Banyaknya kapal-kapal berskala besar berlabuh menyebabkan berbagai biota di perairan Kepulauan Karimunjawa terganggu. Bahkan, banyak terumbuh kadang mengalami kerusakan karena jangkar-jangkar dari kapal-kapal itu.
Ironisnya, dari sekian banyak peraturan, tidak ada penindakan atas hal itu. Balai Taman Nasional dan Dinas Perikanan dan Kelautan setempat juga dinilai tidak proaktif untuk mengatasi permasalahan ini.
"Ya akhirnya kita bertahan sampai sekarang, bergelut dengan pengusaha-pengusaha yang di darat (bisnis pariwisata dari orang luar Kepulauan Karimunjawa). Di laut bergelut kami dengan nelayan-nelayan besar yang meliputi kami," ujar Zakariya.
Krisis iklim hanya memperparah berbagai permasalahan nelayan tradisional Kepulauan Karimunjawa. Hasil tangkapan sudah mulai menurun sejak 2025.
Pada musim cumi, misalnya, biasanya nelayan tradisional Kepulauan Karimunjawa mendapatkan hasil tangkapan yang lumayan. Namun, pada musim cumi tahun 2025 lalu, hasil tangkapan jauh dari harapan.
"Untuk 2025 kemarin sampai di ujung tahun, sampai musim baratan datang itu sangat berkurang. Teman-teman yang nyari tengiri itu bisa lepas jauh bahkan sampai ke Rembang, sampai ke Tuban itu mereka. Sebab, di Karimunjawa sudah kurang. Mencari ikan tongkol juga begitu, ikan teri juga mulai hilang. Mulai kurang ketika tambak udang merajalela di Karimunjawa," jelas Zakariya.
Kata dia, masyarakat Kepulauan Karimunjawa saat ini sudah dalam posisi gamang. Ingin bergantung pada alam, tetapi saat ini sudah sangat susah memprediksinya.
"Gamangnya tadi ya sampai sekarang ini kita mau ke mana. Berpijak di aturan tidak jelas, mengharap ke alam sudah susah diramal dengan beberapa perubahan alam, angin yang tidak bisa diprediksi lagi. Akhirnya ya itu tadi, perlu banyak belajar dan banyak berkomunikasi dengan teman-teman luar untuk mau ke mana kita ke depan," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya