JAKARTA, KOMPAS.com - Bila tertarik dengan seni dari daur ulang sampah, pameran "Bukan tentang Sampah" wajib dikunjungi. Diadakan sampai awal Mei 2026, tepatnya Senin (2/5/2026), pameran gratis ini bertempat di Erasmus Huis, Jakarta Selatan.
Dari pintu depan, tampak botol plastik bekas berwarna hijau, biru, dan bening, disusun dan digantung menyerupai tirai.
Di bawahnya dibangun pijakan kaki berkelir hitam selebar kira-kira tiga meter dengan ketinggian 10 sentimeter agar pengunjung bisa berdiri di atasnya.
Baca juga:
Melihat lebih dalam, tampak desainer menciptakan wadah untuk menaruh barang-barang yang terbuat dari 4.500 tutup botol. Ada pula miniatur Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, lengkap dengan truk dari kardus serta minatur sungai dan ikan.
Desainer dari Kota Tanpa Sampah, Ade Amelia menjelaskan, pameran ini digelar atas kerja sama Co/Lab Designers dengan Dutch Design Foundation, dan Wahu (Waste Hubs).
Pengelolaan sampah menjadi barang bernilai bermula dari ide Dutch Design Foundation agar desainer membuat prototipe yang bisa dieskalasi dan menggelar pameran seni.
Sampah yang digunakan berasal dari Wahu Hub yang dikumpulkan oleh anggota komunitas di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.
"Mungkin dari kami semua ada sedikit bersinggungan dengan topik sampah tetapi juga bukan ahli. Jadi sebenarnya kami di sini juga desainer, misalnya kayak aku juga kita belajar jadi kita pas survei datang ke komunitas bagaimana caranya menyelesaikan persoalan sampah," ungkap Ade saat ditemui di lokasi, Kamis (5/2/2026).
Baca juga:
Dalam proyek ini, tim melibatkan 38 rumah tangga yang tergabung dalam komunitas Kompak.
Ade menjelaskan, prosesnya dimulai dengan pendekatan ke RT, RW, hingga kelurahan setempat, lalu memilih komunitas yang memiliki visi sejalan dalam pengelolaan sampah.
"Menariknya adalah komunitas ini sudah ada kelola organiknya meskipun masih terbatas, dan mereka belum ada tata kelola daur ulang yang lain seperti plastik dan kardus. Jadi kami pikir ini cocok dan sebetulnya karena tetangga jadi lebih dekat juga," tutur dia.
Desainer membuat miniatur TPST Bantargebang dari sampah, Kamis (5/2/2026). Di samping edukasi soal sampah, proyek tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Sejak akhir November 2025, komunitas berhasil mengumpulkan 307 kilogram sampah plastik dan kardus dengan nilai ekonomi mencapai Rp 455.000.
"Karena kami udah ada semacam tools-tools-nya misalnya tas, off-taker (pembeli) komunal reward dan WhatsApp group istilahnya ini yang nanti akan di-translate ke WAHU, bagaimana kalau misalkan aplikasi nanti based on community account. Jadi ini bisa ada perpanjangan tangannya," ucap Ade.
Dengan begitu, hasil daur ulang sampah akan terus berkelanjutan.
Sementara itu, Urban Designer, Dhania Yasmin mengakui, kebanyakan komunitas di Indonesia lebih mudah diajak bergabung karena sifatnya yang guyub.
"Makanya akhirnya kami memulai inisiatif, kami kasih nama Kompak. Karena kami sebenarnya pengen warganya kompak untuk menangani isu sampah, inisiatornya Dutch Design Foundation bekerjasama dengan Erasmus House sebagai lokasi pamerannya," ucap Yasmin.
Baca juga:
"Bukan Tentang Sampah" mengeksplorasi keseharian masyarakat menggunakan, menghargai, dan akhirnya membuang material plastik. Pameran ini berfokus pada aksi membuang sampah sebagai keputusan yang membentuk seluruh sistem di sekitar kita.
Dengan mengajak pengunjung untuk melihat proses pembuangan sebagai aksi meneruskan material, pameran tersebut menunjukkan bagaimana perubahan pola pikir kolektif dapat mengubah perilaku, mengurangi sampah, dan menjaga keberlangsungan nilai material.
Melalui panggilan terbuka (open call), dua desainer Indonesia yakni Ade Amelia dan Dhania Yasmin, serta dua desainer Belanda Mayra Kapteijn dan Noud Sleumer terpilih untuk mengembangkan proyek daur ulang sampah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya