Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Jabodetabek Meluas, Pakar Sebut Dipicu Krisis Iklim dan Penurunan Tanah

Kompas.com, 23 Januari 2026, 20:47 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim disebut turut menyebabkan wilayah yang terkena banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) semakin meluas. Beberapa wilayah yang sebelumnya tidak terdampak banjir, kali ini ikut tergenang.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meluasnya titik banjir tidak hanya karena tingginya curah hujan, tapi juga dipengaruhi oleh lamanya hujan ekstrem yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya.

Baca juga: 

"Jadi titik banjir itu bertambah ketika curah hujannya tinggi. Curah yang kemarin sebenarnya tidak setinggi dua minggu lalu," kata Pramono, dilaporkan oleh Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

Banjir Jabodetabek dan curah hujan ekstrem

Faktor krisis iklim harus diperhatikan

Kondisi banjir di Perumahan Pinang Griya Permai, Pinang, Kota Tangerang, yang banjir karena tanggul Kali Angke jebol pada Jumat (23/1/2026). Terlihat banyak sampah ikut tergenang banjir.KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Kondisi banjir di Perumahan Pinang Griya Permai, Pinang, Kota Tangerang, yang banjir karena tanggul Kali Angke jebol pada Jumat (23/1/2026). Terlihat banyak sampah ikut tergenang banjir.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan di Jakarta dan sekitarnya pada Kamis (22/1/2026) dalam kategori sangat lebat hingga ekstrem, kecuali di bagian utara Jakarta.

Curah hujan paling ekstrem terjadi di area Medan Merdeka, sekitar Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Tepatnya sampai 189 milimeter dalam satu hari, atau setara hujan setengah bulan pada Januari umumnya.

Menurut dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Rista Hernandi Virgianto, saat ini intensitas curah hujan cenderung mengalami tren kenaikan.

"Itu juga bukan karena lokal hanya Jakarta saja, itu terjadi di beberapa tempat dan memang disebabkan oleh faktor krisis iklim," ucap Rista kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

Curah hujan ekstrem terakhir kali terjadi pada malam tahun baru 2020 di Jakarta. Namun, pada Kamis (22/1/2026), curah hujan sangat lebat dan ekstrem meluas hingga ke Karawang, Jawa Barat.

Bahkan, hujan sangat lebat dan ekstrem akibat siklon tropis yang dipicu krisis iklim menimbulkan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada November 2025 lalu.

"Sebuah anomali ya, maksudnya sebuah hal yang baru. Jadi, ada siklon tropis, tapi di daerah tropis. Yang mengakibatkan banyak terjadinya, hujan lebat dan sampai ekstrem. Ya, itu sudah bukti bahwa memang alam ini berubah," ujar Rista.

Baca juga:

Penurunan muka tanah turut menyebabkan banjir

Pengambilan air tanah yang berlebihan percepat laju penurunan

Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) mengevakuasi balita, lansia, hingga ibu hamil di permukiman warga Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2026)KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) mengevakuasi balita, lansia, hingga ibu hamil di permukiman warga Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2026)

Di sisi lain, penurunan permukaan tanah (land subsidence) turut menjadi penyebab banyak wilayah di Jabodetabek yang dulunya terbebas dari banjir, saat ini justru ikut tergenang.

Pengambilan air tanah secara berlebihan mempercepat laju penurunan permukaan tanah. Di Jakarta, pengambilan air tanah untuk permukiman yang semakin padat dan lebih banyak lagi diperuntukkan bagi pembangunan gedung-gedung pencakar langit, apartemen, atau perkantoran.

Daerah Jakarta Barat menjadi wilayah yang paling parah terdampak penurunan permukaan tanah. Sebagai orang asli wilayah itu, Rista menyaksikan sendiri alih fungsi lahan di Jakarta Barat yang pada 1990-an masih banyak empang dan tanah kosongnya.

Saat ini, banyak empang dan tanah kosong sudah dikonversi menjadi bangunan secara penuh, tanpa menyisakan lahan untuk resapan air.

"Di daerah-daerah seperti di Cengkareng itu banyak sekali karena memang dulunya itu rawa. Dibangun, (air) tanahnya disedot dan sekarang banyak apartemen, semakin banyak lagi yang disedot. Ya, semakin turun dia. Maka hasilnya adalah tempat yang dulunya tidak banjir, terus sekarang menjadi banjir," jelas Rista.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau