Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?

Kompas.com, 9 Februari 2026, 10:51 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

Mengapa sinkhole Limapuluh Kota terjadi?

Badan Geologi menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan munculnya sinkhole di Situjuah.

Faktor pertama adalah air. Wilayah ini mendapat suplai air yang melimpah dari hujan dan air tanah, yang terus menerus "menggali" tanah dari dalam. Air tanah juga memiliki kekuatan untuk mengikis material secara perlahan.

Faktor kedua adalah stabilitas tanah. Jenis tanah di kawasan ini berupa tuf atau abu vulkanik yang mudah terkikis oleh air.

Di dalam tanah juga terdapat jalur retakan yang mempercepat proses erosi buluh.

Tekanan rongga di bawah tanah kemudian berubah. Ketika tekanan melewati batas toleransi, tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.

Baca juga:

Opsi menangani sinkhole Limapuluh Kota

Biarkan sinkhole terbuka

Selain mengkaji penyebab, Badan Geologi juga memaparkan dua opsi penanganan Sinkhole Limapuluh Kota.

Opsi pertama adalah membiarkan sinkhole terbuka atau melebar secara alami. Namun, ada langkah penting yang harus dilakukan yaitu sinkhole tidak boleh ditutup.

Dalam hal ini, kestabilan lubang harus dihitung secara detail. Radius aman juga harus ditentukan secara terukur.

Air perlu dialirkan keluar melalui saluran drainase. Air tidak boleh meresap kembali ke tanah di sekitar sinkhole.

Aliran air diarahkan ke area yang lebih stabil seperti sungai di hilir. Air juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga. Namun, kelayakannya harus dikaji terlebih dahulu.

Jangan sampai sinkhole melebar

Opsi kedua adalah mencegah sinkhole agar tidak melebar. Opsi ini membutuhkan dukungan ahli teknik sipil karena tebing sinkhole perlu diperkuat dengan rekayasa teknis.

Selain itu, jumlah air yang mengalir di sungai bawah tanah harus direncanakan dengan matang. Aliran air tidak boleh mengganggu kestabilan wilayah hulu dan hilir.

Dalam laporan kajian cepat, Badan Geologi juga menyampaikan upaya pengurangan risiko sinkhole. Masyarakat diminta mengenali gejala awal sinkhole.

Air yang meresap ke tanah secara berlebihan perlu dikurangi, terutama di area yang dicurigai memiliki sungai bawah tanah.

Badan Geologi juga menyarankan pemilihan tanaman yang tepat. Tanaman sebaiknya tidak membutuhkan banyak air.

Saluran air rumah pun harus diperhatikan. Air buangan tidak boleh merembes ke tanah yang berisiko sinkhole.

Air sinkhole bukan air berkhasiat

Taufiq menegaskan agar masyarakat tidak mempercayai isu air sinkhole yang disebut berkhasiat. Berdasarkan uji laboratorium, air tersebut sama seperti air pada umumnya.

Warna biru pada air terjadi karena partikel kecil atau zat terlarut yang menghamburkan gelombang cahaya biru.

"Air berwarna biru adalah fenomena alam dan bukan hal mistis," kata Taufiq.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau