Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Jabodetabek Meluas, Pakar Sebut Dipicu Krisis Iklim dan Penurunan Tanah

Kompas.com, 23 Januari 2026, 20:47 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Jika curah hujan ringan, sedang, dan lebat dapat menimbulkan banjir atau genangan, terdapat permasalahan dalam tata ruang kota yang menyebabkan wilayah tersebut mulai rentan.

Kalau banjir atau genangan cukup lama surut, kata Rista, mencerminkan pembangunan sudah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidupnya (D3TLH)-nya.

Tutupan lahan sudah terlalu banyak yang berubah menjadi bangunan. Imbasnya, air hujan yang meresap ke dalam permukaan tanah semakin sedikit dan limpasan dialirkan melalui drainase.

Air hujan yang dibuang terbatas oleh kapasitas drainase, yang jika sudah penuh akan mengakibatkan banjir sulit untuk surut.

Kalau mengatasinya dengan membangun drainase berkapasitas sangat besar, biayanya yang dikeluarkan akan semakin mahal.

Sebagai alternatif, perumahan-perumahan baru perlu dibangun dengan memperhatian area resapan air. Misalnya, dengan membangun sumur resapan untuk membuang genangan dari permukaan tanah.

"Tapi kalau sudah mulai jenuh, dalam artian resapannya tidak bertambah, tapi tutupan lahannya (malah) semakin tertutup (bangunan). Kondisinya, itu (hanya akan membuat sumur) resapannya menyerap (air hujan) segitu-segitu saja," tutur Rista.

Baca juga:

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi menuturkan, faktor tata ruang kota turut menjadi penyebab terjadinya banjir di Jabodetabek.

"Faktor cuaca, tingginya curah hujan di bulan basah, akhir Januari ini memang cukup tinggi, tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekadar faktor cuaca, ini bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh," ujar Prasetyo, Kamis (22/1/2026).

Ia menambahkan, jumlah situ atau danau di Jabodetabek saat ini sudah menyusut. Dari yang tadinya lebih dari 1.000 situ, saat ini tersisa 200 danau saja. Padahal situ tersebut menjaid daerah tangkapan air atau reservoir.

Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk membentuk tim kajian untuk menganalisa dan membuat grand design penyelesaian permasalahan pengelolaan sumber daya air.

Di antaranya, Kemenko Bidang Infrastruktur, Bappenas, Kementerian PU, Kementerian ATR/BPN, Kemenhut, Kementan, dan Kemendagri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau