KOMPAS.com - Menggiling limbah makanan dan mengalirkannya ke sistem pembuangan dinilai lebih efektif daripada hanya menimbunnya di tempat pemrosesan akhir (TPA), menurut studi terbaru.
Pendekatan tersebut dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) secara keseluruhan sekitar 47 persen dan menurunkan total biaya pengelolaan limbah sekitar 11 persen.
Baca juga:
Menggiling limbah makanan dan mengalirkannya ke sistem pembuangan dinilai lebih efektif daripada hanya menimbunnya di TPA.Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Cities ini menganalisis data 29 kota besar di seluruh dunia, dengan kandungan air limbah makanan yang tinggi, dilansir dari Phys.org, Senin (9/2/2026).
Hasil studi memberikan dasar kuantitaif baru untuk membentuk strategi pengelolaan limbah makanan di berbagai kota.
Volume limbah makanan meningkat seiring dengan terus bertambahnya populasi perkotaan di seluruh dunia.
Namun, mayoritas kota masih mengandalkan penimbunan atau pembakaran untuk mengelola limbah sampah, meski kandungan airnya yang tinggi mengurangi efisiensi pengolahan dan meningkatkan beban logistik.
Misalnya, limbah makanan di Amerika Serikat (AS) menyumbang 58 persen metana yang dihasilkan dari TPA, menjadikanya salah satu sumber polusi utama emisi GRK.
Studi menganalisis komposisi limbah makanan, produksi air di dalamnya, konsumsi energi, dan biaya pengolahan dari 29 kota besar di seluruh dunia.
Hasilnya, faktor kunci yang mempengaruhi efisiensi pengelolaan bukanlah berat atau jenis limbah makanan, melainkan kadar airnya. Kadar air yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan biaya pengolahan dan emisi GRK.
Baca juga:
Menggiling limbah makanan dan mengalirkannya ke sistem pembuangan dinilai lebih efektif daripada hanya menimbunnya di TPA.Studi ini juga mengembangkan kerangka kerja Urban Biowaste Flux (UBF) dan mengidentifikasi ambang batas sekitar 46,8 kg per kapita per tahun untuk beban kelembaban limbah makanan.
Di atas ambang batas ini, penerapan sistem terintegrasi, mengalihkan limbah makanan ke jaringan pembuangan dan menggabungkannya dengan TPA atau pembakaran, menghasilkan biaya keseluruhan yang lebih rendah daripada mempertahankan sistem terpisah.
Kota-kota seperti Hong Kong, Beijing, dan Seoul, di mana bahan-bahan segar dan diet berbasis sup umum terjadi, cenderung menghasilkan aliran limbah makanan yang lebih basah.
Studi menunjukkan bahwa penggunaan penggiling sampah makanan untuk mengalihkannya ke sistem pembuangan air limbah bisa meningkatkan efisiensi pengolahan secara keseluruhan di kota-kota itu.
Misalnya, sistem terintegrasi di Hong Kong telah meningkatkan biaya operasional tahunan untuk pengelolaan air limbah sebesar 5,63 juta dollar AS (sekitar Rp 94,7 miliar) dan lumpur 22,51 juta dollar AS (sekitar Rp 378.67 miliar).
Namun, pengeluaran untuk TPA menurun sebesar 74 juta dollar AS (sekitar Rp 1.244,3 miliar), sehingga menghasilkan pengurangan sebesar 11,13 persen pada total biaya pengelolaan sampah Hong Kong.
Menggiling limbah makanan dan mengalirkannya ke sistem pembuangan dinilai lebih efektif daripada hanya menimbunnya di TPA.Pengelolaan dengan sistem terintegrasi dapat mengurangi emisi GRK langsung dan tidak langsung Hong Kong sebesar 46,61 persen.
"Menggunakan Hong Kong sebagai contoh, analisis kami terhadap sampel limbah makanan dan air limbah menunjukkan bahwa limbah makanan menyumbang 57,78 persen dari total kebutuhan oksigen kimia (COD) yang masuk ke sistem pengolahan limbah biologis," kata rekan pascasarjana dan mahasiswa PhD di Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong (HKUST), Zou Xu.
"Ini menunjukkan mengapa kita harus memikirkan kembali bagaimana limbah makanan dikelola," tambah dia.
Sementara itu, peneliti dari HKUST, Guo Hongxiao mengatakan, sistem terintegrasi dapat mengurangi emisi GRK sebesar 24-88 persen di berbagai kota dibandingkan dengan pengumpulan dan pembuangan sampah secara terpisah yang tradisional.
"Sekitar setengah dari seluruh sampah makanan di AS sudah dikelola melalui metode ini, tetapi masih jarang diterapkan di Asia. Model UBF membantu kota-kota seperti Hong Kong mengidentifikasi pendekatan yang lebih efisien dan berkelanjutan untuk pengelolaan sampah makanan," tutur Guo.
Baca juga:
Penggunaan sistem air limbah untuk mengolah sampah makanan basah bersama dengan pencernaan anaerobik, memungkinkan lumpur digunakan sebagai bahan bakar.
Sementara itu, panas yang dihasilkan selama pembakaran dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik.
Studi menemukan, 27 dari 29 kota besar di seluruh dunia yang mengelola limbah secara terintegrasi, mengurangi konsumsi energi tahunan per kapita sekitar 20,6 persen.
Studi juga mencatat 26 dari 29 kota besar di dunia yang mengelola limbah secara terintegrasi, mengurangi emisi GRK per kapita sekitar 22,6 persen.
"Tentu saja, setiap kota berbeda, dan tidak semuanya cocok dengan model yang sama. Tetapi bagi kota-kota dengan kandungan air limbah makanan yang tinggi dan biaya pengolahan limbah padat yang tinggi, pengolahan terpadu merupakan jalan yang praktis ke depan," kata Kepala Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan di HKUST, Chen Guanghao.
"Kami berharap penelitian ini memberikan landasan ilmiah bagi kota-kota untuk merumuskan strategi yang lebih tepat untuk pengelolaan limbah makanan," tambah dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya