Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Optimasi Penataan Rak di Toko Ritel Bisa Turut Kurangi Sampah Makanan

Kompas.com, 26 Februari 2026, 17:25 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Toko ritel makanan mungkin tidak butuh teknologi baru atau perubahan perilaku belanja dari konsumen untuk mengurangi sampah makanan secara signifikan.

Penelitian baru yang dipublikasikan di jurnal Management Science menemukan bahwa keputusan operasional kecil, termasuk cara menata barang, dapat meningkatkan keuntungan sekaligus mengurangi barang yang terbuang.

Melansir Phys, Rabu (25/2/2026) studi baru ini mengamati lebih dekat barang-barang yang cepat busuk dan kualitasnya menurun seiring waktu, seperti sayuran segar, produk susu, dan daging.

Baca juga: Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko Kerja Paksa

Dengan menggunakan model analisis canggih dan ribuan simulasi skenario toko, para peneliti mengamati bagaimana tiga faktor saling memengaruhi: penataan produk, waktu pemberian diskon, dan besaran diskon.

Kesimpulan peneliti adalah letak suatu produk di rak ternyata hampir sama pentingnya dengan harga produk tersebut.

Dengan membuat perubahan kecil yang strategis pada penempatan barang saat diskon diberikan, peritel dapat meningkatkan keuntungan rata-rata sebesar 6 persen dan memangkas sampah makanan hingga lebih dari 21 persen, menurut studi tersebut.

Temuan ini mematahkan anggapan lama dalam dunia ritel bahwa hanya menjual barang paling segar dengan harga penuh adalah cara teraman untuk menjaga keuntungan.

Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa strategi penataan dan diskon yang lebih pintar dapat memberikan keuntungan bersama, menguntungkan peritel, konsumen, sekaligus lingkungan di saat yang sama.

"Peritel tidak harus memilih antara keuntungan atau kelestarian lingkungan," kata Zumbul Atan dari Eindhoven University of Technology, salah satu penulis studi.

Sampah Makanan jadi Masalah Global

Sampah makanan adalah masalah global yang tersembunyi di depan mata. Sekitar 17 persen dari seluruh makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang sia-sia, dan kontributor terbesar dari sektor ritel.

Di Amerika Serikat saja, hingga 40 persen makanan berakhir tidak dimakan. Di saat yang sama, sampah makanan merupakan pendorong utama emisi metana dan perubahan iklim.

Namun ketika barang yang lebih lama atau yang hampir kedaluwarsa diletakkan di tempat yang lebih mudah dijangkau seperti di barisan depan rak pembeli cenderung lebih mungkin untuk membelinya.

Dibandingkan dengan standar industri umum di mana barang segar dan barang lama diletakkan sejajar dan tanpa diskon, mengoptimalkan penataan dan keputusan diskon ini terbukti meningkatkan keuntungan sebesar 6,01 persen dan mengurangi sampah makanan rata-rata hingga 21,24 persen.

Studi tersebut juga menemukan bahwa strategi terbaik bergantung pada jenis produknya.

Untuk barang yang kualitasnya menurun secara perlahan, seperti produk susu, cara terbaik adalah dengan memajang produk lama di posisi yang paling menonjol dan memberikan diskon yang tidak terlalu besar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu
Paus Bungkuk Makin Sering Terjerat Jaring, Laut Memanas Jadi Pemicu
LSM/Figur
Waktu Berbunga Tanaman Tropis Bergeser akibat Perubahan Iklim
Waktu Berbunga Tanaman Tropis Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Studi: Zat Kimia dari Layar Elektronik Menumpuk di Organ Lumba-lumba
Studi: Zat Kimia dari Layar Elektronik Menumpuk di Organ Lumba-lumba
LSM/Figur
Isu SDGs Masih Minim Dikenal, Alumni SDG Academy Indonesia Terjun ke Sekolah
Isu SDGs Masih Minim Dikenal, Alumni SDG Academy Indonesia Terjun ke Sekolah
Swasta
Hiruk Pikuk Kapal Ubah Perilaku Populasi Megafauna Laut
Hiruk Pikuk Kapal Ubah Perilaku Populasi Megafauna Laut
Pemerintah
Siswa SMAN 2 Balikpapan Ciptakan VisionRun Smart Glasses, Bantu Tunanetra Joging Lebih Aman
Siswa SMAN 2 Balikpapan Ciptakan VisionRun Smart Glasses, Bantu Tunanetra Joging Lebih Aman
LSM/Figur
Optimasi Penataan Rak di Toko Ritel Bisa Turut Kurangi Sampah Makanan
Optimasi Penataan Rak di Toko Ritel Bisa Turut Kurangi Sampah Makanan
LSM/Figur
Laut yang Memanas Bisa Bikin Populasi Ikan Menghilang
Laut yang Memanas Bisa Bikin Populasi Ikan Menghilang
LSM/Figur
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Swasta
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
LSM/Figur
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
Pemerintah
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
LSM/Figur
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
LSM/Figur
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
LSM/Figur
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau