Sebagai informasi, 23 zettajoule dalam satu tahun tersebut setara dengan energi 12 bom Hiroshima yang meledak di laut setiap detiknya.
Hal tersebut merupakan peningkatan besar dibandingkan dengan 16 zettajoule panas yang diserap lautan pada tahun 2024.
Secara regional, sekitar 33 persen dari luas laut global masuk dalam tiga kondisi terpanas sepanjang sejarah (1985-2025).
"Sementara itu, sekitar 57 persen masuk dalam lima kondisi terpanas, termasuk Samudera Atlantik tropis dan selatan, Laut Mediterania, Samudera Hindia utara, dan Samudera Selatan (Samudera Antartika), yang menunjukkan pemanasan laut yang luas di berbagai basin," tulis penelitian tersebut.
Baca juga:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem iklim berada di luar keseimbangan termal dan sedang menumpuk panas.
Dalam kondisi normal, bumi seharusnya mengeluarkan energi panas ke luar angkasa sebanyak energi yang diterimanya dari matahari. Namun, saat ini bumi menahan jauh lebih banyak panas daripada yang bisa dilepaskan.
Lautan yang lebih panas mendukung peningkatan curah hujan global dan memicu badai tropis yang lebih ekstrem.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya