Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?

Kompas.com, 14 Februari 2026, 09:11 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas pengelolaan sampah untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF), termasuk cara yang diandalkan pemerintah dalam mengatasi penumpukan di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Namun, ada beberapa jenis sampah yang harus diperhatikan. Senior Director Public Affairs, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo menyarankan jenis sampah plastik bernilai ekonomis tinggi untuk tidak dimasukkan ke dalam pengelolaan dengan teknologi RDF.

Baca juga:

Sebagai contoh, sampah plastik jenis PET (Polyethylene Terephthalate) dan HDPE (High-Density Polyethylene).

Khususnya, material dari sampah plastik jenis PET masih ada yang mau mengumpulkan untuk didaur ulang. Bahkan, daur ulang dari sampah plastik jenis PET bisa sampai dipakai kembali.

"Kami melihat PET sebagai bahan bernilai tinggi. Idealnya (sampah plastik jenis) PET tidak masuk ke dalam RDF. Kami bisa mendata, kami bisa proses menjadi PET daur ulang (yang dapat dipakai) kembali, sehingga jangan sampai itu dimasukkan ke dalam RDF," ujar Triyono di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Sampah di Bantargebang Sudah Setinggi Gedung 16 Lantai

Apa jenis sampah yang sebaiknya tidak dimasukkan ke RDF?

Model EPR Indonesia perlu dibedakan

Senior Director Public Affair, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo (kanan) dan Chairwoman Mahija Parahita Nusantara Foundation, Ardhina Zaiza (kiri) dalam acara Semangat Daur Ulang Menuju Ramadan Hijau Recycle Me Zone di Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Senior Director Public Affair, Communications, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo (kanan) dan Chairwoman Mahija Parahita Nusantara Foundation, Ardhina Zaiza (kiri) dalam acara Semangat Daur Ulang Menuju Ramadan Hijau Recycle Me Zone di Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026).

Fasilitas RDF memang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sampah di berbagai daerah. Namun, pemanfaatan teknologi RDF perlu mempertimbangkan nilai ekonomis sampah.

Triyono berharap, teknologi RDF digunakan untuk jenis sampah plastik yang bernilai ekonomis rendah dan selama ini memang susah didaur ulang.

PT Coca-Cola Indonesia, kata dia, mendukung perluasan tanggung jawab produsen (extended producer responsibility/EPR) melalui kampanye daur ulang sampah plastik jenis PET. 

Menurut Triyono, PT Coca-Cola Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang terus memberikan laporan pengelolaan sampah kepada pemerintah. Namun, model EPR Indonesia semestinya perlu dibedakan dengan di Eropa atau Amerika. 

Kondisi ini mengingat, secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau. Sementara itu, negara-negara maju umumnya kontinental, yang mana pengiriman sampah lewat jalur darat tergolong mudah.

"Bahan plastik yang mungkin ada di Maluku belum tentu pengolahannya ada di sana. Jadi hal-hal itu perlu diingat, kami mendukung keberadaan EPR itu, di mana EPR dirasa perlu untuk memberikan kepastian dari sisi pengelolaan sampah dan bagaimana itu bisa dilakukan seluruh pelaku usaha," ucap Triyono.

Baca juga:

Beda karakter sampah, beda pengelolaan

Jenis sampah plastik bernilai ekonomis tinggi sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam pengelolaan dengan teknologi RDF. Simak alasannya.PEXELS.com/Fernando Makers Jenis sampah plastik bernilai ekonomis tinggi sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam pengelolaan dengan teknologi RDF. Simak alasannya.

Sebelumnya, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Pandji Prawisudha mengatakan, limbah jenis residu, seperti stirofoam, tisu bekas, kertas minyak, puntung rokok, dan popok, yang sulit didaur ulang atau diolah kembali biasanya berakhir di TPA. Setiap jenis sampah mempunyai karakteristik dan pengelolaan yang berbeda.

Misalnya, kertas minyak yang merupakan campuran dari kertas dan plastik. Kertas minyak tidak bisa dikelola dengan menggunakan pengolahan kertas. Yang mana komponen plastik dari kertas minyak juga harus dipertimbangkan.

"Kertas minyak biasanya sudah merupakan sisa dari bekas makanan, sehingga tercampur dengan minyak, tercampur dengan sabun dan lain-lain, (yang membuatnya) tidak semudah itu (diolah kembali)," ujar Pandji kepada Kompas.com, Rabu (31/12/2025).

Untuk puntung rokok, kata dia, ternyata seratnya bukanlah dari komponen yang gampang didaur ulang. Konsumsi rokok di Indonesia tergolong tinggi, yang mana menciptakan permasalahan dari limbah puntungnya.

Baca juga: Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari

Sebenarnya, semua limbah jenis residu di atas dapat diolah. Namun, dari aspek keekonomian, pengelolaan limbah jenis residu tersebut dengan teknik pengolahan dan skema bisnis yang konvensional hanya akan menjadi pusat biaya atau cost center.

"Ini belum bisa menjadi profit center (pusat laba) karena meskipun potensi ekonominya besar, namun secara real di lapangan, offtaker atau pengambil produk-produk dari lima residu ini belum ada," tutur Pandji.

Menurut Pandji, keberagaman lapisan material dan harga yang fluktuatif menjadi faktor lain pengelolaan limbah jenis residu di atas tidak atau belum bisa dianggap bisnis yang berkelanjutan. Kecuali, jika pemerintah mengatur tanggung jawab produsen yang diperluas EPR secara holistik.

Indonesia masih mengandalkan infrastruktur informal, seperti pemulung, dalam pengumpulan dan pemilahan sampah.

Pengumpulan dan pemilahan sampah di Indonesia kerap menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan limbah, terutama jenis residu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau