Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri

Kompas.com, 4 Maret 2026, 18:15 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters, Forbes

KOMPAS.com - Generasi Z (Gen Z) disebut paling khawatir akan dampak AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), menurut survei Randstad, salah satu agen perekrutan internasional.

Tidak hanya itu, Gen Z juga mengkhawatirkan kemampuan mereka dalam beradaptasi seiring semakin bergantungnya perusahaan terhadap chatbot AI dan otomatisasi.

Baca juga:

Sebaliknya, generasi sebelumnya yaitu Baby Boomer menunjukkan kepercayaan diri lebih besar dan menjadi yang paling tidak mengkhawatirkan dampak perkembangan adopsi AI, dilansir dari Reuters, Rabu (4/3/2026).

Gen Z disebut paling khawatir dampak AI

Antusias dengan AI, tapi skeptis dengan keinginan perusahaan

Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.Dok. Freepik/Lifestylememory Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.

Laporan Workmonitor tahunan Randstad menyebut, lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan "agen AI" telah melonjak sebesar 1.587 persen.

Berdasarkan survei Randstad, AI dan otomatisasi semakin menggantikan peran transaksional dengan kompleksitas rendah. Empat dari lima pekerja percaya bahwa AI akan mempengaruhi tugas harian mereka di tempat kerja.

Randstad melakukan survei terhadap 27.000 pekerja dan 1.225 pemberi kerja, serta mencakup lebih dari tiga juta lowongan pekerjaan di 35 pasar untuk laporan ini.

Saat ini, pasar tenaga kerja berada di bawah tekanan yang sangat besar. Sejumlah perusahaan di seluruh dunia meningkatkan PHK seiring dengan memburuknya sentimen konsumen.

Perang dagang Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan langkah-langkah kebijakan luar negeri yang agresif telah menghancurkan tatanan dunia berbasis aturan.

Perusahaan teknologi yang berfokus pada AI telah mulai mengganti pekerjaan dengan otomatisasi.

Bahkan, kondisi itu terjadi ketika sebagian besar perusahaan masih menunggu pengembalian nyata dari ledakan investasi luar biasa ke dalam AI yang akan membentuk dunia bisnis selama bertahun-tahun mendatang.

"Yang umumnya kami lihat di kalangan karyawan adalah mereka antusias dengan AI... tetapi mereka mungkin juga skeptis dalam artian bahwa perusahaan menginginkan apa yang selalu diinginkan perusahaan: Mereka ingin menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi," ujar CEO Randstad, Sander van 't Noordende.

Hampir separuh pekerja yang diwawancarai khawatir teknologi AI lebih menguntungkan perusahaan daripada angkatan kerja.

Di sisi lain, terdapat pula perbedaan pandangan antara pengusaha dan pekerja mengenai kinerja bisnis. Sebesar 95 persen pengusaha yang disurvei memperkirakan pertumbuhan untuk tahun ini.

Sementara itu, hanya 51 persen karyawan yang memiliki optimisme yang sama, menurut laporan tersebut.

Baca juga:

Super-agency AI

Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.Akamai Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.

Sebelumnya, dilansir dari Forbes.com, adopsi AI di perusahaan telah melampaui tahap eksperimen dan ketertarikan awal. 

Saat ini, adopsi AI telah berkembang menuju fase penggunaan, yang menuntut tim untuk mengimplentasikannya demi keunggulan perusahaan.

McKinsey merilis laporan pada 2025 tentang super-agency AI yang dicetuskan oleh Reid Hoffman, salah satu pendiri LinkedIn.

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika AI secara efektif diterapkan untuk melipatgandakan dampak dan terintegrasi secara efektif ke dalam setiap bagian pekerjaan.

Super-agency AI terjadi ketika individu, yang diberdayakan oleh AI, meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan dampak positif mereka secara luar biasa. Jadi, mereka yang tidak terlibat langsung dengan AI pun dapat memperoleh manfaat dari efeknya yang lebih luas terhadap pengetahuan, efisiensi, dan inovasi.

Kendati potensi AI sangat signifikan, laporan McKinsey mencatat bahwa sebagian besar pemimpin senior tidak menyadarinya atau bergerak terlalu lambat dan berisiko tertinggal sama sekali.

Ke depannya, akan ada kelompok pekerja tertentu yang muncul sebagai pengguna AI yang handal.

Kelas pengguna super-agency ini akan secara fundamental membentuk seberapa efektif perusahaan dalam tetap unggul dalam adopsi AI.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
PT Elnusa Sebut Pangkas 3.079 Ton CO2 dan Kurangi 178.606 Sampah Plastik
BUMN
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal
LSM/Figur
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI
LSM/Figur
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah Bakal Bangun 5 PSEL Juni 2026, Olah 7.000 Ton Limbah Jadi Listrik
Pemerintah
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Kelola Sampah untuk Abdi Dalem
Pemerintah
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas
Pemerintah
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Swasta
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
Ini Kendala RI Jadi Pemimpin Bursa Karbon ASEAN Permenhut 6/2026 Dinilai Bisa Dorong Investasi Hijau dan Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Karbon ASEAN
LSM/Figur
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
Transisi Energi Industri dan Kendaraan Pangkas 40 Persen Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI
Swasta
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
Bisnis Global Tetap Fokus pada Isu Iklim, Tapi Ubah Pesan Keberlanjutannya
LSM/Figur
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
Studi: Rumput Berakar Dalam Lebih Efektif Simpan Karbon dan Jaga Kesehatan Tanah
LSM/Figur
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Memasuki Musim Kemarau, Titik Panas Karhutla Naik 3 Kali Lipat
Pemerintah
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Swasta
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
Tularkan Semangat Kartini, Srikandi Movement PLN Berdayakan 40.000 Jiwa di 140 Lokasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau