KOMPAS.com - Generasi Z (Gen Z) disebut paling khawatir akan dampak AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), menurut survei Randstad, salah satu agen perekrutan internasional.
Tidak hanya itu, Gen Z juga mengkhawatirkan kemampuan mereka dalam beradaptasi seiring semakin bergantungnya perusahaan terhadap chatbot AI dan otomatisasi.
Baca juga:
Sebaliknya, generasi sebelumnya yaitu Baby Boomer menunjukkan kepercayaan diri lebih besar dan menjadi yang paling tidak mengkhawatirkan dampak perkembangan adopsi AI, dilansir dari Reuters, Rabu (4/3/2026).
Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.Laporan Workmonitor tahunan Randstad menyebut, lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan "agen AI" telah melonjak sebesar 1.587 persen.
Berdasarkan survei Randstad, AI dan otomatisasi semakin menggantikan peran transaksional dengan kompleksitas rendah. Empat dari lima pekerja percaya bahwa AI akan mempengaruhi tugas harian mereka di tempat kerja.
Randstad melakukan survei terhadap 27.000 pekerja dan 1.225 pemberi kerja, serta mencakup lebih dari tiga juta lowongan pekerjaan di 35 pasar untuk laporan ini.
Saat ini, pasar tenaga kerja berada di bawah tekanan yang sangat besar. Sejumlah perusahaan di seluruh dunia meningkatkan PHK seiring dengan memburuknya sentimen konsumen.
Perang dagang Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan langkah-langkah kebijakan luar negeri yang agresif telah menghancurkan tatanan dunia berbasis aturan.
Perusahaan teknologi yang berfokus pada AI telah mulai mengganti pekerjaan dengan otomatisasi.
Bahkan, kondisi itu terjadi ketika sebagian besar perusahaan masih menunggu pengembalian nyata dari ledakan investasi luar biasa ke dalam AI yang akan membentuk dunia bisnis selama bertahun-tahun mendatang.
"Yang umumnya kami lihat di kalangan karyawan adalah mereka antusias dengan AI... tetapi mereka mungkin juga skeptis dalam artian bahwa perusahaan menginginkan apa yang selalu diinginkan perusahaan: Mereka ingin menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi," ujar CEO Randstad, Sander van 't Noordende.
Hampir separuh pekerja yang diwawancarai khawatir teknologi AI lebih menguntungkan perusahaan daripada angkatan kerja.
Di sisi lain, terdapat pula perbedaan pandangan antara pengusaha dan pekerja mengenai kinerja bisnis. Sebesar 95 persen pengusaha yang disurvei memperkirakan pertumbuhan untuk tahun ini.
Sementara itu, hanya 51 persen karyawan yang memiliki optimisme yang sama, menurut laporan tersebut.
Baca juga:
Survei menunjukkan Gen Z paling khawatir dampak AI dan otomatisasi di tempat kerja, sedangkan Baby Boomer lebih percaya diri hadapi perubahan.Sebelumnya, dilansir dari Forbes.com, adopsi AI di perusahaan telah melampaui tahap eksperimen dan ketertarikan awal.
Saat ini, adopsi AI telah berkembang menuju fase penggunaan, yang menuntut tim untuk mengimplentasikannya demi keunggulan perusahaan.
McKinsey merilis laporan pada 2025 tentang super-agency AI yang dicetuskan oleh Reid Hoffman, salah satu pendiri LinkedIn.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika AI secara efektif diterapkan untuk melipatgandakan dampak dan terintegrasi secara efektif ke dalam setiap bagian pekerjaan.
Super-agency AI terjadi ketika individu, yang diberdayakan oleh AI, meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan dampak positif mereka secara luar biasa. Jadi, mereka yang tidak terlibat langsung dengan AI pun dapat memperoleh manfaat dari efeknya yang lebih luas terhadap pengetahuan, efisiensi, dan inovasi.
Kendati potensi AI sangat signifikan, laporan McKinsey mencatat bahwa sebagian besar pemimpin senior tidak menyadarinya atau bergerak terlalu lambat dan berisiko tertinggal sama sekali.
Ke depannya, akan ada kelompok pekerja tertentu yang muncul sebagai pengguna AI yang handal.
Kelas pengguna super-agency ini akan secara fundamental membentuk seberapa efektif perusahaan dalam tetap unggul dalam adopsi AI.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya