KOMPAS.com - Ada kemungkinan besar orangtua memengaruhi perbedaan cara pandang anak-anak terhadap ular dibandingkan hewan lain, menurut studi terbaru.
Studi yang diterbitkan di Anthrozoös ini menganalisis lebih dari 100 anak usia taman kanak-kanak, khususnya tentang bagaimana mereka mempersepsikan ular secara buruk akibat mendengar bahasa yang negatif atau merendahkan tentang hewan melata tersebut.
Baca juga:
Studi menunjukkan, hanya dibutuhkan intervensi minimal untuk memengaruhi pandangan negatif seorang anakterhadap ular.
"Masa kanak-kanak adalah waktu yang sangat penting untuk membentuk sikap dan perilaku seseorang terhadap hewan. Ular memiliki reputasi yang sangat negatif di masyarakat barat dan sering disalahpahami," ujar salah satu penulis dari Oregon State University, Jeff Loucks, dilansir dari Phys.org, Senin (16/2/2026).
Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.Reptil yang melata itu cukup mudah untuk dibenci, termasuk di negara barat. Namun, hanya sedikit yang diketahui mengenai mengapa anak-anak mengembangkan perasaan takut dan kebencian terhadap ular.
Padahal hal tersebut dapat berdampak terhadap keseimbangan banyak ekosistem.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sedikitnya 450 dari sekitar 4.000 spesies ular yang telah diidentifikasi, menghadapi risiko tinggi kepunahan.
Di sisi lain, dukungan publik untuk melindungi ular dan memulihkan habitatnya tergolong lemah, yang kemungkinan disebabkan kebencian umum masyarakat terhadap ular.
Studi sebelumnya menunjukkan, ular memicu tingkat kecemasan tertentu atau sebesar 54 persen dari total responden. Apalagi, rata-rata orang Amerika Serikat (AS) bersikap negatif terhadap ular.
Bahkan, data menunjukkan bahwa pengemudi di AS sering kali sengaja melindas ular.
Loucks dan pemimpin studi dari Universitas Regina, Denée Buchko, berupaya menemukan akar dari antipati itu, termasuk menelusuri peran bahasa serta pendidikan dalam perkembangannya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya