KOMPAS.com - Pernah bertanya ke mana sampah puntung rokok berakhir? Setiap tahunnya, triliunan puntung rokok dibuang sembarangan, termasuk di pinggir jalan dan pantai.
Meski berukuran kecil, puntung rokok menyebabkan polusi. Sebab, sebagian besar filternya terbuat dari selulosa asetat, polimer plastik dari selulosa alami yang diproduksi sebagai serat mikroskopis tersusun rapat dan sangat tahan terhadap degradasi lingkungan.
Baca juga:
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution melacak "perjalanan" sampah puntung rokok selama 10 tahun, dilansir dari Phys.org, Rabu (18/3/2026).
Puntung rokok mengalami serangkaian perubahan fisik, kimia, dan biologis yang kompleks, meski tidak sepenuhnya menghilang. Sebaliknya, puntung rokok perlahan berubah dan bertahan di tanah sebagai residu mirip mikroplastik.
Temuan dari studi menawarkan salah satu gambaran paling komprehensif hingga saat ini tentang nasib lingkungan yang terpapar filter rokok dan menyoroti sifat jangka panjang dari jenis polusi ini.
Studi 10 tahun menunjukkan, sampah puntung rokok tidak hancur sepenuhnya, tapi berpotensi berubah jadi mikroplastik.Mayoritas riset tentang sampah puntung rokok berfokus pada efek jangka pendek. Biasanya, riset mempelajari puntung rokok yang baru saja dibuang atau cairan yang larut darinya selama beberapa hari.
Namun, sedikit diketahui tentang apa yang terjadi pada filter rokok dalam jangka panjang di kondisi lingkungan nyata.
Para peneliti menempatkan ribuan puntung rokok di dalam kantong sampah jaring. Mereka mengamat bagaimana filter rokok terurai selama satu dekade di lingkungan yang mewakili permukaan perkotaan, tanah berpasir, dan tanah padang rumput kaya nutrisi.
Melalui sampel pada beberapa interval waktu selama 10 tahun, terungkap bagaimana puntung rokok berubah dari waktu ke waktu dalam hal kehilangan massa, komposisi kimia, kolonisasi mikroba, hingga toksisitas ekologisnya.
Ternyata, filter rokok terdegradasi melalui proses multi-tahap yang umumnya diatur oleh kondisi lingkungan, terutama erat kaitannya dengan ketersediaan nutrisi dan aktivitas mikroba.
Mulanya, dekomposisi terjadi relatif cepat. Selama beberapa minggu pertama, puntung rokok kehilangan sebagian massanya karena senyawa terlarut dan lapisan luarnya mulai hancur.
Namun, tahap awal ini diikuti oleh periode degradasi yang sangat lambat dalam jangka waktu lama. Alasan utamanya terletak pada struktur filter itu sendiri.
Serat selulosa asetat dimodifikasi secara kimia untuk meningkatkan daya tahan dan kapasitas penyaringannya, yang membuatnya tahan terhadap serangan mikroba.
Di lingkungan dengan sedikit aktivitas biologis, seperti perkotaan atau area substrat yang miskin nutrisi lainnya, proses degradasi segera stagnan. Dalam kondisi ini, bahkan setelah 10 tahun, serat filter sebagian besar tetap utuh.
Dalam kondisi yang lebih menguntungkan, seperti tanah kaya akan bahan organik dan komunitas mikroba, dekomposisi berlangsung semakin luas. Di lingkungan ini, mikroorganisme dapat mengkolonisasi bahan penyaring dan secara bertahap mengubah strukturnya.
Baca juga:
Studi 10 tahun menunjukkan, sampah puntung rokok tidak hancur sepenuhnya, tapi berpotensi berubah jadi mikroplastik.Setelah 10 tahun, kehilangan massa maksimum yang diamati mencapai sekitar 84 persen, menunjukkan bahwa sebagian besar material asli masih ada di dalam tanah.
Namun, di lingkungan yang menyerupai perkotaan, degradasi hanya mencapai sekitar 52 persen, menyisakan hampir setengah dari material penyaring itu.
Di sisi lain, dalam kondisi tanah yang menguntungkan, serat selulosa asetat asli secara bertahap kehilangan strukturnya dan menyatu ke dalam matriks tanah di sekitarnya.
Seiring waktu, filter rokok membentuk agregat mikroskopis padat terdiri dari serat yang terdegradasi, residu mikroba, dan partikel mineral.
Berdasarkan pengamatan dengan mikroskop elektrik, temuan struktur bulat tampaknya mewakili perubahan serat filter rokok yang belum pernah dilaporkan sebelumnya selama degradasi lingkungan jangka panjang.
Proses degradasi tersebut memang mengurangi visibilitas sampah puntung rokok. Namun, hal itu tidak menghilangkan material itu sepenuhnya.
Sebaliknya, hal ini kemungkinan menjadi jalur baru bagi partikel-partikel yang berasal dari plastik untuk tetap bertahan di ekosistem darat.
Perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa filter rokok berkontribusi pada pembentukan mikroplastik sekunder di lingkungan tanah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya