KOMPAS.com - Survei mengenai greenwashing terhadap lebih dari 3.500 perusahaan yang memiliki komitmen iklim menemukan, 96 persen dari sampel tersebut gagal memenuhi setidaknya satu indikator risiko.
Indikator risiko merupakan kriteria tertentu yang digunakan untuk mendeteksi apakah sebuah perusahaan hanya berpura-pura peduli lingkungan atau benar-benar jujur.
Baca juga:
Studi ini menggambarkan potret suram mengenai janji-janji iklim perusahaan, dan muncul setelah serangkaian kekalahan hukum bagi perusahaan-perusahaan yang dituduh melakukan greenwashing, dilansir dari Trellis, Senin (9/3/2026).
Namun, studi ini juga menawarkan beberapa solusi yang relatif mudah dilakukan.
“Kami tidak ingin ini menjadi sekadar upaya untuk menyalahkan perusahaan atas kesalahan yang mereka lakukan,” ujar Elizabeth Brown, mahasiswa Ph.D. di Data-Driven EnviroLab, University of North Carolina, sekaligus salah satu penulis studi.
"Ini justru semacam ajakan untuk menunjukkan bahwa sebenarnya mudah bagi perusahaan untuk membuktikan kredibilitas yang lebih baik," katanya.
Secara sederhana greenwashing merupakan strategi pemasaran atau pencitraan palsu agar sebuah perusahaan terlihat ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak demikian.
Kendati demikian, peneliti menggunakan sumber-sumber standar industri untuk mendefinisikan greenwashing, termasuk kriteria kredibilitas yang disusun oleh kampanye Race to Zero yang didukung PBB.
Ada tujuh indikator yang bisa menjadi penanda praktik tersebut, antara lain sebagai berikut:
Menggunakan data mengenai komitmen dan emisi perusahaan yang dikumpulkan oleh tiga inisiatif nirlaba yakni CDP, Net Zero Tracker, dan InfluenceMap para peneliti kemudian memberikan nilai kepada 3.574 perusahaan yang telah membuat semacam janji atau komitmen iklim.
Baca juga:
Sebanyak 96 persen sampel perusahaan yang disurvei gagal memenuhi setidaknya satu indikator risiko tentang greenwashing. Apa sebabnya?Hasil analisis kemudian menyimpulkan masalah perusahaan yang paling parah terkait dengan greenwashing adalah soal emisi Scope 3.
Sebanyak 70 persen perusahaan mengabaikan polusi yang dihasilkan oleh pemasok atau penggunaan produk mereka, padahal justru di situlah sumber polusi terbesarnya.
Masalah lainnya mencakup penggunaan skema kompensasi karbon yang meragukan sebanyak 40 persen, misalnya asal klaim sudah tanam pohon tapi tidak ada buktinya.
Selain itu, tidak adanya target jangka menengah perusahaan (21 persen), dan kurangnya kemajuan yang berarti dalam mencapai target perusahaan (20 persen).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya