KOMPAS.com - Tisu toilet yang terbuat dari bambu bisa menghasilkan lebih banyak emisi dibanding tisu toilet pada umumnya yang berbahan dasar kayu, di bawah kondisi manufaktur saat ini. Padahal selama ini tisu toilet dari bambu dianggap lebih ramah lingkungan.
Sebuah analisis menelusuri perjalanan tisu toilet, dari pabrik bubur kertas hingga pembuangannya, dan menghitung polusi iklim yang dihasilkan.
Baca juga:
Melalui pelacakan tersebut, peneliti Naycari Forfora dari North Carolina State University (NC State), Amerika Serikat, menemukan bahwa sebagian besar polusi berasal dari bahan bakar pabrik dan listrik.
Forfora mencatat selisih emisi sekitar 226 kilogram polusi pemanasan iklim per ton antara tisu kayu dan tisu campuran bambu.
Dengan demikian, dalam praktiknya, label eco friendly (ramah lingkungan) atau Bamboo pada kemasan ternyata tidak menjamin produk tersebut lebih baik untuk bumi, dilansir dari Earth.com, Senin (23/2/2026).
Ada dua faktor kunci yang akhirnya menentukan apakah produk itu ramah lingkungan yaitu dari mana pabrik mendapatkan energi serta bagaimana mereka mengeringkan kertas tersebut.
Baca juga:
Tisu toilet yang terbuat dari bambu bisa menghasilkan lebih banyak emisi dibanding tisu toilet pada umumnya. Kok bisa?Sebagian besar jejak karbon bambu berasal dari energi yang dibakar untuk memasak serat dan mengeringkan lembaran menjadi tisu yang lembut. Pabrik-pabrik di China menggunakan panas batu bara untuk listrik yang dipakai untuk pembuatan bubur kertas bambu.
Jarak pengiriman yang jauh ternyata juga idak seburuk yang dikira orang-orang. Sebab, polusi paling parah justru sudah terjadi di pabrik sebelum tisunya dikirim.
Jika pabriknya lebih hemat energi dan menggunakan listrik yang lebih ramah lingkungan, tisu bambu bisa jadi lebih baik.
Selama ini ada anggapan bahwa barang dari China itu buruk dan menghasilkan banyak emisi karena dikirim dari jauh. Namun, emisi dari kapal laut jauh lebih kecil dibandingkan polusi dari asap pabrik batu bara saat tisu dibuat
Dengan demikian, menurut para ahli, ramah atau tidaknya tisu bambu itu sangat bergantung pada di mana dan bagaimana tisu itu dibuat.
Jejak karbon tisu juga terjadi dalam proses yang lain. Untuk mendapatkan tisu yang lembut diperlukan proses pengeringan ekstra. Dalam analisis ini, tahap pengeringan tersebut ternyata jauh lebih berpengaruh terhadap lingkungan.
Metode through-air drying (TDA) yaitu cara mengeringkan dengan udara panas tanpa banyak sentuhan mesin ternyata memakan listrik jauh lebih banyak dibandingkan metode pengeringan drum yang biasa.
Bagi pembeli yang mencari tisu toilet paling lembut, beban bagi planet ini ternyata lebih banyak berasal dari energi yang digunakan pabrik, bukan dari jenis serat tanamannya apakah itu kayu atau bambu.
Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan tisu adalah dengan menggunakan kain lap atau handuk kecil yang bisa dipakai ulang.
Baca juga: China Capai Titik Balik Emisi Karbon Sebelum Waktunya
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya