Laporan tentang tahun terpanas muncul saat upaya mengurangi emisi gas rumah kaca di negara-negara maju mengalami kemunduran.
Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat meningkat tahun lalu, mengakhiri penurunan selama dua tahun berturut-turut. Musim dingin yang ekstrem dan perkembangan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) memicu permintaan energi di Amerika Serikat.
Selain Amerika Serikat, laju pengurangan emisi gas rumah kaca juga melambat di Jerman dan Perancis.
Baca juga:
"Meskipun emisi gas rumah kaca tetap menjadi faktor utama penyebab pemanasan global, besarnya lonjakan terbaru ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tambahan telah memperkuat pemanasan terbaru melampaui apa yang kita harapkan dari emisi gas rumah kaca dan variabilitas alami saja,” kata ilmuwan utama Berkeley Earth, Robert Rohde.
Sebelumnya dilaporkan, pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis pada tahun 2025 melambat dan masih jauh dari target untuk mencapai tujuan iklimnya.
Perlambatan terjadi karena komitmen pemerintah Perancis untuk mengatasi krisis iklim, melemah.
Tidak hanya itu, Perancis dan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya dinilai kesulitan memenuhi janji mereka dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
"Emisi (GRK) Prancis diperkirakan menurun 1,6 persen dari tahun ke tahun," demikian keterangan Citepa, organisasi nirlaba yang ditugaskan oleh Kementerian Ekologi Prancis untuk menghitung inventaris emisi gas rumah kaca negara itu.
Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?Citepa sebelumnya memperkirakan penurunan hanya 0,8 persen pada tahun 2025. Namun, data terbaru dan metode perhitungan yang diperbarui memungkinkan perkiraan yang lebih akurat untuk sepanjang tahun.
Pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis sebesar 5,8 juta ton karbon dioksida ekuivalen, sangat jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target tahun 2030.
Padahal Perancis perlu mengurangi emisi gas rumah kaca hampir tiga kali lipat lebih besar dari capaian tersebut.
Rendahnya capaian Perancis tersebut mencerminkan perlambatan di negara tetangganya, Jerman.
Berdasarkan laporan Agora Energiewend, Jerman hanya mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,5 persen pada tahun 2025.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya