KOMPAS.com - Kapasitas tenaga nuklir global diprediksi bisa melonjak hingga 1.446 gigawatt listrik (GWe) pada tahun 2050, jika negara-negara memenuhi ambisi perpanjangan umur reaktor dan pembangunan reaktor baru.
Angka ini melampaui level sekitar 1.200 GWe yang dikaitkan dengan janji internasional untuk melipatgandakan energi nuklir sebanyak tiga kali lipat, menurut laporan prospek nuklir global terbaru, dilansir dari Down to Earth, Senin (2/2/2026).
Baca juga:
Proyeksi ini menggabungkan reaktor-reaktor yang sudah beroperasi, sedang dibangun, direncanakan, diusulkan, dan yang dianggap potensial, berdampingan dengan target kapasitas yang ditetapkan pemerintah.
Hal ini menandakan adanya dukungan kebijakan yang kuat bagi energi nuklir dalam strategi iklim dan keamanan energi.
Kapasitas tenaga nuklir global diprediksi bisa melonjak hingga 1.446 gigawatt listrik (GWe) pada tahun 2050.Sebagian besar penambahan kapasitas hingga tahun 2030 diperkirakan berasal dari reaktor-reaktor yang sudah dalam tahap konstruksi.
Sementara itu, proyek-proyek yang saat ini dalam tahap perencanaan akan mendorong ekspansi hingga tahun 2035.
Setelah masa itu, pertumbuhan akan semakin bergantung pada proyek-proyek yang baru diusulkan dan yang bersifat potensial, serta program-program yang terkait langsung dengan target pemerintah.
Lima negara yakni China, Perancis, India, Rusia, dan Amerika Serikat secara bersama-sama dapat menyumbang hampir 980 GWe kapasitas global pada tahun 2050.
Sementara itu, negara-negara pendatang baru secara kolektif menargetkan sekitar 157 GWe pada pertengahan abad ini, yang mempertegas semakin luasnya minat di luar negara-negara operator nuklir tradisional.
Dari reaktor-reaktor yang beroperasi pada tahun 2025, sekitar 189 GWe akan mencapai usia layanan hingga 60 tahun pada tahun 2050, dan sebanyak 213 GWe tambahan masih bisa tetap beroperasi jika masa pakainya diperpanjang hingga 80 tahun pada lokasi-lokasi yang memungkinkan.
Baca juga:
Untuk mencapai tingkat kapasitas tahun 2050, sambungan jaringan listrik tahunan perlu meningkat tajam dari sekitar 14,4 GWe per tahun pada akhir 2020-an menjadi 65,3 GWe per tahun pada periode 2046–2050.
Laju pada akhir periode tersebut kira-kira dua kali lipat dari puncak historis yang pernah dicapai selama pembangunan nuklir global besar-besaran pada tahun 1980-an, yang menunjukkan adanya tantangan besar dalam rantai pasok, pembiayaan, perizinan, dan kesiapan tenaga kerja.
Laporan juga mencatat adanya tambahan kapasitas sebesar 542 GWe yang terkait dengan target pemerintah, tapi belum didukung oleh proyek-proyek yang teridentifikasi secara jelas.
Dalam beberapa kasus, target nasional bergantung pada ekspansi besar-besaran meskipun konstruksi saat ini atau rencana proyek yang pasti masih terbatas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak target yang masih bersifat aspirasional atau sekadar cita-cita dan bergantung pada tindak lanjut kebijakan, pasar, serta regulasi.
Ekspansi nuklir jangka panjang dipicu oleh faktor-faktor pendorong struktural, antara lain perluasan akses listrik bagi ratusan juta orang, pemenuhan kebutuhan populasi global yang diproyeksikan mendekati 9,8 miliar jiwa pada tahun 2050, dan elektrifikasi di seluruh sektor ekonomi.
Selain itu, ada pula lonjakan permintaan digital dan data, serta kebutuhan akan panas rendah karbon di sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya