisi". Paruh pertama tahun 2025 merupakan periode kerugian termahal yang pernah dialami industri asuransi.
Namun, paruh kedua tahun 2025 justru mengalami kerugian terendah dalam satu dekade.
Saat ini, biaya kumulatif dari bencana berskala kecil, seperti banjir lokal dan kebakaran hutan, berkontribusi terhadap dampak terbesar.
Laporan Munich Re, kerugian dari berbagai bencana berskala kecil pada 2025 sebesar 166 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.799 triliun).
Pekerja yang mengenakan pakaian hazmat menyemprotkan disinfektan untuk mensterilkan reruntuhan bangunan yang runtuh di Mandalay pada 2 April 2025, lima hari setelah gempa bumi besar melanda Myanmar bagian tengah. Beberapa hari setelah gempa bumi dangkal berkekuatan M 7,7 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang, banyak orang di Myanmar masih tidur di luar ruangan, karena tidak dapat kembali ke rumah yang hancur atau takut akan gempa susulan lebih lanjut.Setelah kebakaran hutan di Los Angeles, bencana termahal tahun 2025 adalah gempa bumi dahsyat yang melanda Myanmar pada bulan Maret.
Diperkirakan gempa bumi Myanmar menyebabkan kerugian 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 202,3 triliun), yang hanya sebagian kecilnya diasuransikan.
Siklon tropis mengakibatkan kerugian sekitar 37 miliar dollar AS (sekitar Rp 623,9 triliun). Jamaika dihantam oleh Badai Melissa, salah satu badai terkuat yang pernah mendarat, menghasilkan kerugian sekitar 9,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 165,2 triliun).
Baca juga:
Berdasarkan wilayah, total kerugian Amerika Serikat mencapai 118 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.990,3 triliun), dengan 88 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.484,3 triliun) di antaranya diasuransikan.
Sementara itu, kawasan Asia-Pasifik mengalami kerugian sekitar $73 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.231,3 triliun) dengan hanya sembilan miliar dollar AS (sekitar Rp 151,8 triliun) yang diasuransikan.
Australia mengalami tahun termahal kedua dalam hal kerugian keseluruhan akibat bencana alam sejak tahun 1980 karena serangkaian badai dan banjir hebat.
Eropa mengalami kerugian sebesar 11 miliar dollar AS (sekitar Rp 185,5 triliun). Untuk Afrika, bencana alam menyebabkan kerugian sebesar tiga miliar dollar AS (sekitar Rp 50,6 triliun), kurang dari seperlima di antaranya diasuransikan.
Laporan Munich Re muncul pada saat skeptisisme terhadap kebijakan ramah lingkungan meningkat, terutama sejak kembalinya Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke tampuk kekuasaan.
Namun Grimm memperingatkan bahwa Bumi "terus menghangat".
"Lebih banyak panas berarti lebih banyak kelembapan, curah hujan yang lebih deras, dan kecepatan angin yang lebih tinggi, perubahan iklim sudah berkontribusi pada cuaca ekstrem," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya