Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rambut Manusia Jadi Bukti Sejarah Polusi Timbal di AS Selama 100 Tahun

Kompas.com, 3 Februari 2026, 22:25 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Metode penelitian 

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis rambut menggunakan metode spektrometri massa.

Profesor riset Departemen Geologi & Geofisika, Diego Fernandez mengungkapkan, rambut memiliki karakteristik unik karena mampu menyerap dan menyimpan unsur-unsur kimia dari lingkungan dalam jangka panjang.

“Permukaan rambut itu istimewa. Kita dapat mengetahui bahwa beberapa unsur terkonsentrasi dan terakumulasi di permukaan, timbal adalah salah satunya. Hal itu membuatnya lebih mudah karena timbal tidak hilang seiring waktu,” beber Fernandez.

Menurutnya, spektrometri massa sangat sensitif sehingga analisis dapat dilakukan hanya dengan satu helai rambut.

Fernandez mengaku tidak dapat memastikan lokasi pasti timbal di dalam rambut, tapi kemungkinan besar logam berat itu berada di permukaan atau berasal dari darah ketika rambut tumbuh pada periode paparan tinggi.

Berbeda dengan sampel darah yang hanya menggambarkan kondisi tubuh pada satu waktu tertentu, rambut dinilai lebih mudah dikumpulkan dan disimpan serta mampu memberikan gambaran paparan lingkungan hingga beberapa dekade sebelumnya dari orang lanjut usia atau meninggal dunia.

Makin lama rambut berkontak dengan lingkungan yang terpapar, makin tinggi konsentrasi timbalnya.

Baca juga: BRIN Kembangkan Material Sel Surya Ramah Lingkungan Bebas Timbal

Ilustrasi lapisan timbal yang dicat.  Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.Dok. Wikimedia Commons/Lamiot Ilustrasi lapisan timbal yang dicat. Analisis rambut mengungkap bagaimana polusi timbal dari industri dan bensin mencemari warga AS sebelum peraturan lingkungan diberlakukan.

Tim peneliti mencatat, kendati konsumsi bensin terus meningkat pada 1970-an, kadar timbal dalam rambut justru menurun tajam.

Konsentrasi yang semula mencapai sekitar 100 bagian per juta (ppm) turun menjadi sekitar 10 ppm pada 1990. Pada 2024, kadar rata-ratanya dilaporkan kurang dari satu ppm.

Guna membuktikan bahwa perubahan aturan lingkungan berdampak pada paparan timbal ke manusia, peneliti melakukan studi lanjutan dari studi sebelumnya yang didukung University of Utah dan National Institutes of Health.

Dalam studinya, para peserta diminta menyerahkan sampel rambut masa kini dan masa lalu. Beberapa di antaranya menyumbangkan rambut yang tersimpan dalam album keluarga, milik orang tua, kakek-nenek, hingga generasi sebelumnya.

Total peneliti mengumpulkan sampel dari 48 orang, menciptakan gambaran sejarah langka tentang paparan timbal di wilayah Wasatch Front, Utah daerah yang dulunya sangat terdampak polusi industri.

Sepanjang abad ke-20, wilayah ini menjadi pusat industri peleburan besar, khususnya di Midvale dan Murray. 

Pada tahun 1970, sebagian besar fasilitas ditutup bertepatan dengan diberlakukannya pembatasan ketat penggunaan timbal secara federal.

“Bagian Utah dari penelitian ini sangat menarik karena cara orang-orang melacak sejarah keluarga mereka. Saya rasa hal ini tidak bisa dilakukan di New York atau Florida,” papar Smith.

Baca juga: Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau