KOMPAS.com - Tiga sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026, yang akan digelar di Italia, diprotes karena dianggap sebagai pencemar lingkungan. Kesepakatan ketiga sponsor tersebut diprediksi bakal menghasilkan 1,3 juta ton emisi karbon dioksida.
Para ilmuwan dan atlet pun membentuk aliansi menjelang ajang olahraga tersebut untuk menyoroti bagaimana kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan besar bisa meningkatkan jejak karbon.
Baca juga:
"Olimpiade akan selalu menghasilkan emisi, dan mengurangi emisi tersebut harus menjadi prioritas. Namun, pengaruh terbesar Olimpiade adalah sinyal yang mereka kirimkan ke dunia," ucap atlet ski lintas alam Swedia, Björn Sandström, dilansir dari Euronews, Senin (19/1/2026).
Olimpiade Musim Dingin 2026 akan berlangsung di pegunungan yang sebagian besar berada di Dolomites, daerah yang semakin terancam oleh perubahan iklim.
Panitia penyelenggara berencana membuat 2,4 juta meter kubik salju buatan yang akan membutuhkan 948.000 meter kubik air. Sebab, suhu yang meningkat terus mencairkan wilayah tersebut.
Dalam lima tahun terakhir, Italia dilaporkan kehilangan 265 resor ski akibat kenaikan suhu.
Analisis tahun 2024 menemukan bahwa pemanasan global menghantam wilayah pegunungan, termasuk Alpen, lebih intens daripada daerah dataran rendah.
Baca juga:
Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 di Italia diprotes karena dinilai sebagai pencemar lingkungan.Sebuah laporan baru berjudul Olympics Torched, yang diterbitkan oleh Scientists for Global Responsibility dan New Weather Institute, menyampaikan bahwa Olimpiade Musim Dingin 2026 akan menghasilkan sekitar 930.000 ton emisi.
Namun, jejak karbon tersebut berpotensi bertambah dengan adanya kesepakatan dengan sponsor yang dianggap sebagai pencemar lingkungan.
Para peneliti memperingatkan, hanya dari tiga kesepakatan sponsor, diperkirakan akan menghasilkan tambahan 1,3 juta ton emisi.
Angka tersebut meningkatkan total jejak karbon ajang olahraga ini hingga hampir dua setengah kali lipat.
Total dampak dari Olimpiade Musim Dingin 2026 beserta para sponsor tersebut akan menyebabkan hilangnya sekitar 5,5 kilometer persegi tutupan salju. Angka tersebut setara dengan luas wilayah lebih dari 3.000 lapangan hoki es ukuran Olimpiade.
"Bahkan tanpa tumpukan bukti ilmiah yang terus bertambah mengenai dampak pemanasan global terhadap olahraga musim dingin, sudah cukup jelas bagi siapa pun yang mengunjungi pegunungan secara langsung bahwa tutupan salju mulai menghilang dan gletser-gletser pun mencair," kata Direktur Scientists for Global Responsibility, Stuart Parkinson.
Laporan itu menunjukkan bahwa ajang olahraga ini turut berkontribusi terhadap dampak tersebut, baik secara langsung melalui emisi karbonnya maupun dengan mempromosikan para pencemar besar melalui iklan dan sponsor.
Baca juga: F1 Turunkan Jejak Karbon di Tengah Pertumbuhan Olahraga yang Pesat
Sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 di Italia diprotes karena dinilai sebagai pencemar lingkungan.Salah satu tindakan yang dinilai efektif untuk mengurangi emisi adalah dengan mengakhiri kesepakatan sponsor Olimpiade Musim Dingin 2026 dengan perusahaan-perusahaan penghasil karbon tinggi.
Tidak hanya itu, bisa pula dengan menghindari pembangunan tempat dan infrastruktur baru dan secara signifikan mengurangi jumlah penonton yang bepergian melalui udara.
Atlet biathlon asal Greenland, Ukaleq Slettermak berpendapat bahwa tidak dapat dibenarkan jika olahraga musim dingin memberikan wadah bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk membantu mereka terlihat seolah-olah berkontribusi secara positif kepada masyarakat, padahal kenyataannya tidak.
"Ini adalah sebuah kontradiksi total ketika industri bahan bakar fosil menjadi penyumbang terbesar terhadap perubahan iklim, yang menyebabkan musim dingin menghilang, dan oleh karena itu juga menjadi ancaman bagi keberadaan olahraga musim dingin itu sendiri," ucap Slettermak.
Baca juga: Suhu Ekstrem Jadi Isu, FIFA Diminta Sesuaikan Jadwal Piala Dunia
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya