JAKARTA, KOMPAS.com - Daya tampung fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional, menurut kajian ITB pada 2025.
Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.
Baca juga:
Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau. TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.Secara administratif, operasional TPST Bantargebang tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.
"Usia Bantargebang itu sudah 40 tahun melayani Jakarta dalam pengelolaan sampahnya. Kondisi Bantargebang ini memang sudah sangat mengkhawatirkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
"Jadi, kalau dari tahun 1980-an, Bantargebang itu mungkin rata-rata menerima sampahnya 2.000-2.500 ton, sekarang ini sudah hampir 7.500 ton, bahkan pernah mencapai 7.900 ton per hari," tambah dia.
Asep menambahkan, kondisi TPST Bantargebang sudah pada titik kritisnya, dengan ketinggian penumpukan sampah lebih dari 50 meter atau setara gedung 16 lantai.
Penumpukan sampah di TPST Bantargebang perlu dikurangi secara signifikan atau melakukan berbagai upaya lain untuk memperpanjang usianya.
Baca juga:
Petugas mengerahkan alat berat untuk menangani longsor sampah di Zona 4 TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (31/12/2025). TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.Ketika musim kemarau, kebakaran pernah terjadi pada zona landfill akibat akumulasi gas metana pada 2023 lalu.
"Karena memang pengelolaan landfill gas di kami sudah cukup baik, akhirnya kebakaran itu hanya sekitar dua-tiga jam dan langsung ditangani dengan baik. Dari Sarimukti, Rawa Kucing di Tangerang, dan banyak TPA (tempat pemrosesan akhir) lainnya itu rata-rata sebulanan kalau engga salah baru tertangani," jelas Asep.
Saat hujan deras dengan intensitas tinggi, terjadi longsor di TPST Bantargebang pada November dan Desember 2025 lalu.
Kondisi drainase terangkat akibat beban timbunan sampah sehingga tidak mampu menyalurkan air lindi dan hujan. Jalan rusak di TSPT Bantargebang sudah sering diperbaiki dan tetap saja kembali terangkat karena dorongan beban sampah.
"Kalau hujan, ada genangan yang lumayan menganggu operasional dari TPST itu sendiri dan kondisinya sedemikian luar biasa. Dari kondisi inilah, kami berupaya untuk dapat melakukan berbagai perbaikan agar Bantargebang itu bisa berkurang menerima sampahnya dari Jakarta," ucapnya.
Ke depannya, fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Bantargebang akan mengolah 1.000 ton sampah per hari.
Sementara itu, fasilitas RDF di Rorotan, Jakarta Utara, direncanakan mengelola 2.500 ton sampah per hari. Untuk tempat pengelolaan sampah, reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 17 lokasi akan mengelola 427 ton per hari.
Dari total sampah harian Jakarta setelah dikurangi dengan proyeksi pengelolaan dari berbagai fasilitas sudah berjalan secara optimal, masih ada sekitar 3.500 ton per hari yang perlu diolah atau kembali ditimbun di landfill Bantargebang.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya