Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Olimpiade Dinilai Belum Sejalan Perjanjian Paris, Emisi Karbon Jadi Sorotan

Kompas.com, 19 Februari 2026, 12:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Olimpiade membutuhkan reformasi lebih lanjut agar sesuai dengan Perjanjian Paris, menurut studi terbaru dari Universitas Lausanne di Swiss. 

Komite Olimpiade Internasional memang telah melakukan reformasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Namun, jejak emisi GRK Olimpiade masih tetap besar.

Baca juga:

Sebagai ajang olahraga internasional, Olimpiade dapat meningkatkan kesadaran akan isu-isu iklim dan mempercepat transisi ekologis.

Kendati telah menampilkan diri sebagai model keberlanjutan dalam beberapa tahun terakhir, Olimpiade masih memiliki jejak karbon sangat besar yaitu berkisar antara 1,59 hingga 4,5 juta metrik ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per edisi sejak tahun 2012.

"Jika Olimpiade ingin tetap relevan di dunia yang menghadapi krisis iklim, keberlanjutan harus melampaui retorika dan menjadi persyaratan yang mengikat dan diverifikasi secara independen," tutur peneliti di Universitas Lausanne dan penulis utama studi tersebut, David Gogishvili, dilansir dari Phys.org, Kamis (19/2/2026).

Olimpiade perlu reformasi lebih lanjut agar ramah lingkungan

Kesenjangan antara tujuan dan realitas

Studi terbaru yang diterbitkan di The Geographical Journal ini menemukan kesenjangan antara tujuan ambisius dan realitas.

Untuk bisa selaras dengan Perjanjian Paris, emisi Olimpiade harus dikurangi sebesar 48 persen pada tahun 2030, 70 persen pada tahun 2040, dan 84 persen pada tahun 2050.

Studi ini mengusulkan untuk memperkuat aksi iklim secara konkret, dengan membatasi skala acara hingga mengurangi perjalanan udara, sambil tetap melestarikan semangat dan jiwa Olimpiade.

Jejak emisi GRK dalam Olimpiade di Rio de Janeiro tahun 2016 mencapai 4,5 juta metrik ton CO2e, kira-kira setara dengan emisi tahunan Kota Boston, Amerika SERIKAT.

Studi menggarisbawahi paradoks dari Olimpiade, yang secara finansial tergolong usaha media, tapi intensitas emisi GRK-nya menyaingi sektor konstruksi berat dan pariwisata.

Sementara itu, jejak emisi GRK dalam Olimpiade di Paris tahun 2024 menandai titik balik, dengan membatasi emisinya hingga 1,59 juta metrik ton.

Pengurangi emisi GRK dilakukan melalui strategi konstruksi berdampak rendah (hanya dua tempat kompetisi baru) dan pengelolaan perjalanan yang dioptimalkan di dalam kota.

Di luar itu, perjalanan penonton internasional masih menyumbang hampir setengah dari total jejak karbon.

Untuk memenuhi target yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris atau membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, momentum ini masih belum mencukupi.

Baca juga:

Dari perombakan hingga pengurangan perjalanan udara

Untuk bisa selaras dengan Perjanjian Paris, emisi Olimpiade harus dikurangi sebesar 48 persen pada tahun 2030.PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH Untuk bisa selaras dengan Perjanjian Paris, emisi Olimpiade harus dikurangi sebesar 48 persen pada tahun 2030.

Terdapat beberapa rekomendasi dari para peneliti untuk mengurangi emisi GRK dari Olimpiade.

Pertama, perombakan mendalam terhadap Olimpiade, yang melampaui kemajuan teknologi dan penyesuaian bertahap. Untuk mengurangi jejak karbon di semua dimensi, para peneliti mengusulkan skala Olimpiade harus diperkecil agar sesuai dengan tempat dan sistem transportasi yang ada.

Kedua, pengurangan perjalanan udara, dengan memprioritaskan penonton lokal dan perjalanan kereta api yang berkelanjutan.

Ketiga, mengembangkan opsi menonton jarak jauh yang imersif, seperti pengalaman realitas virtual, dan melalui kemitraan dengan operator kereta api untuk meningkatkan akses ke zona penggemar.

Keempat, penyelenggaraan acara dengan lebih banyak bergantung pada energi terbarukan, katering berbasis nabati, dan transportasi rendah karbon.

Di sisi lain, aksi iklim tersebut semestinya tidak memerlukan perubahan mendasar pada model ekonomi Olimpiade. 

Sebab, aksi iklim itu mempertahankan aliran pendapatan utama, khususnya yang berasal dari penyiaran dan sponsor, meski tetap ada sedikit pengurangan pendapatan dari penjualan tiket.

Hambatan struktural

Untuk bisa selaras dengan Perjanjian Paris, emisi Olimpiade harus dikurangi sebesar 48 persen pada tahun 2030.AFP PHOTO/BEHROUZ MEHRI Untuk bisa selaras dengan Perjanjian Paris, emisi Olimpiade harus dikurangi sebesar 48 persen pada tahun 2030.

Studi ini menyoroti kendala utama dalam melakukan reformasi struktural terhadap Olimpiade yaitu kurangnya pengumpulan dan verifikasi data yang terus-menerus.

Sebagai contoh, Komite Olimpiade Internasional tidak mensyaratkan perkiraan jejak karbon selama fase penawaran dan verifikasi independen atas emisi GRK setelah gelaran ini berakhir.

Imbasnya, hal itu membatasi transparansi dan kredibilitas angka yang dilaporkan.

Para peneliti merekomendasikan untuk memeriksa kredibilitas lingkungan dari sponsor utama untuk mengurangi risiko greenwashing.

Sejak tahun 2020, Komite Olimpiade Internasional telah mewajibkan kota-kota tuan rumah untuk mengurangi emisi GRK mereka, tapi tanpa memberikan peta jalan yang konkret sehingga membuka peluang untuk membeli kredit karbon guna mengklaim jejak karbon "netral".

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau