Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah di Bantargebang Sudah Setinggi Gedung 16 Lantai

Kompas.com, 5 Februari 2026, 09:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Daya tampung fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional, menurut kajian ITB pada 2025.

Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Baca juga:

Sampah TPST Bantargebang setinggi gedung 16 lantai

Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau. TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau. TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.

Secara administratif, operasional TPST Bantargebang tersisa hingga 2026, bergantung pada evaluasi kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

"Usia Bantargebang itu sudah 40 tahun melayani Jakarta dalam pengelolaan sampahnya. Kondisi Bantargebang ini memang sudah sangat mengkhawatirkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

"Jadi, kalau dari tahun 1980-an, Bantargebang itu mungkin rata-rata menerima sampahnya 2.000-2.500 ton, sekarang ini sudah hampir 7.500 ton, bahkan pernah mencapai 7.900 ton per hari," tambah dia. 

Asep menambahkan, kondisi TPST Bantargebang sudah pada titik kritisnya, dengan ketinggian penumpukan sampah lebih dari 50 meter atau setara gedung 16 lantai.

Penumpukan sampah di TPST Bantargebang perlu dikurangi secara signifikan atau melakukan berbagai upaya lain untuk memperpanjang usianya.

Baca juga:

Kebakaran dan longsor

Petugas mengerahkan alat berat untuk menangani longsor sampah di Zona 4 TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (31/12/2025). TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.NURPINI AULIA RAPIKA Petugas mengerahkan alat berat untuk menangani longsor sampah di Zona 4 TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (31/12/2025). TPST Bantargebang kian kritis dengan timbunan setara gedung 16 lantai. Jakarta masih kirim lebih dari 7.300 ton sampah per hari.

Ketika musim kemarau, kebakaran pernah terjadi pada zona landfill akibat akumulasi gas metana pada 2023 lalu.

"Karena memang pengelolaan landfill gas di kami sudah cukup baik, akhirnya kebakaran itu hanya sekitar dua-tiga jam dan langsung ditangani dengan baik. Dari Sarimukti, Rawa Kucing di Tangerang, dan banyak TPA (tempat pemrosesan akhir) lainnya itu rata-rata sebulanan kalau engga salah baru tertangani," jelas Asep.

Saat hujan deras dengan intensitas tinggi, terjadi longsor di TPST Bantargebang pada November dan Desember 2025 lalu.

Kondisi drainase terangkat akibat beban timbunan sampah sehingga tidak mampu menyalurkan air lindi dan hujan. Jalan rusak di TSPT Bantargebang sudah sering diperbaiki dan tetap saja kembali terangkat karena dorongan beban sampah.

"Kalau hujan, ada genangan yang lumayan menganggu operasional dari TPST itu sendiri dan kondisinya sedemikian luar biasa. Dari kondisi inilah, kami berupaya untuk dapat melakukan berbagai perbaikan agar Bantargebang itu bisa berkurang menerima sampahnya dari Jakarta," ucapnya.

Masih ada 3.500 ton sampah ke Bantargebang

Ke depannya, fasilitas refuse derived fuel (RDF) di Bantargebang akan mengolah 1.000 ton sampah per hari. 

Sementara itu, fasilitas RDF di Rorotan, Jakarta Utara, direncanakan mengelola 2.500 ton sampah per hari. Untuk tempat pengelolaan sampah, reduce, reuse, recycle (TPS3R) di 17 lokasi akan mengelola 427 ton per hari.

Dari total sampah harian Jakarta setelah dikurangi dengan proyeksi pengelolaan dari berbagai fasilitas sudah berjalan secara optimal, masih ada sekitar 3.500 ton per hari yang perlu diolah atau kembali ditimbun di landfill Bantargebang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau