Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

DLH DKI Jelaskan Penyebab Bau RDF Rorotan, Tak Selalu dari Operasional Fasilitas

Kompas.com, 4 Februari 2026, 12:47 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga di sekitar fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF) di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, mengeluhkan bau tak sedap. 

Namun, menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, perlu diketahui bahwa ada berbagai sumber bau di sekitar di RDF Rorotan

Baca juga:

Terdapat beberapa karakteristik bau di sekitar fasilitas RDF Rorotan yaitu potensi bau sampah, potensi bau produk RDF, potensi bau residu, dan potensi bau instalasi pengelolaan air limbah (air lindi).

"Kalau lindi baunya itu berbeda dengan dari residu. Produk RDF agak berbau asam, bukan bau sampah," ujar Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Apa penyebab bau sampah RDF Rorotan?

Potensi bau disebut bisa berasal dari berbagai sumber

Alat pemantau kualitas udara di sekitar fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan. DLH DKI Jakarta menyebut bau di sekitar RDF Rorotan, Jakarta Utara, tak selalu berasal dari fasilitas. Sumber lain seperti BKT turut berpotensi menimbulkan bau.KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Alat pemantau kualitas udara di sekitar fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan. DLH DKI Jakarta menyebut bau di sekitar RDF Rorotan, Jakarta Utara, tak selalu berasal dari fasilitas. Sumber lain seperti BKT turut berpotensi menimbulkan bau.

Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya.

Setiap menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.

Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT), pembuangan sampah ilegal, atau saluran mampat di sekitarnya.

"Kadang-kadang kami pun bingung kalau ada bau. Ini baunya dari mana? Tidak ada operasi (di fasilitas RDF), tapi kok bau," tutur Agung.

Hal tersebut ditambah dengan angin yang lumayan kencang sehingga bisa "membawa" bau meluas ke area lain. 

Baca juga:

Fungsi deodorizer sesungguhnya, bukan seperti deodoran

Di awal isu bau dari fasilitas RDF menguar, Pemprov DKI Jakarta berupaya mengatasinya dengan memasang satu alat pengendali kebauan (deodorizer).

Mekanismenya adalah bukan menyebarkan aroma wangi tandingan seperti deodoran yang dikenal masyarakat, melainkan menyedot dan menghilangkan bau menyengat melalui teknologi Advanced Oxidation Process (AOP).

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah memasang tambahan tiga alat pengendali kebauan untuk mencegah bau busuk dari fasilitas RDF menyebar ke permukiman.

Dengan demikian, total ada empat alat tersebut di fasilitas RDF, yang ditempatkan di area dengan potensi kebauan tinggi. 

Keempatnya adalah bunker, mesin compacting dehydrator untuk mengurangi kadar air (bau air lindi), mesin press, mesin pencacah sampah, gudang produk RDF, dan gudang residu.

"Jadi setiap ada isu bau, kadang satu minggu kami tidak beroperasi, ribu Tbau ini dari mana gitu. Kami mencari sebenarnya darI mana dan itu menjadi tantangan karena kami tinggal di situ. Kami juga harus mengecek terhadap kondisi BKT apakah sedimennya sudah dibersihkan atau tidak," jelas Agung.

"Di sana ada rongsokan, ada apa segala macam itu, memang kami belum sampai menelusuri terhadap masalah-masalah itu. Kami hanya merasa bahwa setiap tidak ada operasi, tetapi ada bau, berarti ada dari tempat lain yang menghasilkan bau tersebut," imbuh dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau