Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

2025 Termasuk Tahun Terpanas di Dunia, Bagaimana Tahun 2026?

Kompas.com, 15 Januari 2026, 09:24 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

Aksi iklim negara-negara maju melemah

Laporan tentang tahun terpanas muncul saat upaya mengurangi emisi gas rumah kaca di negara-negara maju mengalami kemunduran.

Emisi gas rumah kaca di Amerika Serikat meningkat tahun lalu, mengakhiri penurunan selama dua tahun berturut-turut. Musim dingin yang ekstrem dan perkembangan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) memicu permintaan energi di Amerika Serikat. 

Selain Amerika Serikat, laju pengurangan emisi gas rumah kaca juga melambat di Jerman dan Perancis.

Baca juga:

"Meskipun emisi gas rumah kaca tetap menjadi faktor utama penyebab pemanasan global, besarnya lonjakan terbaru ini menunjukkan bahwa faktor-faktor tambahan telah memperkuat pemanasan terbaru melampaui apa yang kita harapkan dari emisi gas rumah kaca dan variabilitas alami saja,” kata ilmuwan utama Berkeley Earth, Robert Rohde.

Sebelumnya dilaporkan, pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis pada tahun 2025 melambat dan masih jauh dari target untuk mencapai tujuan iklimnya.

Perlambatan terjadi karena komitmen pemerintah Perancis untuk mengatasi krisis iklim, melemah.

Tidak hanya itu, Perancis dan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya dinilai kesulitan memenuhi janji mereka dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

"Emisi (GRK) Prancis diperkirakan menurun 1,6 persen dari tahun ke tahun," demikian keterangan Citepa, organisasi nirlaba yang ditugaskan oleh Kementerian Ekologi Prancis untuk menghitung inventaris emisi gas rumah kaca negara itu.

Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?Unsplash/Mika Baumeister Tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan tahun 2023. Bagaimana tahun 2026?

Citepa sebelumnya memperkirakan penurunan hanya 0,8 persen pada tahun 2025. Namun, data terbaru dan metode perhitungan yang diperbarui memungkinkan perkiraan yang lebih akurat untuk sepanjang tahun.

Pengurangan emisi gas rumah kaca Perancis sebesar 5,8 juta ton karbon dioksida ekuivalen, sangat jauh di bawah laju yang dibutuhkan untuk mencapai target tahun 2030.

Padahal Perancis perlu mengurangi emisi gas rumah kaca hampir tiga kali lipat lebih besar dari capaian tersebut.

Rendahnya capaian Perancis tersebut mencerminkan perlambatan di negara tetangganya, Jerman.

Berdasarkan laporan Agora Energiewend, Jerman hanya mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 1,5 persen pada tahun 2025.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
LSM/Figur
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
BrandzView
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau